FEATURE
Slay di WHA Jenewa, Prof. Rinawati Bahas Isu Kesehatan Ibu Sedunia
Yatin Suleha
Selasa 19 Mei 2026 / 22:55
- Dunia kesehatan global kini mulai menggeser fokusnya. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan RS.
- Pesan kuat inilah yang dibawa oleh Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Senior Neonatal Consultant RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Jenewa, Swiss.
- Di sela-sela rangkaian World Health Assembly (WHA) ke-79, Prof. Rinawati hadir sebagai panelis.
Jakarta: Dunia kesehatan global kini mulai menggeser fokusnya. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan rumah sakit, melainkan harus bertumpu pada kekuatan komunitas dan layanan kesehatan primer.
Pesan kuat inilah yang dibawa oleh Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Senior Neonatal Consultant RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, saat mewakili Indonesia dalam forum internasional di Jenewa, Swiss.
Di sela-sela rangkaian World Health Assembly (WHA) ke-79, Prof. Rinawati hadir sebagai panelis dalam diskusi bertajuk “Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health” yang digelar oleh Business Council for International Understanding (BCIU).
Forum strategis ini mempertemukan para pemimpin kesehatan dunia, termasuk perwakilan dari UNICEF, Global Surgery Foundation, dan praktisi kesehatan dari Kenya, Afrika. Agenda utamanya adalah mencari solusi nyata atas masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di negara berkembang.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Rinawati menekankan bahwa tantangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor ketimpangan (inequity) antarwilayah. Oleh karena itu, penanganan kesehatan tidak bisa disamaratakan.
"Program harus disesuaikan dengan konteks tiap daerah. Penguatan komunitas dan kesinambungan layanan dari tingkat dasar seperti Puskesmas hingga rumah sakit rujukan adalah kunci utama agar angka kematian ibu dan bayi bisa terus ditekan," ujar mantan Ketua UKK Perinatologi IDAI tersebut.
.jpeg)
(“Kesinambungan program dari rumah sakit sampai masyarakat menjadi kunci. Setiap daerah memiliki tantangan inequity yang berbeda sehingga pendekatan harus kontekstual,” ungkap Prof. Rinawati yang sempat menjadi Ketua UKK Perinatologi IDAI ini. Foto: Dok. Istimewa)
Menurutnya, keberhasilan kesehatan ibu tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas kesehatan, tetapi dari kemampuan sistem menjaga kesinambungan pelayanan sejak deteksi dini di komunitas, proses rujukan, hingga layanan neonatal di rumah sakit.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah baru diskursus global kesehatan yang mulai bergeser dari pendekatan hospital-centered menuju community-centered healthcare.
Kehadiran Indonesia dalam forum ini memperlihatkan bahwa pengalaman negara berkembang justru semakin penting dalam percakapan kesehatan global.
Negara seperti Indonesia dinilai memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi kompleksitas ketimpangan, keterbatasan sumber daya, serta tantangan akses kesehatan di masyarakat.
Forum ini strategis untuk Indonesia karena turut merumuskan langkah konkret mempercepat pencapaian target SDGs bidang kesehatan ibu dan bayi pada 2030.
Kehadiran Prof. Rinawati di kancah internasional ini membuktikan bahwa pengalaman Indonesia dalam menghadapi kompleksitas akses dan ketimpangan sosial sangat diakui dunia.
Indonesia dinilai punya pelajaran berharga dalam membangun jejaring kesehatan berbasis masyarakat untuk mencapai target SDGs 2030. Partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa suara Indonesia bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari solusi kesehatan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Pesan kuat inilah yang dibawa oleh Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Senior Neonatal Consultant RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, saat mewakili Indonesia dalam forum internasional di Jenewa, Swiss.
Di sela-sela rangkaian World Health Assembly (WHA) ke-79, Prof. Rinawati hadir sebagai panelis dalam diskusi bertajuk “Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health” yang digelar oleh Business Council for International Understanding (BCIU).
Forum strategis ini mempertemukan para pemimpin kesehatan dunia, termasuk perwakilan dari UNICEF, Global Surgery Foundation, dan praktisi kesehatan dari Kenya, Afrika. Agenda utamanya adalah mencari solusi nyata atas masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di negara berkembang.
Dalam diskusi tersebut, Prof. Rinawati menekankan bahwa tantangan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor ketimpangan (inequity) antarwilayah. Oleh karena itu, penanganan kesehatan tidak bisa disamaratakan.
"Program harus disesuaikan dengan konteks tiap daerah. Penguatan komunitas dan kesinambungan layanan dari tingkat dasar seperti Puskesmas hingga rumah sakit rujukan adalah kunci utama agar angka kematian ibu dan bayi bisa terus ditekan," ujar mantan Ketua UKK Perinatologi IDAI tersebut.
.jpeg)
(“Kesinambungan program dari rumah sakit sampai masyarakat menjadi kunci. Setiap daerah memiliki tantangan inequity yang berbeda sehingga pendekatan harus kontekstual,” ungkap Prof. Rinawati yang sempat menjadi Ketua UKK Perinatologi IDAI ini. Foto: Dok. Istimewa)
Menurutnya, keberhasilan kesehatan ibu tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas kesehatan, tetapi dari kemampuan sistem menjaga kesinambungan pelayanan sejak deteksi dini di komunitas, proses rujukan, hingga layanan neonatal di rumah sakit.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah baru diskursus global kesehatan yang mulai bergeser dari pendekatan hospital-centered menuju community-centered healthcare.
Kehadiran Indonesia dalam forum ini memperlihatkan bahwa pengalaman negara berkembang justru semakin penting dalam percakapan kesehatan global.
Negara seperti Indonesia dinilai memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi kompleksitas ketimpangan, keterbatasan sumber daya, serta tantangan akses kesehatan di masyarakat.
Forum ini strategis untuk Indonesia karena turut merumuskan langkah konkret mempercepat pencapaian target SDGs bidang kesehatan ibu dan bayi pada 2030.
Kehadiran Prof. Rinawati di kancah internasional ini membuktikan bahwa pengalaman Indonesia dalam menghadapi kompleksitas akses dan ketimpangan sosial sangat diakui dunia.
Indonesia dinilai punya pelajaran berharga dalam membangun jejaring kesehatan berbasis masyarakat untuk mencapai target SDGs 2030. Partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa suara Indonesia bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari solusi kesehatan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)