FAMILY
Pentingnya Menjaga Skin Barrier Bayi untuk Cegah Iritasi dan Infeksi
Elang Riki Yanuar
Rabu 22 Juli 2026 / 09:00
- Kulit bayi yang lebih tipis dan sensitif membuat orang tua perlu menjaga skin barrier sejak dini untuk mencegah iritasi dan infeksi.
- Ruam popok tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membuka jalan bagi infeksi bakteri dan jamur pada kulit bayi.
- Sebanyak 50 ribu ibu dan bayi menjadi sasaran edukasi kesehatan kulit melalui ratusan posyandu, puskesmas, dan rumah sakit.
Jakarta: Menjaga kesehatan kulit bayi sejak dini menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Kulit yang terlihat sehat bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi juga berperan sebagai lapisan pertahanan pertama tubuh terhadap berbagai gangguan dari lingkungan.
Kulit bayi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kulit orang dewasa. Lapisan pelindung alami kulit atau skin barrier pada bayi masih berada dalam tahap perkembangan sehingga membutuhkan perhatian khusus dari orang tua.
Berdasarkan kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Allergy, Asthma & Immunology Research pada 2025, lapisan pelindung kulit bayi lebih tipis dan belum matang sempurna. Kondisi tersebut membuat kulit bayi lebih rentan mengalami iritasi dibandingkan orang dewasa.
Salah satu bagian yang membutuhkan perhatian lebih adalah area yang tertutup popok. Kelembapan, paparan urine dan feses, serta gesekan yang terjadi berulang kali dapat meningkatkan risiko iritasi dan munculnya ruam pada kulit bayi.
Dokter Spesialis Anak, dr. Damar Prasetya, Sp.A., M.Sc., M.Psi.T., menjelaskan bahwa kondisi skin barrier yang terganggu dapat berdampak lebih luas terhadap kesehatan anak. Kulit yang mengalami iritasi juga berpotensi menjadi pintu masuk bagi bakteri maupun jamur.
“Rusaknya skin barrier dan kondisi ruam popok dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara optimal karena kulit yang iritasi berpotensi menjadi sarana masuknya infeksi bakteri maupun jamur. Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah memilih popok yang tepat agar kulit tetap kering dan terlindungi, sehingga anak dapat beraktivitas dengan nyaman dan bebas dari risiko ruam,” ujarnya.
Karena itu, menjaga kulit bayi tetap bersih dan kering menjadi kebiasaan sederhana yang penting diterapkan dalam keseharian. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi kulit anak secara berkala agar tanda-tanda iritasi dapat diketahui lebih awal.
Edukasi mengenai kesehatan kulit bayi pun dinilai perlu menjangkau lebih banyak keluarga. Menyambut Hari Anak Nasional 2026, program Gerakan Anti Ruam diperluas dengan target memberikan edukasi kepada 50.000 ibu dan bayi di Indonesia.

Program tersebut akan melibatkan tenaga kesehatan melalui kegiatan di 450 posyandu, 180 puskesmas, dan 20 rumah sakit yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatra. Rangkaian edukasi juga direncanakan berlangsung di 10 kota besar di Indonesia.
Senior Brand Manager Baby Happy, Fransisca Vania Harista, mengatakan perluasan edukasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai hubungan antara kesehatan kulit dan proses tumbuh kembang anak.
“Tahun ini kami memperluas jangkauan Gerakan Anti Ruam kepada 50.000 ibu dan bayi melalui kolaborasi bersama tenaga kesehatan di ratusan posyandu, puskesmas, dan rumah sakit di berbagai wilayah. Kami berharap semakin banyak orang tua memahami pentingnya menjaga kesehatan kulit anak sebagai fondasi tumbuh kembang yang optimal,” kata Vania.
Upaya meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan kulit anak juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, hingga dunia usaha dinilai dapat mengambil peran dalam menyediakan informasi yang mudah dipahami dan diterapkan oleh orang tua.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rini Handayani, menilai pengasuhan sejak anak lahir memiliki peran penting dalam membentuk masa depan mereka.
“Masa depan Indonesia tidak dimulai saat anak dewasa, tetapi sejak mereka lahir dan mendapatkan pengasuhan yang penuh kasih. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir. Kami mengapresiasi inisiatif Baby Happy yang secara konsisten mendampingi para orang tua melalui edukasi pengasuhan berbasis kesehatan bagi anak Indonesia,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026, Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan. Pemenuhan hak anak untuk tumbuh sehat dapat dimulai dari perhatian terhadap kebutuhan dasar yang sering dianggap sederhana, termasuk menjaga kesehatan kulit.
Edukasi mengenai pencegahan ruam juga dikemas melalui Festival Gerakan Anti Ruam 2026 yang digelar di Jakarta pada 20 Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas keluarga sekaligus menjadi pembuka rangkaian edukasi di sejumlah daerah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)
Kulit bayi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kulit orang dewasa. Lapisan pelindung alami kulit atau skin barrier pada bayi masih berada dalam tahap perkembangan sehingga membutuhkan perhatian khusus dari orang tua.
Berdasarkan kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Allergy, Asthma & Immunology Research pada 2025, lapisan pelindung kulit bayi lebih tipis dan belum matang sempurna. Kondisi tersebut membuat kulit bayi lebih rentan mengalami iritasi dibandingkan orang dewasa.
Salah satu bagian yang membutuhkan perhatian lebih adalah area yang tertutup popok. Kelembapan, paparan urine dan feses, serta gesekan yang terjadi berulang kali dapat meningkatkan risiko iritasi dan munculnya ruam pada kulit bayi.
Dokter Spesialis Anak, dr. Damar Prasetya, Sp.A., M.Sc., M.Psi.T., menjelaskan bahwa kondisi skin barrier yang terganggu dapat berdampak lebih luas terhadap kesehatan anak. Kulit yang mengalami iritasi juga berpotensi menjadi pintu masuk bagi bakteri maupun jamur.
“Rusaknya skin barrier dan kondisi ruam popok dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara optimal karena kulit yang iritasi berpotensi menjadi sarana masuknya infeksi bakteri maupun jamur. Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah memilih popok yang tepat agar kulit tetap kering dan terlindungi, sehingga anak dapat beraktivitas dengan nyaman dan bebas dari risiko ruam,” ujarnya.
Karena itu, menjaga kulit bayi tetap bersih dan kering menjadi kebiasaan sederhana yang penting diterapkan dalam keseharian. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi kulit anak secara berkala agar tanda-tanda iritasi dapat diketahui lebih awal.
Edukasi mengenai kesehatan kulit bayi pun dinilai perlu menjangkau lebih banyak keluarga. Menyambut Hari Anak Nasional 2026, program Gerakan Anti Ruam diperluas dengan target memberikan edukasi kepada 50.000 ibu dan bayi di Indonesia.

Program tersebut akan melibatkan tenaga kesehatan melalui kegiatan di 450 posyandu, 180 puskesmas, dan 20 rumah sakit yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatra. Rangkaian edukasi juga direncanakan berlangsung di 10 kota besar di Indonesia.
Senior Brand Manager Baby Happy, Fransisca Vania Harista, mengatakan perluasan edukasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai hubungan antara kesehatan kulit dan proses tumbuh kembang anak.
“Tahun ini kami memperluas jangkauan Gerakan Anti Ruam kepada 50.000 ibu dan bayi melalui kolaborasi bersama tenaga kesehatan di ratusan posyandu, puskesmas, dan rumah sakit di berbagai wilayah. Kami berharap semakin banyak orang tua memahami pentingnya menjaga kesehatan kulit anak sebagai fondasi tumbuh kembang yang optimal,” kata Vania.
Upaya meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan kulit anak juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, hingga dunia usaha dinilai dapat mengambil peran dalam menyediakan informasi yang mudah dipahami dan diterapkan oleh orang tua.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rini Handayani, menilai pengasuhan sejak anak lahir memiliki peran penting dalam membentuk masa depan mereka.
“Masa depan Indonesia tidak dimulai saat anak dewasa, tetapi sejak mereka lahir dan mendapatkan pengasuhan yang penuh kasih. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir. Kami mengapresiasi inisiatif Baby Happy yang secara konsisten mendampingi para orang tua melalui edukasi pengasuhan berbasis kesehatan bagi anak Indonesia,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026, Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan. Pemenuhan hak anak untuk tumbuh sehat dapat dimulai dari perhatian terhadap kebutuhan dasar yang sering dianggap sederhana, termasuk menjaga kesehatan kulit.
Edukasi mengenai pencegahan ruam juga dikemas melalui Festival Gerakan Anti Ruam 2026 yang digelar di Jakarta pada 20 Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas keluarga sekaligus menjadi pembuka rangkaian edukasi di sejumlah daerah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)