FAMILY
Jangan Anggap Mood Swing, Ini Cara Hadapi Remaja yang Mengalami Depresi
A. Firdaus
Jumat 10 Juli 2026 / 10:22
- Depresi pada remaja bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian.
- Salah satu langkah paling penting adalah membuka komunikasi dengan remaja, secara tenang dan penuh empati.
- Mendengarkan tanpa menghakimi, sering kali menjadi hal paling dibutuhkan remaja saat sedang merasa terpuruk.
Jakarta: Saat melihat remaja mulai berubah jadi lebih murung, sering mengurung diri, atau kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari, banyak orang tua langsung merasa panik dan bingung harus berbuat apa.
Padahal, depresi pada remaja bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Kondisi ini bisa ditangani dan semakin cepat dikenali, semakin besar peluang remaja untuk pulih dengan baik.
“Ingatlah bahwa depresi adalah gangguan yang dapat diobati. Ini bukanlah kondisi yang permanen,” kata Lynn Lyons, pekerja sosial klinis berlisensi, psikoterapis, pembicara, dan co-author buku Anxious Kids, Anxious Parents.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa depresi bukan akhir dari segalanya, dan bukan kondisi yang akan menetap selamanya jika ditangani dengan tepat. Meski begitu, depresi tetap tidak boleh dianggap sepele, karena dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan remaja.
Dilansir dari Parents, menurut Susan Weinstein, wakil direktur eksekutif bidang program dan operasional di Families for Depression Awareness, depresi dapat menyebabkan berbagai dampak serius, seperti:
• Kegagalan akademis
• Penyalahgunaan zat
• Hubungan interpersonal yang terganggu dengan keluarga dan teman sebaya
• Gangguan makan
• Peningkatan keparahan kondisi kesehatan
• Kejahatan
• Perilaku bunuh diri
Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga menambahkan bahwa remaja yang mengalami depresi, sering kali kesulitan menikmati hidup dan kehilangan rasa bahagia dalam aktivitas sehari-hari.
Salah satu langkah paling penting adalah membuka komunikasi dengan remaja, secara tenang dan penuh empati. Lynn Lyons menyarankan agar orang tua terlebih dahulu mencari informasi, yang benar mengenai depresi dari sumber terpercaya atau tenaga profesional.
Setelah itu, cobalah mendekati remaja dengan sikap terbuka tanpa langsung menghakimi atau memaksa. Orang tua bisa mulai membicarakan perubahan yang terlihat, seperti nilai sekolah yang menurun, lebih sering menyendiri, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.
“Orang tua selalu ingin memberikan pendapat dan nasihat, tetapi mereka tidak selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan kebutuhan dan perasaan anak-anak. Orang tua perlu membuat anak-anak merasa didengarkan dan melibatkan mereka dalam solusi,” kata Rothman.
Mendengarkan tanpa menghakimi, sering kali menjadi hal paling dibutuhkan remaja saat sedang merasa terpuruk. Cari bantuan profesional secepat mungkin, Setelah berbicara dengan remaja, langkah berikutnya adalah mencari bantuan profesional.
Rachel Busman, Psy.D., seorang psikolog anak dan remaja bersertifikat dan direktur senior Pusat Gangguan Kecemasan di Child Mind Institute, menyebut banyak keluarga memulai dengan berkonsultasi ke dokter anak terpercaya, sebelum melanjutkan ke psikolog atau psikiater.
dr. Busman juga menyarankan untuk memilih tenaga kesehatan mental, yang memang memiliki pengalaman menangani anak dan remaja, serta menggunakan metode perawatan berbasis bukti, agar penanganannya lebih tepat.
Selain itu, bantuan profesional menjadi sangat penting, jika remaja mulai menunjukkan tanda-tanda pikiran atau perilaku bunuh diri. Kondisi seperti itu tidak boleh ditunda dan membutuhkan perhatian serius secepat mungkin.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Padahal, depresi pada remaja bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Kondisi ini bisa ditangani dan semakin cepat dikenali, semakin besar peluang remaja untuk pulih dengan baik.
“Ingatlah bahwa depresi adalah gangguan yang dapat diobati. Ini bukanlah kondisi yang permanen,” kata Lynn Lyons, pekerja sosial klinis berlisensi, psikoterapis, pembicara, dan co-author buku Anxious Kids, Anxious Parents.
Baca Juga :
Pas Orang Tua Bilang Remaja Depresi Cuma karena ‘Kurang Ibadah’, Padahal Gak Sesimpel Itu
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa depresi bukan akhir dari segalanya, dan bukan kondisi yang akan menetap selamanya jika ditangani dengan tepat. Meski begitu, depresi tetap tidak boleh dianggap sepele, karena dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan remaja.
Dilansir dari Parents, menurut Susan Weinstein, wakil direktur eksekutif bidang program dan operasional di Families for Depression Awareness, depresi dapat menyebabkan berbagai dampak serius, seperti:
• Kegagalan akademis
• Penyalahgunaan zat
• Hubungan interpersonal yang terganggu dengan keluarga dan teman sebaya
• Gangguan makan
• Peningkatan keparahan kondisi kesehatan
• Kejahatan
• Perilaku bunuh diri
Jennifer Rothman, manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), juga menambahkan bahwa remaja yang mengalami depresi, sering kali kesulitan menikmati hidup dan kehilangan rasa bahagia dalam aktivitas sehari-hari.
Mulai dengan mengajak remaja bicara
Salah satu langkah paling penting adalah membuka komunikasi dengan remaja, secara tenang dan penuh empati. Lynn Lyons menyarankan agar orang tua terlebih dahulu mencari informasi, yang benar mengenai depresi dari sumber terpercaya atau tenaga profesional.
Setelah itu, cobalah mendekati remaja dengan sikap terbuka tanpa langsung menghakimi atau memaksa. Orang tua bisa mulai membicarakan perubahan yang terlihat, seperti nilai sekolah yang menurun, lebih sering menyendiri, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.
“Orang tua selalu ingin memberikan pendapat dan nasihat, tetapi mereka tidak selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan kebutuhan dan perasaan anak-anak. Orang tua perlu membuat anak-anak merasa didengarkan dan melibatkan mereka dalam solusi,” kata Rothman.
Mendengarkan tanpa menghakimi, sering kali menjadi hal paling dibutuhkan remaja saat sedang merasa terpuruk. Cari bantuan profesional secepat mungkin, Setelah berbicara dengan remaja, langkah berikutnya adalah mencari bantuan profesional.
Rachel Busman, Psy.D., seorang psikolog anak dan remaja bersertifikat dan direktur senior Pusat Gangguan Kecemasan di Child Mind Institute, menyebut banyak keluarga memulai dengan berkonsultasi ke dokter anak terpercaya, sebelum melanjutkan ke psikolog atau psikiater.
dr. Busman juga menyarankan untuk memilih tenaga kesehatan mental, yang memang memiliki pengalaman menangani anak dan remaja, serta menggunakan metode perawatan berbasis bukti, agar penanganannya lebih tepat.
Selain itu, bantuan profesional menjadi sangat penting, jika remaja mulai menunjukkan tanda-tanda pikiran atau perilaku bunuh diri. Kondisi seperti itu tidak boleh ditunda dan membutuhkan perhatian serius secepat mungkin.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)