FAMILY

Anak Tantrum saat Gadget Diambil, Orang Tua Harus Apa? Ini Penjelasan Psikolog

Fatha Annisa
Selasa 31 Maret 2026 / 16:43
Ringkasnya gini..
  • Kebiasaan anak bermain gadget dalam waktu lama tanpa disadari bisa membentuk pola ketergantungan.
  • Ketergantungan tersebut yang menyebabkan anak tantrum saat orang tua melarangnya bermain gadget.
  • Orang tua bisa menyikapinya dengan memberikan aktivitas pengganti dan bersikap konsisten.
Jakarta: Kebiasaan anak bermain gadget dalam waktu lama, seperti gim populer Roblox, tanpa disadari bisa membentuk pola ketergantungan. Psikolog anak mengungkapkan bagaimana orang tua harus menyikapi kondisi tersebut.
 
Psikolog Jovita Ferliana menjelaskan ketika anak terlalu sering bermain, otaknya mulai mengasosiasikan gim sebagai sumber utama kesenangan. Akibatnya, saat gadget diambil, anak merasa kehilangan “sumber bahagia” sehingga tantrum.
 
“Nggak mungkin nggak tantrum karena dia merasa bahwa ini (gim atau gadget) adalah sumber kebahagiaannya, ini sumber kesenangannya, tapi kenapa diambil? Istilahnya kayak gitu,” ujar Jovita saat ditemui di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.
 
Baca juga: Setop Panik Pas Liat Anak Duduk Posisi 'W', Ini Penjelasan Medis yang Bikin Kamu Tenang

 
Menurutnya, tantrum bukan sekadar bentuk manja, tetapi respons alami ketika anak kehilangan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Oleh karena itu, orang tua diingatkan untuk tidak langsung menyerah saat menghadapi situasi ini.
 
Jovita menekankan bahwa konsistensi menjadi kunci utama untuk menghadapi anak yang tantrum. Jika orang tua luluh setiap kali anak menangis atau marah saat dipisahkan dengan gadgetnya, anak justru akan belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
 
“Sekali kita tarik, jangan karena dia merengek tantrum terus kita kasih. Nanti lain kali anak akan belajar bahwa oh caranya aku mau sesuatu kayak gini aja lah. Jadi jangan termakan sama itu. Tetap konsisten,” kata Jovita.

 
Baca juga: Bocil Udah Siap Masuk TK Belum? Cek di Sini Panduan Usia & Kesiapannya
 

Berikan Aktivitas Pengganti 

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan? Jovita menjelaskan pentingnya konsep replacement atau penggantian. Artinya, gadget tidak sekadar dilarang, tetapi harus diganti dengan aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan tetap menyenangkan.
 
“Ganti si Roblox ini dengan permainan yang lain. Permainan yang tentunya bisa lebih menghasilkan dan bermanfaat daripada Roblox,” jelasnya.
 
Jika sebelumnya gadget menjadi “pengasuh instan”, kata Jovita, kini peran tersebut harus diambil alih oleh orang tua atau orang dewasa di sekitar anak. Aktivitas pengganti bisa disesuaikan dengan usia dan minat anak.
 
Untuk anak usia sekolah dasar hingga remaja, permainan yang melibatkan kompetisi dan interaksi sosial seperti olahraga bisa menjadi pilihan. Misalnya bermain basket, sepak bola, bulu tangkis, atau aktivitas fisik lain yang menantang dan menyenangkan.
 
Sementara untuk anak yang lebih kecil, orang tua bisa menghadirkan permainan sederhana di rumah yang tetap menstimulasi perkembangan. Mulai dari permainan motorik, sensorik, hingga aktivitas kreatif yang melibatkan gerak dan eksplorasi.
 
“Anak tantrum itu biasa 2 minggu. Kalau tiba-tiba ditarikin Roblox-nya, bertahan aja gak usah dikasih selama 2 minggu, tapi diganti. Akan menjadi gak fair buat anak kalau kebahagiannya tiba-tiba ditarik dan tidak ada penggantinya,” pungkas Jovita.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(PRI)

MOST SEARCH