FAMILY
Bukan Cuma Lucu, Ternyata Bayi Juga Jago Manipulasi Tipis-tipis, Cek Faktanya Yuk!
Yatin Suleha
Selasa 14 April 2026 / 19:35
- Jujurly, otak anak kecil itu seajaib itu! Kadang ada hal-hal mengejutkan yang enggak kita duga sebelumnya.
- Meski terdengar tidak biasa, para ahli justru melihat hal ini sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang normal.
- Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kemampuan memahami dan melakukan penipuan muncul cukup dini.
Jakarta: Jujurly, otak anak kecil itu seajaib itu! Kadang ada hal-hal mengejutkan yang enggak kita duga sebelumnya.
Contohnya nih, ternyata bayi sama balita itu sudah mulai paham cara menunjukkan perilaku yang menyerupai penipuan. Jadi kalau mereka kayak lagi "akting" sesuatu, itu tandanya otak mereka lagi berkembang pesat, lho!
Meski terdengar tidak biasa, para ahli justru melihat hal ini sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Penelitian terbaru mencoba menggali lebih dalam bagaimana perilaku ini muncul, kapan mulai terlihat, serta apa maknanya bagi perkembangan kognitif dan sosial anak.
Dalam studi ini, para peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 750 anak, dengan cara meminta orang tua melaporkan perilaku anak terkait penipuan. Anak-anak yang diamati berada pada rentang usia 0 hingga 47 bulan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil penelitian ini tidak berasal dari pengamatan langsung, melainkan berdasarkan laporan orang tua. Hal ini juga menjadi catatan penting dalam interpretasi hasil penelitian.
“Pendekatan pemodelan ini dapat berguna untuk mengeksplorasi pola, tetapi juga membuat hasil lebih sulit diinterpretasikan, dalam konteks konkret dan dunia nyata terutama pada bayi, di mana baik perilaku maupun niat yang mendasarinya sudah sulit untuk didefinisikan dan diukur,” jelas Emma Murray, PhD, seorang psikolog klinis berlisensi di Phoenix Children’s dalam Parents.

(Balita mulai paham bahwa orang tua tidak tahu semua hal, sehingga mereka mencoba memanipulasi situasi, meniru orang dewasa, atau sekadar berkhayal. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan, bahwa kemampuan memahami dan melakukan penipuan muncul cukup dini. Para penulis studi mencatat bahwa laporan paling awal tentang perilaku ini terjadi pada usia sekitar 8 bulan.
Selain itu, ditemukan bahwa sekitar 25% anak mulai memahami konsep penipuan pada usia 18 bulan, sekitar 25% anak mulai menunjukkan perilaku penipuan pada usia 16 bulan.
Perilaku ini bukan berasal dari niat buruk atau keinginan untuk memanipulasi. Justru sebaliknya, hal ini merupakan bagian dari proses perkembangan otak yang sehat.
“Pendapat ahli saya adalah bahwa penipuan pada bayi pada dasarnya merupakan tanda perkembangan otak yang sehat, bukan tanda bahaya perilaku, dan studi ini berperan penting dalam memandang hal tersebut dari sudut pandang tersebut,” kata Sanam Hafeez, PsyD, seorang neuropsikolog dan direktur Comprehend the Mind.
Ia juga menjelaskan bahwa ketika anak mulai mencoba “berbohong”, hal itu menandakan bahwa kemampuan sosial dan pemahaman terhadap orang lain, sudah mulai berkembang lebih awal dari yang diperkirakan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Molly O’Shea, MD, seorang dokter anak dan ahli parenting. “Kebohongan pada usia dini adalah bagian normal dan sehat dari perkembangan, dan dalam banyak hal, ini merupakan tanda bahwa otak anak Moms berfungsi dengan baik.”
Untuk bisa melakukan penipuan sederhana, anak perlu memahami bahwa dirinya mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu, sekaligus memperkirakan reaksi orang tersebut. “Itu benar-benar pemikiran yang canggih untuk anak berusia 1 atau 2 tahun,” kata Dr. O’Shea.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Contohnya nih, ternyata bayi sama balita itu sudah mulai paham cara menunjukkan perilaku yang menyerupai penipuan. Jadi kalau mereka kayak lagi "akting" sesuatu, itu tandanya otak mereka lagi berkembang pesat, lho!
Meski terdengar tidak biasa, para ahli justru melihat hal ini sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Penelitian terbaru mencoba menggali lebih dalam bagaimana perilaku ini muncul, kapan mulai terlihat, serta apa maknanya bagi perkembangan kognitif dan sosial anak.
Dalam studi ini, para peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 750 anak, dengan cara meminta orang tua melaporkan perilaku anak terkait penipuan. Anak-anak yang diamati berada pada rentang usia 0 hingga 47 bulan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil penelitian ini tidak berasal dari pengamatan langsung, melainkan berdasarkan laporan orang tua. Hal ini juga menjadi catatan penting dalam interpretasi hasil penelitian.
“Pendekatan pemodelan ini dapat berguna untuk mengeksplorasi pola, tetapi juga membuat hasil lebih sulit diinterpretasikan, dalam konteks konkret dan dunia nyata terutama pada bayi, di mana baik perilaku maupun niat yang mendasarinya sudah sulit untuk didefinisikan dan diukur,” jelas Emma Murray, PhD, seorang psikolog klinis berlisensi di Phoenix Children’s dalam Parents.

(Balita mulai paham bahwa orang tua tidak tahu semua hal, sehingga mereka mencoba memanipulasi situasi, meniru orang dewasa, atau sekadar berkhayal. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan, bahwa kemampuan memahami dan melakukan penipuan muncul cukup dini. Para penulis studi mencatat bahwa laporan paling awal tentang perilaku ini terjadi pada usia sekitar 8 bulan.
Selain itu, ditemukan bahwa sekitar 25% anak mulai memahami konsep penipuan pada usia 18 bulan, sekitar 25% anak mulai menunjukkan perilaku penipuan pada usia 16 bulan.
Mengapa bayi/balita mulai “menipu”?
Perilaku ini bukan berasal dari niat buruk atau keinginan untuk memanipulasi. Justru sebaliknya, hal ini merupakan bagian dari proses perkembangan otak yang sehat.
“Pendapat ahli saya adalah bahwa penipuan pada bayi pada dasarnya merupakan tanda perkembangan otak yang sehat, bukan tanda bahaya perilaku, dan studi ini berperan penting dalam memandang hal tersebut dari sudut pandang tersebut,” kata Sanam Hafeez, PsyD, seorang neuropsikolog dan direktur Comprehend the Mind.
Ia juga menjelaskan bahwa ketika anak mulai mencoba “berbohong”, hal itu menandakan bahwa kemampuan sosial dan pemahaman terhadap orang lain, sudah mulai berkembang lebih awal dari yang diperkirakan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Molly O’Shea, MD, seorang dokter anak dan ahli parenting. “Kebohongan pada usia dini adalah bagian normal dan sehat dari perkembangan, dan dalam banyak hal, ini merupakan tanda bahwa otak anak Moms berfungsi dengan baik.”
Untuk bisa melakukan penipuan sederhana, anak perlu memahami bahwa dirinya mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu, sekaligus memperkirakan reaksi orang tersebut. “Itu benar-benar pemikiran yang canggih untuk anak berusia 1 atau 2 tahun,” kata Dr. O’Shea.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)