FAMILY
Gadget di Tangan Anak Bukan Sekadar Mainan, Ini Risiko yang Diam-Diam Ikut Tumbuh
A. Firdaus
Jumat 05 Juni 2026 / 09:34
- Penggunaan smartphone dalam waktu lama diketahui berkaitan dengan menurunnya aktivitas fisik, kualitas tidur yang memburuk.
- Kepemilikan smartphone “menimbulkan tantangan unik, karena dapat memberikan akses tak terbatas kepada remaja ke dunia.
- Smartphone bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk atau harus langsung dilarang total.
Jakarta: Meski penelitian terbaru belum bisa memastikan, bahwa smartphone menjadi penyebab langsung munculnya masalah kesehatan pada remaja, banyak studi sebelumnya menunjukkan adanya hubungan, antara penggunaan gadget berlebihan dengan berbagai perubahan gaya hidup, yang kurang sehat.
Penggunaan smartphone dalam waktu lama diketahui berkaitan dengan menurunnya aktivitas fisik, kualitas tidur yang memburuk, hingga meningkatnya rasa isolasi sosial. Semua hal tersebut bisa berdampak pada kondisi mental dan fisik anak, terutama saat mereka masih berada di masa pertumbuhan yang sensitif.
Dilansir dari Parents, menurut para penulis studi AAP, kepemilikan smartphone “menimbulkan tantangan unik, karena dapat memberikan akses tak terbatas kepada remaja ke dunia, yang mungkin belum mereka siap hadapi, tanpa disiplin untuk mengelola penggunaan mereka sendiri secara efektif.”
Kemudahan akses smartphone, membuat anak dan remaja lebih mudah terpapar berbagai hal di internet setiap saat. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa perlahan menggantikan aktivitas penting lain, yang sebenarnya lebih baik untuk tumbuh kembang mereka.
Misalnya, anak lebih memilih rebahan sambil scrolling media sosial, dibanding bermain di luar rumah atau berolahraga. Tidak sedikit juga yang lebih sering menonton video pendek, dibanding menghabiskan waktu berbicara langsung bersama teman-temannya.
Akibatnya, waktu yang seharusnya dipakai untuk aktivitas fisik, interaksi sosial, atau istirahat malah habis di depan layar ponsel.
Penelitian tersebut bahkan menemukan, bahwa meskipun penggunaan smartphone pada remaja awal belum dianggap “bermasalah”, kebiasaan ini tetap bisa memicu dampak kesehatan secara tidak langsung.
Meski banyak orang tua mulai khawatir, para penulis studi menegaskan bahwa smartphone bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk atau harus langsung dilarang total. Sebaliknya, mereka menilai penggunaan smartphone membutuhkan “pengawasan yang terfokus.”
Artinya, ketika anak mulai memiliki smartphone sendiri, orang tua tetap perlu ikut terlibat dalam mengatur cara penggunaannya. Pengawasan aktif dan aturan yang jelas dinilai penting, agar anak tidak menggunakan gadget secara berlebihan.
Membuat batasan sejak awal dianggap dapat membantu mengurangi risiko, munculnya masalah kesehatan akibat penggunaan smartphone.
Mulai dari membatasi screen time, menentukan jam bebas gadget, sampai mengawasi aplikasi atau media sosial yang digunakan, bisa menjadi langkah sederhana, yang membantu anak memiliki kebiasaan digital yang lebih sehat.
Walau terasa melelahkan, para peneliti menilai pengawasan seperti ini penting dilakukan. Sebab, masalah kesehatan mental ringan yang muncul sejak usia muda, bisa berdampak panjang hingga masa dewasa jika terus dibiarkan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Penggunaan smartphone dalam waktu lama diketahui berkaitan dengan menurunnya aktivitas fisik, kualitas tidur yang memburuk, hingga meningkatnya rasa isolasi sosial. Semua hal tersebut bisa berdampak pada kondisi mental dan fisik anak, terutama saat mereka masih berada di masa pertumbuhan yang sensitif.
Dilansir dari Parents, menurut para penulis studi AAP, kepemilikan smartphone “menimbulkan tantangan unik, karena dapat memberikan akses tak terbatas kepada remaja ke dunia, yang mungkin belum mereka siap hadapi, tanpa disiplin untuk mengelola penggunaan mereka sendiri secara efektif.”
Akses tanpa batas bisa mengubah kebiasaan anak
Kemudahan akses smartphone, membuat anak dan remaja lebih mudah terpapar berbagai hal di internet setiap saat. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa perlahan menggantikan aktivitas penting lain, yang sebenarnya lebih baik untuk tumbuh kembang mereka.
Misalnya, anak lebih memilih rebahan sambil scrolling media sosial, dibanding bermain di luar rumah atau berolahraga. Tidak sedikit juga yang lebih sering menonton video pendek, dibanding menghabiskan waktu berbicara langsung bersama teman-temannya.
Akibatnya, waktu yang seharusnya dipakai untuk aktivitas fisik, interaksi sosial, atau istirahat malah habis di depan layar ponsel.
Penelitian tersebut bahkan menemukan, bahwa meskipun penggunaan smartphone pada remaja awal belum dianggap “bermasalah”, kebiasaan ini tetap bisa memicu dampak kesehatan secara tidak langsung.
Smartphone tidak harus dilarang total
Meski banyak orang tua mulai khawatir, para penulis studi menegaskan bahwa smartphone bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk atau harus langsung dilarang total. Sebaliknya, mereka menilai penggunaan smartphone membutuhkan “pengawasan yang terfokus.”
Artinya, ketika anak mulai memiliki smartphone sendiri, orang tua tetap perlu ikut terlibat dalam mengatur cara penggunaannya. Pengawasan aktif dan aturan yang jelas dinilai penting, agar anak tidak menggunakan gadget secara berlebihan.
Aturan penggunaan HP jadi hal penting
Membuat batasan sejak awal dianggap dapat membantu mengurangi risiko, munculnya masalah kesehatan akibat penggunaan smartphone.
Mulai dari membatasi screen time, menentukan jam bebas gadget, sampai mengawasi aplikasi atau media sosial yang digunakan, bisa menjadi langkah sederhana, yang membantu anak memiliki kebiasaan digital yang lebih sehat.
Walau terasa melelahkan, para peneliti menilai pengawasan seperti ini penting dilakukan. Sebab, masalah kesehatan mental ringan yang muncul sejak usia muda, bisa berdampak panjang hingga masa dewasa jika terus dibiarkan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)