FAMILY
Kemenkes Bikin Konsorsium 1.000 HPK, Biar 84 Juta Anak Indonesia Tumbuh Sehat
Yatin Suleha
Rabu 06 Mei 2026 / 07:05
- Biar Indonesia Emas 2045 enggak cuma jadi wacana, Kemenkes mulai gerak cepat nih buat jagain 84 juta anak kita.
- Lewat Konsorsium 1.000 HPK, fokusnya adalah memberikan perlindungan ekstra buat ibu dan bayi sejak awal banget.
- Intinya, pemerintah pengin setiap anak Indonesia punya start hidup yang maksimal tanpa drama kesehatan yang berat.
Jakarta: Biar Indonesia Emas 2045 enggak cuma jadi wacana, Kemenkes mulai gerak cepat nih buat jagain 84 juta anak kita. Lewat Konsorsium 1.000 HPK, fokusnya adalah memberikan perlindungan ekstra buat ibu dan bayi sejak awal banget.
Menkes RI Budi Gunadi Sadikin bahkan pasang target tinggi buat nurunin angka kematian ibu dan bayi secara drastis, sampai 10 kali lipat lebih rendah!
Intinya, pemerintah pengin setiap anak Indonesia punya start hidup yang maksimal tanpa drama kesehatan yang berat. "Target saya, dari 4.000 kematian ibu per tahun harus turun di bawah 400. Dari 30.000 kematian bayi per tahun," buka Menkes Budi saat peluncuran Konsorsium 1.000 HPK di Kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, akhir April lalu.
"Harus turun di bawah 3.000. Begitu pula angka stunting, harus turun di bawah 7 persen. Kita tidak bisa kerja biasa-biasa saja sementara ini berkaitan dengan nyawa dan masa depan anak-anak kita," katanya lagi.
Untuk mencapai target tersebut, Menkes Budi meminta agar seluruh intervensi dilakukan secara spesifik dan berbasis data.
Fokus utama pemerintah diarahkan pada pencegahan gangguan kehamilan dan persalinan, seperti penanganan tekanan darah tinggi pada ibu hamil (pre eklampsia) serta masalah pernapasan dan infeksi pada bayi baru lahir (sepsis).
Langkah konkret yang dilakukan mulai dari mewajibkan pemeriksaan kehamilan minimal 8 kali dan mendistribusikan 10.000 alat USG ke seluruh Puskesmas untuk deteksi dini.
Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk memproduksi suplemen multivitamin dan mineral (MMS) di dalam negeri guna mencukupi gizi ibu hamil.

(Konsorsium 1.000 HPK hadir untuk menyatukan langkah antara pemerintah, sektor swasta, akademisi. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Upaya penguatan layanan ini telah mulai diuji coba di 9 rumah sakit daerah serta 36 Puskesmas di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menambahkan bahwa Indonesia menunjukkan kemajuan dalam penanganan stunting dengan meningkatnya jumlah indikator kesehatan yang berhasil dicapai dari 3 poin pada 2024 menjadi 8 poin pada 2025.
Fokus pemerintah adalah memastikan bayi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga tumbuh dengan gemilang melalui pemantauan gizi dan stimulasi yang tepat.
Konsorsium 1.000 HPK hadir untuk menyatukan langkah antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga organisasi masyarakat yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.
Kerja sama ini diharapkan dapat menghilangkan tumpang tindih program melalui empat kelompok kerja yang memantau fase sebelum hamil hingga anak berusia dua tahun.
Dalam pelaksanaannya, Kemenkes menggandeng Rabu Biru Foundation sebagai sekretariat konsorsium.
Direktur Eksekutif Rabu Biru Foundation, Toro Sudarmadi, berkomitmen banget buat merapikan koordinasi antar tim. Tujuannya simpel: biar semua bantuan dari mitra itu beneran berasa manfaatnya di masyarakat.
Nantinya, ukuran sukses program ini cuma satu hal mendasar aja kok. Yaitu, apa bayi yang lahir besok—bahkan yang di pelosok desa sekalipun—beneran dapet layanan kesehatan dan gizi yang paling oke di 1.000 hari pertamanya atau enggak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Menkes RI Budi Gunadi Sadikin bahkan pasang target tinggi buat nurunin angka kematian ibu dan bayi secara drastis, sampai 10 kali lipat lebih rendah!
Intinya, pemerintah pengin setiap anak Indonesia punya start hidup yang maksimal tanpa drama kesehatan yang berat. "Target saya, dari 4.000 kematian ibu per tahun harus turun di bawah 400. Dari 30.000 kematian bayi per tahun," buka Menkes Budi saat peluncuran Konsorsium 1.000 HPK di Kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, akhir April lalu.
"Harus turun di bawah 3.000. Begitu pula angka stunting, harus turun di bawah 7 persen. Kita tidak bisa kerja biasa-biasa saja sementara ini berkaitan dengan nyawa dan masa depan anak-anak kita," katanya lagi.
Untuk mencapai target tersebut, Menkes Budi meminta agar seluruh intervensi dilakukan secara spesifik dan berbasis data.
Fokus utama pemerintah diarahkan pada pencegahan gangguan kehamilan dan persalinan, seperti penanganan tekanan darah tinggi pada ibu hamil (pre eklampsia) serta masalah pernapasan dan infeksi pada bayi baru lahir (sepsis).
Langkah konkret yang dilakukan mulai dari mewajibkan pemeriksaan kehamilan minimal 8 kali dan mendistribusikan 10.000 alat USG ke seluruh Puskesmas untuk deteksi dini.
Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan regulasi untuk memproduksi suplemen multivitamin dan mineral (MMS) di dalam negeri guna mencukupi gizi ibu hamil.

(Konsorsium 1.000 HPK hadir untuk menyatukan langkah antara pemerintah, sektor swasta, akademisi. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Upaya penguatan layanan ini telah mulai diuji coba di 9 rumah sakit daerah serta 36 Puskesmas di wilayah Bogor, Bandung, dan Garut.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menambahkan bahwa Indonesia menunjukkan kemajuan dalam penanganan stunting dengan meningkatnya jumlah indikator kesehatan yang berhasil dicapai dari 3 poin pada 2024 menjadi 8 poin pada 2025.
Fokus pemerintah adalah memastikan bayi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga tumbuh dengan gemilang melalui pemantauan gizi dan stimulasi yang tepat.
Konsorsium 1.000 HPK hadir untuk menyatukan langkah antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga organisasi masyarakat yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.
Kerja sama ini diharapkan dapat menghilangkan tumpang tindih program melalui empat kelompok kerja yang memantau fase sebelum hamil hingga anak berusia dua tahun.
Dalam pelaksanaannya, Kemenkes menggandeng Rabu Biru Foundation sebagai sekretariat konsorsium.
Direktur Eksekutif Rabu Biru Foundation, Toro Sudarmadi, berkomitmen banget buat merapikan koordinasi antar tim. Tujuannya simpel: biar semua bantuan dari mitra itu beneran berasa manfaatnya di masyarakat.
Nantinya, ukuran sukses program ini cuma satu hal mendasar aja kok. Yaitu, apa bayi yang lahir besok—bahkan yang di pelosok desa sekalipun—beneran dapet layanan kesehatan dan gizi yang paling oke di 1.000 hari pertamanya atau enggak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)