FITNESS & HEALTH
Orang Tua Perlu Tahu, Ini Faktor Penentu Tinggi Badan Anak
A. Firdaus
Jumat 17 April 2026 / 10:34
- Pertumbuhan tinggi badan anak kerap dianggap sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik.
- Tinggi badan anak dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor keturunan dan pola hidup sehari-hari.
- Tinggi badan anak memang dapat diprediksi berdasarkan tinggi orang tua melalui perhitungan tertentu.
Jakarta: Pertumbuhan tinggi badan anak kerap dianggap sepenuhnya ditentukan oleh faktor genetik. Padahal, ada banyak faktor lain yang berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang si kecil secara optimal.
Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, menjelaskan bahwa tinggi badan anak dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor keturunan dan pola hidup sehari-hari.
“Bukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek. Banyak faktor lain seperti makanan, kesehatan, vaksinasi, dan lingkungan,” ujar Prof. Jose melansir Antara.
Menurut dia, kecukupan nutrisi menjadi fondasi utama dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan anak. Asupan kalori yang cukup, protein, terutama dari sumber hewani, serta kalsium dan vitamin D sangat dibutuhkan untuk pembentukan tulang yang optimal.
Susu, lanjut Prof. Jose, merupakan salah satu sumber kalsium yang penting. Sementara vitamin D berperan membantu penyerapan kalsium dalam tubuh.
Selain nutrisi, kualitas tidur juga memiliki peran besar. Hormon pertumbuhan diketahui diproduksi secara maksimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.
“Anak butuh tidur minimal delapan jam. Saat deep sleep, hormon pertumbuhan keluar maksimal,” jelasnya.
Aktivitas fisik yang rutin juga tidak kalah penting. Olahraga seperti berenang, berlari, atau permainan aktif dapat merangsang produksi hormon pertumbuhan, sekaligus menjaga kebugaran tubuh anak.
Prof. Jose juga mengingatkan orang tua untuk tidak hanya berfokus pada berat badan anak. Keseimbangan antara berat dan tinggi badan perlu diperhatikan, salah satunya melalui pemantauan indeks massa tubuh (IMT).
Ia menambahkan, pola makan yang tidak seimbang, misalnya konsumsi karbohidrat berlebih tanpa diimbangi protein, dapat menyebabkan anak mengalami obesitas tanpa pertumbuhan tinggi yang optimal.
“Kalau kalorinya kebanyakan dari karbohidrat, anak bisa gemuk tapi tidak bertambah tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, tinggi badan anak memang dapat diprediksi berdasarkan tinggi orang tua melalui perhitungan tertentu. Namun, hasil tersebut tetap dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor selama masa pertumbuhan.
Dengan memperhatikan asupan nutrisi, kualitas tidur, serta aktivitas fisik anak, orang tua dapat membantu mengoptimalkan potensi tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D, menjelaskan bahwa tinggi badan anak dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor keturunan dan pola hidup sehari-hari.
“Bukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek. Banyak faktor lain seperti makanan, kesehatan, vaksinasi, dan lingkungan,” ujar Prof. Jose melansir Antara.
Menurut dia, kecukupan nutrisi menjadi fondasi utama dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan anak. Asupan kalori yang cukup, protein, terutama dari sumber hewani, serta kalsium dan vitamin D sangat dibutuhkan untuk pembentukan tulang yang optimal.
Susu, lanjut Prof. Jose, merupakan salah satu sumber kalsium yang penting. Sementara vitamin D berperan membantu penyerapan kalsium dalam tubuh.
Selain nutrisi, kualitas tidur juga memiliki peran besar. Hormon pertumbuhan diketahui diproduksi secara maksimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.
“Anak butuh tidur minimal delapan jam. Saat deep sleep, hormon pertumbuhan keluar maksimal,” jelasnya.
Aktivitas fisik yang rutin juga tidak kalah penting. Olahraga seperti berenang, berlari, atau permainan aktif dapat merangsang produksi hormon pertumbuhan, sekaligus menjaga kebugaran tubuh anak.
Prof. Jose juga mengingatkan orang tua untuk tidak hanya berfokus pada berat badan anak. Keseimbangan antara berat dan tinggi badan perlu diperhatikan, salah satunya melalui pemantauan indeks massa tubuh (IMT).
Ia menambahkan, pola makan yang tidak seimbang, misalnya konsumsi karbohidrat berlebih tanpa diimbangi protein, dapat menyebabkan anak mengalami obesitas tanpa pertumbuhan tinggi yang optimal.
“Kalau kalorinya kebanyakan dari karbohidrat, anak bisa gemuk tapi tidak bertambah tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, tinggi badan anak memang dapat diprediksi berdasarkan tinggi orang tua melalui perhitungan tertentu. Namun, hasil tersebut tetap dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor selama masa pertumbuhan.
Dengan memperhatikan asupan nutrisi, kualitas tidur, serta aktivitas fisik anak, orang tua dapat membantu mengoptimalkan potensi tumbuh kembang si kecil secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)