FAMILY
Psikolog UGM Bongkar Kenapa Banyak Anak Sekarang Malas Cerita ke Orang Tua
A. Firdaus
Rabu 20 Mei 2026 / 19:13
- Kemampuan komunikasi orang tua perlu terus dilatih agar hubungan dalam keluarga tetap sehat.
- Anak lebih membutuhkan ruang aman untuk didengar tanpa langsung dihakimi atau diberi solusi.
- Membiasakan diri mendengarkan cerita orang lain tanpa memotong pembicaraan atau merasa harus langsung memberi solusi.
Jakarta: Di tengah kebiasaan serba cepat era digital, kemampuan komunikasi orang tua dengan anak dinilai mulai mengalami tantangan baru. Banyak orang tua tanpa sadar lebih sering memberi nasihat dibanding benar-benar mendengarkan cerita anak.
Dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus psikolog, Theresia Novi Poespita Candra, menilai kemampuan komunikasi orang tua perlu terus dilatih agar hubungan dalam keluarga tetap sehat.
Menurut Novi, kebiasaan komunikasi masyarakat saat ini cenderung singkat, cepat, dan praktis. Akibatnya, kemampuan mendengarkan secara perlahan ikut melemah.
“Kalau kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain lama, kita betah enggak? Itu sebenarnya bisa jadi ukuran,” ujar Novi melansir Antara.
Novi menjelaskan anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan nasihat panjang dari orang tua. Sebaliknya, mereka lebih membutuhkan ruang aman untuk didengar tanpa langsung dihakimi atau diberi solusi.
“Anak-anak itu tidak butuh dinasihati terus. Mereka butuh didengarkan,” katanya.
Menurut Novi, banyak orang tua terlalu cepat memberi instruksi atau ceramah saat anak bercerita. Pola komunikasi seperti ini justru bisa membuat anak enggan terbuka karena merasa tidak benar-benar dipahami.
“Jangan mudah menasihati karena itu menjadikan ruang tidak aman di rumah,” ujar Novi.
Ia menambahkan kemampuan mendengarkan sebenarnya bisa terus dilatih, termasuk oleh orang dewasa. Salah satu caranya adalah membiasakan diri mendengarkan cerita orang lain tanpa memotong pembicaraan atau merasa harus langsung memberi solusi.
“Kita bisa latihan dengan benar-benar mendengarkan orang lain, bahkan ketika kita tidak punya kepentingan apa pun,” katanya.
Menurut Novi, manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk berbicara dan merasa diterima. Karena itu, komunikasi hangat dalam keluarga tidak bisa terbentuk secara instan, tetapi perlu dibangun perlahan melalui kebiasaan sehari-hari.
Ia juga menegaskan perubahan pola komunikasi dalam keluarga harus dimulai dari orang tua karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat setiap hari.
“The change start from the parents,” tutup Novi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus psikolog, Theresia Novi Poespita Candra, menilai kemampuan komunikasi orang tua perlu terus dilatih agar hubungan dalam keluarga tetap sehat.
Menurut Novi, kebiasaan komunikasi masyarakat saat ini cenderung singkat, cepat, dan praktis. Akibatnya, kemampuan mendengarkan secara perlahan ikut melemah.
“Kalau kita diajak ngobrol lama atau mendengarkan orang lain lama, kita betah enggak? Itu sebenarnya bisa jadi ukuran,” ujar Novi melansir Antara.
Novi menjelaskan anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan nasihat panjang dari orang tua. Sebaliknya, mereka lebih membutuhkan ruang aman untuk didengar tanpa langsung dihakimi atau diberi solusi.
“Anak-anak itu tidak butuh dinasihati terus. Mereka butuh didengarkan,” katanya.
Menurut Novi, banyak orang tua terlalu cepat memberi instruksi atau ceramah saat anak bercerita. Pola komunikasi seperti ini justru bisa membuat anak enggan terbuka karena merasa tidak benar-benar dipahami.
“Jangan mudah menasihati karena itu menjadikan ruang tidak aman di rumah,” ujar Novi.
Ia menambahkan kemampuan mendengarkan sebenarnya bisa terus dilatih, termasuk oleh orang dewasa. Salah satu caranya adalah membiasakan diri mendengarkan cerita orang lain tanpa memotong pembicaraan atau merasa harus langsung memberi solusi.
“Kita bisa latihan dengan benar-benar mendengarkan orang lain, bahkan ketika kita tidak punya kepentingan apa pun,” katanya.
Menurut Novi, manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk berbicara dan merasa diterima. Karena itu, komunikasi hangat dalam keluarga tidak bisa terbentuk secara instan, tetapi perlu dibangun perlahan melalui kebiasaan sehari-hari.
Ia juga menegaskan perubahan pola komunikasi dalam keluarga harus dimulai dari orang tua karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat setiap hari.
“The change start from the parents,” tutup Novi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)