FAMILY
Ngerasa Terlalu Sensitif ke Anak? Setop 'Eggshell Parenting', Let's Go Zen!
Yatin Suleha
Rabu 29 April 2026 / 10:58
- “Eggshell parenting” adalah pola asuh yang membuat anak merasa harus selalu berhati-hati, karena respons orang tua sulit ditebak.
- Suasana hati yang naik-turun atau reaksi yang kurang stabil tanpa sengaja bisa bikin anak merasa bingung dan cemas.
- Ada beberapa langkah sederhana untuk mendukung hubungan nyaman dengan anak.
Jakarta: “Eggshell parenting” adalah pola asuh yang membuat anak merasa harus selalu berhati-hati, karena respons orang tua sulit ditebak.
Suasana hati yang naik-turun atau reaksi yang kurang stabil tanpa sengaja bisa bikin anak merasa bingung dan cemas. Mereka jadi sering 'jinjit-jinjit' karena takut salah langkah dan sibuk menebak-nebak perasaan kita.
Tapi tenang, kalau kamu mulai menyadari sifat sensitif ini, itu sebenarnya sinyal positif. Itu artinya kamu punya niat tulus untuk berproses dan membangun hubungan yang lebih nyaman dan stabil bareng si kecil.
Dilansir dari BabyCenter, menurut Toya Roberson-Moore, M.D., psikiater dan direktur medis di Pathlight Mood & Anxiety Center, ada beberapa langkah sederhana namun efektif, yang bisa membantu menciptakan suasana, yang lebih aman dan mendukung bagi anak.
.jpg)
(Eggshell parenting adalah gaya asuh di mana orang tua memiliki suasana hati labil, emosi tidak konsisten, atau meledak-ledak. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Akui perasaan dan pengalaman anak, tetapi tetap berikan batasan yang jelas untuk menjaga keamanan. Cobalah ajukan pertanyaan terbuka dan hindari langsung menghakimi, atau memberi label pada perilaku anak.
Misalnya, bisa menggunakan kalimat seperti, “Aku mengerti kamu frustrasi. Pasti sangat sulit bagimu melihat kakakmu bisa pergi ke rumah temannya, sementara kamu tidak bisa. Aku juga akan kesal.”
Berikan dukungan secara nyata, baik secara emosional maupun praktis. Arahkan anak untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih aman, bantu mencari solusi, dan tetap tegakkan batasan.
Dalam situasi yang sama, bisa dikatakan, “Meskipun kamu frustrasi karena adikmu, kamu tidak boleh melempar mainanmu ke kepala kakakmu. Ini beberapa cara lain, yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan rasa frustrasimu.”
Memasuki usia 6 tahun, anak-anak mulai sibuk menyusun pandangan mereka tentang diri sendiri dan dunia. Inilah momen emas kita untuk membantu mereka membangun pola pikir yang sehat sebagai 'bekal' mental mereka di masa depan.
Satu hal kecil yang dampaknya besar: cobalah untuk meminimalkan teriakan. Alih-alih berteriak dari jauh, coba deh mendekat, berlutut supaya sejajar dengan mereka, dan bicara dengan nada lembut.
Komunikasi mata-ke-mata seperti ini jauh lebih personal, bikin anak merasa benar-benar dihargai, dan membantu mereka jadi lebih tenang saat emosinya lagi campur aduk.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Suasana hati yang naik-turun atau reaksi yang kurang stabil tanpa sengaja bisa bikin anak merasa bingung dan cemas. Mereka jadi sering 'jinjit-jinjit' karena takut salah langkah dan sibuk menebak-nebak perasaan kita.
Tapi tenang, kalau kamu mulai menyadari sifat sensitif ini, itu sebenarnya sinyal positif. Itu artinya kamu punya niat tulus untuk berproses dan membangun hubungan yang lebih nyaman dan stabil bareng si kecil.
Dilansir dari BabyCenter, menurut Toya Roberson-Moore, M.D., psikiater dan direktur medis di Pathlight Mood & Anxiety Center, ada beberapa langkah sederhana namun efektif, yang bisa membantu menciptakan suasana, yang lebih aman dan mendukung bagi anak.
Langkah 1
.jpg)
(Eggshell parenting adalah gaya asuh di mana orang tua memiliki suasana hati labil, emosi tidak konsisten, atau meledak-ledak. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Akui perasaan dan pengalaman anak, tetapi tetap berikan batasan yang jelas untuk menjaga keamanan. Cobalah ajukan pertanyaan terbuka dan hindari langsung menghakimi, atau memberi label pada perilaku anak.
Misalnya, bisa menggunakan kalimat seperti, “Aku mengerti kamu frustrasi. Pasti sangat sulit bagimu melihat kakakmu bisa pergi ke rumah temannya, sementara kamu tidak bisa. Aku juga akan kesal.”
Langkah 2
Berikan dukungan secara nyata, baik secara emosional maupun praktis. Arahkan anak untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih aman, bantu mencari solusi, dan tetap tegakkan batasan.
Dalam situasi yang sama, bisa dikatakan, “Meskipun kamu frustrasi karena adikmu, kamu tidak boleh melempar mainanmu ke kepala kakakmu. Ini beberapa cara lain, yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan rasa frustrasimu.”
Memasuki usia 6 tahun, anak-anak mulai sibuk menyusun pandangan mereka tentang diri sendiri dan dunia. Inilah momen emas kita untuk membantu mereka membangun pola pikir yang sehat sebagai 'bekal' mental mereka di masa depan.
Satu hal kecil yang dampaknya besar: cobalah untuk meminimalkan teriakan. Alih-alih berteriak dari jauh, coba deh mendekat, berlutut supaya sejajar dengan mereka, dan bicara dengan nada lembut.
Komunikasi mata-ke-mata seperti ini jauh lebih personal, bikin anak merasa benar-benar dihargai, dan membantu mereka jadi lebih tenang saat emosinya lagi campur aduk.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)