FAMILY
Tom & Jerry Real Life: Kenapa Sih Kakak-Adik Hobinya Ribut Mulu?
Yatin Suleha
Senin 02 Maret 2026 / 12:05
- Adik kakak berantem (sibling rivalry) adalah hal wajar karena perbedaan emosi, perebutan hak, atau pola asuh.
- “Seorang saudara kandung adalah orang yang aman untuk mengekspresikan perasaan besar,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D.
- Saudara kandung bisa bertengkar karena berbagai alasan. Cemburu terhadap perhatian orang tua, rasa persaingan, serta berebut barang.
Jakarta: Satu menit anak-anak bisa akur dan terlihat seperti sahabat terbaik. Namun di menit berikutnya, keduanya bisa saling berteriak hanya karena berebut mainan yang sebenarnya sudah lama tidak disentuh.
Persaingan dan pertengkaran antar saudara seperti ini sangat umum dan termasuk hal yang normal. Meski sering membuat orang tua harus turun tangan menjadi penengah, konflik ini ternyata punya manfaat.
Pertengkaran dapat membantu anak belajar keterampilan sosial, serta cara menyelesaikan masalah.
“Seorang saudara kandung adalah orang yang aman untuk mengekspresikan perasaan besar,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D. dalam psikologi perkembangan dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Walaupun konflik antar saudara sulit dihindari, respons orang tua berperan penting dalam meminimalkan persaingan.
Anak-anak juga bisa dibekali kemampuan untuk mengelola konflik sejak dini, keterampilan yang akan sangat berguna sepanjang hidup.
Saudara kandung bisa bertengkar karena berbagai alasan. Cemburu terhadap perhatian orang tua, rasa persaingan, serta berebut barang yang sama menjadi penyebab yang paling umum.
Hal ini disampaikan oleh Cara Damiano Goodwin, Ph.D. dalam psikologi klinis anak dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Goodwin menyampaikan bahwa saudara kandung biasanya lebih sering bertengkar satu sama lain dibandingkan dengan teman.
Penyebabnya sederhana, yaitu mereka menghabiskan banyak waktu bersama dan sering berada pada tahap perkembangan yang berbeda.
.jpg)
(Adik kakak berantem (sibling rivalry) adalah hal wajar karena perbedaan emosi, perebutan hak, atau pola asuh. Cara mengatasinya: tetap tenang, jangan memihak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
“Hal ini membuat mereka lebih sulit untuk bermain atau berpartisipasi dalam aktivitas, yang sama dengan sukses,” kata Goodwin.
Persaingan kerap muncul sejak kelahiran adik. Perubahan besar ini bisa memicu reaksi regresif pada kakak, seperti lebih sering mengeluh, menangis, atau melampiaskan emosi secara fisik.
“Hal ini terutama berlaku untuk saudara kandung yang usianya dekat, yang mungkin mengalami lebih banyak perasaan persaingan,” ujar Goodwin.
Memasuki usia balita, anak bungsu mulai berani melawan kakak. Pada tahap ini, konflik sering diwujudkan dalam bentuk fisik seperti menendang atau memukul, sehingga pengawasan ekstra sering kali dibutuhkan.
Perbedaan usia juga memicu konflik karena masing-masing berada di fase perkembangan yang berbeda.
Misalnya saat bermain petak umpet, anak yang lebih kecil mungkin kesulitan mengikuti aturan, sementara yang lebih besar ingin permainan berjalan sesuai kesepakatan.
Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, dinamika persaingan bisa berubah. Kepribadian semakin terbentuk, minat semakin jelas, dan kemampuan fisik semakin kuat. Konflik yang muncul pun bisa terasa lebih intens.
Pada fase ini, pertengkaran cenderung tidak lagi sekadar fisik. “Seiring waktu, konflik cenderung melibatkan agresi verbal dan emosional yang semakin banyak, seperti ejekan atau olok-olok,” kata Goodwin.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Persaingan dan pertengkaran antar saudara seperti ini sangat umum dan termasuk hal yang normal. Meski sering membuat orang tua harus turun tangan menjadi penengah, konflik ini ternyata punya manfaat.
Pertengkaran dapat membantu anak belajar keterampilan sosial, serta cara menyelesaikan masalah.
“Seorang saudara kandung adalah orang yang aman untuk mengekspresikan perasaan besar,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D. dalam psikologi perkembangan dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Walaupun konflik antar saudara sulit dihindari, respons orang tua berperan penting dalam meminimalkan persaingan.
Anak-anak juga bisa dibekali kemampuan untuk mengelola konflik sejak dini, keterampilan yang akan sangat berguna sepanjang hidup.
Mengapa saudara kandung sering bertengkar?
Saudara kandung bisa bertengkar karena berbagai alasan. Cemburu terhadap perhatian orang tua, rasa persaingan, serta berebut barang yang sama menjadi penyebab yang paling umum.
Hal ini disampaikan oleh Cara Damiano Goodwin, Ph.D. dalam psikologi klinis anak dan anggota Dewan Penasihat Medis BabyCenter.
Goodwin menyampaikan bahwa saudara kandung biasanya lebih sering bertengkar satu sama lain dibandingkan dengan teman.
Penyebabnya sederhana, yaitu mereka menghabiskan banyak waktu bersama dan sering berada pada tahap perkembangan yang berbeda.
.jpg)
(Adik kakak berantem (sibling rivalry) adalah hal wajar karena perbedaan emosi, perebutan hak, atau pola asuh. Cara mengatasinya: tetap tenang, jangan memihak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
“Hal ini membuat mereka lebih sulit untuk bermain atau berpartisipasi dalam aktivitas, yang sama dengan sukses,” kata Goodwin.
Persaingan kerap muncul sejak kelahiran adik. Perubahan besar ini bisa memicu reaksi regresif pada kakak, seperti lebih sering mengeluh, menangis, atau melampiaskan emosi secara fisik.
“Hal ini terutama berlaku untuk saudara kandung yang usianya dekat, yang mungkin mengalami lebih banyak perasaan persaingan,” ujar Goodwin.
Memasuki usia balita, anak bungsu mulai berani melawan kakak. Pada tahap ini, konflik sering diwujudkan dalam bentuk fisik seperti menendang atau memukul, sehingga pengawasan ekstra sering kali dibutuhkan.
Perbedaan usia juga memicu konflik karena masing-masing berada di fase perkembangan yang berbeda.
Misalnya saat bermain petak umpet, anak yang lebih kecil mungkin kesulitan mengikuti aturan, sementara yang lebih besar ingin permainan berjalan sesuai kesepakatan.
Ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar, dinamika persaingan bisa berubah. Kepribadian semakin terbentuk, minat semakin jelas, dan kemampuan fisik semakin kuat. Konflik yang muncul pun bisa terasa lebih intens.
Pada fase ini, pertengkaran cenderung tidak lagi sekadar fisik. “Seiring waktu, konflik cenderung melibatkan agresi verbal dan emosional yang semakin banyak, seperti ejekan atau olok-olok,” kata Goodwin.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)