FAMILY

Dari Ruang Kelas ke Makna Emansipasi, Cara Trehaus School Jakarta Tanamkan Semangat Kartini Sejak Dini

A. Firdaus
Selasa 21 April 2026 / 09:10
Ringkasnya gini..
  • Bagaimana semangat emansipasi itu benar-benar hidup dalam keseharian, bahkan sejak anak-anak masih sangat kecil?
  • Kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan bukan sekadar posisi.
  • Harumi melihat emansipasi justru perlu hadir dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan keseharian anak.
Jakarta: Setiap 21 April, nama R.A. Kartini kembali digaungkan. Namun di tengah peringatan yang kerap dipenuhi seremoni, ada pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana semangat emansipasi itu benar-benar hidup dalam keseharian, bahkan sejak anak-anak masih sangat kecil?

Di sebuah ruang kelas yang dipenuhi tawa dan rasa ingin tahu, jawaban itu perlahan dibentuk.

Bagi Harumi Aishah Prijono, kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan bukan sekadar posisi, melainkan peran yang membentuk fondasi karakter generasi masa depan. Terutama di usia dini, ketika anak mulai memahami dunia, peran ini menjadi krusial.

“Perempuan membawa empati, kepekaan, dan keteladanan. Itu penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif,” ujar Harumi.
 

Emansipasi Dimulai dari Hal Sederhana


Di tengah diskursus besar tentang kesetaraan, Harumi melihat emansipasi justru perlu hadir dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan keseharian anak.

Memberi anak ruang untuk berbicara. Membiarkan mereka memilih. Mendengarkan tanpa menghakimi.

Hal-hal kecil ini, menurutnya, menjadi fondasi penting agar anak tumbuh tanpa batasan stereotip gender.


Menurut Harumi, kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan bukan sekadar posisi. Dok. Ist

Di Trehaus School Jakarta, pendekatan ini diterapkan melalui sistem pembelajaran berbasis permainan (play-based learning) yang berpusat pada anak. Di sini, anak laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin, bereksplorasi, hingga menyelesaikan masalah.

Tidak ada label “ini untuk anak laki-laki” atau “itu untuk anak perempuan”.

Yang ada, hanya ruang untuk mencoba.
 

Mengikis stereotip sejak dini


Dalam praktiknya, menghapus stereotip bukan perkara instan. Anak datang ke sekolah membawa perspektif dari lingkungan luar, keluarga, media, hingga budaya sekitar.

Alih-alih langsung melarang, para pendidik di Trehaus memilih pendekatan reflektif.

Mereka mengajak anak berdialog, memperkenalkan sudut pandang baru, dan membantu mereka memahami bahwa setiap orang memiliki pilihan yang setara.

“Pendekatan seperti ini lebih efektif, karena anak benar-benar memahami, bukan sekadar mengikuti aturan,” kata Harumi.

Bahasa pun menjadi alat penting. Cara guru berbicara, memberi kesempatan, hingga mengelola diskusi di kelas, semuanya membentuk cara anak melihat dunia, apakah setara atau penuh batasan.
 

Representasi yang mengubah cara pandang


Di balik semua pendekatan tersebut, ada satu hal yang sering luput: representasi.

Bagi anak-anak, melihat perempuan memimpin dengan empati, ketegasan, dan visi bukan sekadar inspirasi, tetapi pembelajaran nyata.


Anak datang ke sekolah membawa perspektif dari lingkungan luar, keluarga, media, hingga budaya sekitar. Dok. Ist

Anak perempuan belajar bahwa mereka bisa bermimpi tanpa batas. Anak laki-laki belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu harus keras dan dominan.

“Ini penting untuk membentuk generasi yang saling menghormati dan mampu berkolaborasi,” ujar Harumi.
 

Sekolah sebagai ruang aman untuk bertumbuh


Lebih dari sekadar institusi pendidikan, sekolah menjadi ruang pertama di mana anak belajar tentang diri mereka sendiri dan orang lain.

Di Trehaus, nilai kesetaraan tidak hanya diajarkan dalam kurikulum, tetapi juga hidup dalam budaya sehari-hari, dari cara guru berinteraksi hingga aktivitas kelompok yang mendorong kerja sama.

Lingkungan yang aman secara emosional menjadi kunci. Dari sana, rasa percaya diri tumbuh. Anak berani mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, tanpa takut dihakimi.
 

Melanjutkan semangat Kartini


Bagi Harumi, semangat Kartini hari ini bukan lagi sekadar perjuangan untuk akses pendidikan, tetapi tentang bagaimana pendidikan itu sendiri membentuk manusia yang adil, kritis, dan inklusif.

Melalui komunitas pendidik yang ia inisiasi, ber.te.man, ia juga mendorong kolaborasi antar guru untuk terus mengembangkan praktik pendidikan yang lebih setara.

Ke depan, ia berharap sekolah tetap menjadi ruang yang adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan esensinya.

“Sekolah harus menjadi tempat di mana setiap anak merasa diberdayakan untuk mengejar mimpinya, tanpa dibatasi gender,” ujarnya.

Di sanalah, semangat Kartini menemukan bentuknya yang paling nyata, bukan dalam slogan, tetapi dalam cara anak-anak tumbuh, belajar, dan melihat dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH