FAMILY

Ciri Anak Stunting dan Intervensi Gizi

Mia Vale
Senin 08 Agustus 2022 / 08:05
Jakarta: Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.

Dan stunting masih menjadi masalah kesehatan serius dan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat serta perhatian dari seluruh pihak. Salah satu lokus penanganan Stunting yakni Kabupaten Sragen menjadi lokasi yang dikunjungi oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Maria Endang Sumiwi pada Jumat, 5 Agustus 2022 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Endang meninjau tiga lokasi yakni Posyandu Mugi Rahayu V, Puskesmas Kedawung I dan RSUD Gemolong. “Hari ini kami mengunjungi Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit untuk melihat secara langsung penanganan stunting di Kabupaten Sragen,” kata Dirjen Endang beberapa waktu lalu.

Dari hasil kunjungannya ke tiga titik tersebut, Dirjen Endang menyebutkan bahwa secara keseluruhan penanganan stunting sudah cukup baik terutama kecakapan para kader dan tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi masalah gizi yang dialami para balita.
 

Identifikasi masalah gizi


“Yang kami lihat ada peningkatan yang sangat baik dari kader dalam hal mengidentifikasi masalah gizi dan merujuknya ke Puskesmas. Misalnya, ada anak yang dalam dua kali penimbangan di dua minggu terakhir berat badannya tidak naik, itu selanjutnya diberikan alert ke Puskesmas dan dirujuk juga ke Puskesmas,” ungkap Dirjen Endang.

Koordinasi rujukan penanganan stunting juga terlihat sangat baik pada sistem rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit. 

Dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, RSUD Gemolong yang menjadi salah satu rujukan penanganan stunting di Kabupaten Sragen, telah menerima 26 kasus stunting, rujukan dari beberapa Puskesmas di Kabupaten Sragen.

Dari 26 anak stunting tersebut, 15 anak mengikuti perawatan penanganan stunting. Hasilnya 11 terus mengikuti perawatan sementara 4 tidak menyelesaikan perawatan sampai akhir.



(Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita stunting sebesar 24,4 persen pada 2021. Artinya, hampir seperempat balita Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu. Namun, demikian, angka tersebut lebih rendah dibanding 2020 yang diperkirakan mencapai 26,9 persen. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Sukses perawatan lima anak telah bebas stunting


“Di rumah sakit kita sudah mendengar keberhasilan dari 11 anak yang dilakukan perawatan sebanyak 5 anak telah bebas stunting. Ini adalah tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Namun kita masih memiliki kendala karena dari 26 anak yang stunting baru 11 yang mengikuti perawatan. Ini yang masih menjadi kendala kita bersama,” ujar Dirjen Endang.

Dikatakan Dirjen Endang, masih tingginya anak stunting yang tidak melakukan perawatan sampai tuntas karena terkendala beberapa hal diantaranya lokasi yang jauh dan pemahaman orang tua tentang stunting.

Kendati demikian, pihaknya optimis melalui pendekatan persuasif upaya penanganan stunting di Kabupaten Sragen bisa berjalan optimal.

“Keberhasilan intervensi ini menunjukkan bahwa stunting ternyata bisa diatasi, kita lihat di Sragen sangat tinggi tingkat keberhasilannya. Namun selain perawatan untuk anak stunting, kita harus melakukan intervensi pencegahan dengan pemberian makanan bergizi. Orang tua harus mendapatkan informasi yang cukup mengenai makanan bergizi terutama protein hewani,” harapnya.
 

Ciri anak stunting


Dinukil dari Klikdokter, berikut ini adalah beberapa ciri anak stunting yang perlu diwaspadai:

1. Bertubuh pendek
2. Sering sakit karena fungsi kekebalan tubuh akibat kurangnya nutrisi 
3. Menurunnya kemampuan kognitif dapat dilihat dari adanya hambatan dalam perkembangan si kecil
4. Bertambah gemuk, yaitu anak mengalami gangguan sistem endokrin tubuh yang memengaruhi metabolisme lemak
5. Wajah lebih muda dari anak seusianya, ini terjadi akibat pertumbuhan anak yang lebih lambat sehingga ia terlihat lebih muda
6. Anak menjadi lebih pendiam, kemungkinan karena anak menjadi minder akibat tumbuh kembangnya berbeda dengan anak seusianya
7. Telat menstruasi. Karena tumbuh kembangnya melambat, maka masa pubertas anak yang mengalami stunting juga melambat
8. Pertumbuhan gigi terlambat
(TIN)

MOST SEARCH