FAMILY
Drama Ngompol Balita Balik Lagi? Tenang, Ini Cara Handle-nya Biar Tetap Calm
Yatin Suleha
Selasa 14 April 2026 / 10:05
- Lagi seneng-senengnya lihat si kecil mulai lancar toilet training, eh tiba-tiba malah ngompol lagi.
- Jujurly, momen kayak gini emang sering bikin kita bingung sekaligus agak frustrasi.
- Di usia balita, mereka belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.
Jakarta: Lagi seneng-senengnya lihat si kecil mulai lancar toilet training, eh tiba-tiba malah ngompol lagi atau mendadak minta pakai popok.
Jujurly, momen kayak gini emang sering bikin kita bingung sekaligus agak frustrasi, kok bisa ya progresnya malah mundur lagi?
Di usia balita, mereka belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, sehingga perubahan tersebut sering muncul lewat perilaku.
Salah satunya adalah kemunduran dalam kebiasaan buang air. Kabar baiknya, kondisi ini sangat umum terjadi dan biasanya hanya sementara, jika ditangani dengan pendekatan yang tepat.
Regresi adalah kondisi ketika balita mengalami kemunduran dalam kemampuan, yang sebelumnya sudah dikuasai.
Dalam hal ini, anak yang sudah belajar menggunakan toilet dengan baik, kembali mengalami kecelakaan buang air atau ingin menggunakan popok lagi.
Hal ini sering dipicu oleh stres, perubahan besar dalam kehidupan, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Ada berbagai alasan di balik kemunduran ini, tetapi salah satu yang paling umum adalah stres. Sama seperti regresi tidur, kondisi ini bersifat sementara.
Balita mungkin hanya butuh jeda dari proses toilet training, atau sedang mencari perhatian lebih di tengah perubahan yang terjadi di rumah.
.jpg)
(Cobalah membantu balita menyalurkan emosinya melalui buku cerita atau tayangan, yang sesuai dengan usianya, agar mereka lebih mudah memahami perasaannya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kunci utama dalam menghadapi situasi ini adalah tetap sabar dan tenang. Balita perlu dibantu untuk memahami dan mengekspresikan perasaannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengutarakan situasi yang sedang terjadi, seperti.
"Kita punya bayi baru di rumah. Itu adalah perubahan besar bagi kita semua. Bisa jadi sangat sulit menunggu Mama atau Papa saat mereka sedang merawat bayi."
Selanjutnya, penting untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi pemicu kemunduran tersebut.
Cobalah membantu balita menyalurkan emosinya melalui buku cerita atau tayangan, yang sesuai dengan usianya, agar mereka lebih mudah memahami perasaannya.
Luangkan waktu khusus untuk memberi perhatian ekstra, seperti bermain bersama atau sekadar quality time tanpa gangguan.
Jika balita mengalami kecelakaan buang air hampir setiap hari, tidak ada salahnya untuk menghentikan sementara proses toilet training. Fokus utama adalah membantu anak beradaptasi dengan perubahan dalam keluarga.
Balita tetap bisa diberi kesempatan, menggunakan celana dalam jika berhasil ke toilet. Namun, jika kecelakaan masih sering terjadi, penggunaan popok celana (pull-up) bisa menjadi solusi sementara.
Agar balita memahami alasan di balik perubahan ini, penjelasan sederhana sangat membantu. "Celana dalam tidak dirancang untuk menampung kencing dan buang air besar, jadi kamu akan memakai popok celana untuk sementara waktu."
"Saat pull-up-mu (popok sekali pakai) penuh, kita akan segera menggantinya, karena tetap memakai pull-up yang penuh dengan kencing dan buang air besar, tidak sehat bagi tubuh kita."
Pendekatan fleksibel juga bisa diterapkan, seperti yang disarankan.
“Cobalah pendekatan ini dengan memberikan pilihan antara celana dalam dan pull-up, sampai kemunduran ini berakhir dan anakmu kembali secara konsisten memakai celana dalam serta menggunakan toilet,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California dalam BabyCenter.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Jujurly, momen kayak gini emang sering bikin kita bingung sekaligus agak frustrasi, kok bisa ya progresnya malah mundur lagi?
Di usia balita, mereka belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, sehingga perubahan tersebut sering muncul lewat perilaku.
Salah satunya adalah kemunduran dalam kebiasaan buang air. Kabar baiknya, kondisi ini sangat umum terjadi dan biasanya hanya sementara, jika ditangani dengan pendekatan yang tepat.
Regresi adalah kondisi ketika balita mengalami kemunduran dalam kemampuan, yang sebelumnya sudah dikuasai.
Dalam hal ini, anak yang sudah belajar menggunakan toilet dengan baik, kembali mengalami kecelakaan buang air atau ingin menggunakan popok lagi.
Hal ini sering dipicu oleh stres, perubahan besar dalam kehidupan, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Cara mengatasi kemunduran dalam pelatihan toilet
Ada berbagai alasan di balik kemunduran ini, tetapi salah satu yang paling umum adalah stres. Sama seperti regresi tidur, kondisi ini bersifat sementara.
Balita mungkin hanya butuh jeda dari proses toilet training, atau sedang mencari perhatian lebih di tengah perubahan yang terjadi di rumah.
.jpg)
(Cobalah membantu balita menyalurkan emosinya melalui buku cerita atau tayangan, yang sesuai dengan usianya, agar mereka lebih mudah memahami perasaannya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Kunci utama dalam menghadapi situasi ini adalah tetap sabar dan tenang. Balita perlu dibantu untuk memahami dan mengekspresikan perasaannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengutarakan situasi yang sedang terjadi, seperti.
"Kita punya bayi baru di rumah. Itu adalah perubahan besar bagi kita semua. Bisa jadi sangat sulit menunggu Mama atau Papa saat mereka sedang merawat bayi."
Selanjutnya, penting untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi pemicu kemunduran tersebut.
1. Jika dipicu oleh stres
Cobalah membantu balita menyalurkan emosinya melalui buku cerita atau tayangan, yang sesuai dengan usianya, agar mereka lebih mudah memahami perasaannya.
2. Jika karena ingin perhatian lebih
Luangkan waktu khusus untuk memberi perhatian ekstra, seperti bermain bersama atau sekadar quality time tanpa gangguan.
Jika balita mengalami kecelakaan buang air hampir setiap hari, tidak ada salahnya untuk menghentikan sementara proses toilet training. Fokus utama adalah membantu anak beradaptasi dengan perubahan dalam keluarga.
Balita tetap bisa diberi kesempatan, menggunakan celana dalam jika berhasil ke toilet. Namun, jika kecelakaan masih sering terjadi, penggunaan popok celana (pull-up) bisa menjadi solusi sementara.
Agar balita memahami alasan di balik perubahan ini, penjelasan sederhana sangat membantu. "Celana dalam tidak dirancang untuk menampung kencing dan buang air besar, jadi kamu akan memakai popok celana untuk sementara waktu."
"Saat pull-up-mu (popok sekali pakai) penuh, kita akan segera menggantinya, karena tetap memakai pull-up yang penuh dengan kencing dan buang air besar, tidak sehat bagi tubuh kita."
Pendekatan fleksibel juga bisa diterapkan, seperti yang disarankan.
“Cobalah pendekatan ini dengan memberikan pilihan antara celana dalam dan pull-up, sampai kemunduran ini berakhir dan anakmu kembali secara konsisten memakai celana dalam serta menggunakan toilet,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California dalam BabyCenter.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)