FAMILY
Vibe Check Tumbuh Kembang: Jangan Skip Tidur dan Pola Makan, Ya!
Yatin Suleha
Senin 09 Maret 2026 / 19:17
- Saat ini, sangat penting memahami kebutuhan anak secara menyeluruh.
- Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan anak adalah kualitas tidur di malam hari.
- Hal ini berkaitan dengan produksi growth hormone atau hormon pertumbuhan, yang meningkat saat anak tidur lelap.
Jakarta: Kualitas tidur, pola makan seimbang, hingga pemantauan pertumbuhan ternyata memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak.
Banyak orang tua masih berfokus pada satu faktor saja, seperti pemberian susu atau protein tinggi, padahal pertumbuhan anak dipengaruhi oleh berbagai hal yang saling berkaitan.
Saat ini, sangat penting memahami kebutuhan anak secara menyeluruh, mulai dari waktu tidur, asupan nutrisi, hingga pemantauan berat badan secara berkala.
Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan anak adalah kualitas tidur di malam hari. Waktu tidur ideal anak sebaiknya dimulai, sekitar pukul 21.00 dan berlangsung tanpa gangguan hingga setidaknya pukul 05.00 pagi.
Hal ini berkaitan dengan produksi growth hormone atau hormon pertumbuhan, yang meningkat saat anak tidur lelap.
“Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika anak tidur nyenyak antara pukul 23.00 sampai 02.00, hormon pertumbuhannya bisa meningkat, hingga empat kali lipat dibandingkan anak yang sering terbangun di malam hari,” jelas Dokter Spesialis Anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A dalam acara Health Corner “Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat” di ABETO - Menteng, Jum’at, 6 Maret 2026.

(Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A mengatakan, pertumbuhan anak membutuhkan pola makan seimbang, yang mencakup karbohidrat, lemak, dan protein. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Oleh karena itu, kualitas tidur yang terganggu, misalnya akibat ngorok karena alergi atau sering terbangun dapat memengaruhi siklus tidur sekaligus mengganggu produksi hormon pertumbuhan.
Banyak orang tua beranggapan bahwa memperbanyak protein, otomatis akan meningkatkan berat badan dan tinggi badan anak. Namun, menurut dr. Ian, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menegaskan bahwa pertumbuhan anak membutuhkan pola makan seimbang, yang mencakup karbohidrat, lemak, dan protein.
Protein memang penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh, tetapi tidak bisa bekerja optimal jika tidak disertai sumber energi lain.
“Kalau anak hanya makan protein seperti ikan atau daging, tetapi tidak makan karbohidrat dan lemak, protein itu tidak akan dimanfaatkan secara maksimal untuk pertumbuhan,” ujarnya.
Oleh karena itu, menu makanan anak sebaiknya tetap seimbang. Penambahan protein bisa dilakukan jika anak masih memiliki nafsu makan yang baik, tetapi tidak boleh menggantikan nutrisi lain.
Dr. Ian juga mengingatkan bahwa tubuh anak yang terlihat kurus tidak selalu menandakan masalah gizi.
Penilaian status gizi harus dilakukan menggunakan kurva pertumbuhan, untuk melihat keseimbangan antara berat badan dan tinggi badan.
Selain itu, faktor genetik hanya berpengaruh sekitar 20% pada anak di bawah usia lima tahun. Sebagian besar pertumbuhan dipengaruhi oleh pola makan, kesehatan, serta lingkungan.
“Selama berat badan anak tetap naik sesuai kurva, tidak perlu terlalu khawatir, meskipun tubuhnya terlihat kurus,” jelasnya.
Namun jika berat badan tidak bertambah selama beberapa bulan, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih jelas.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Banyak orang tua masih berfokus pada satu faktor saja, seperti pemberian susu atau protein tinggi, padahal pertumbuhan anak dipengaruhi oleh berbagai hal yang saling berkaitan.
Saat ini, sangat penting memahami kebutuhan anak secara menyeluruh, mulai dari waktu tidur, asupan nutrisi, hingga pemantauan berat badan secara berkala.
Tidur nyenyak berperan besar pada pertumbuhan anak
Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan anak adalah kualitas tidur di malam hari. Waktu tidur ideal anak sebaiknya dimulai, sekitar pukul 21.00 dan berlangsung tanpa gangguan hingga setidaknya pukul 05.00 pagi.
Hal ini berkaitan dengan produksi growth hormone atau hormon pertumbuhan, yang meningkat saat anak tidur lelap.
“Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika anak tidur nyenyak antara pukul 23.00 sampai 02.00, hormon pertumbuhannya bisa meningkat, hingga empat kali lipat dibandingkan anak yang sering terbangun di malam hari,” jelas Dokter Spesialis Anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A dalam acara Health Corner “Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat” di ABETO - Menteng, Jum’at, 6 Maret 2026.

(Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A mengatakan, pertumbuhan anak membutuhkan pola makan seimbang, yang mencakup karbohidrat, lemak, dan protein. Foto: Dok. Medcom.id/Secillia Nur Hafifah)
Oleh karena itu, kualitas tidur yang terganggu, misalnya akibat ngorok karena alergi atau sering terbangun dapat memengaruhi siklus tidur sekaligus mengganggu produksi hormon pertumbuhan.
Protein saja tidak cukup untuk menambah berat badan
Banyak orang tua beranggapan bahwa memperbanyak protein, otomatis akan meningkatkan berat badan dan tinggi badan anak. Namun, menurut dr. Ian, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menegaskan bahwa pertumbuhan anak membutuhkan pola makan seimbang, yang mencakup karbohidrat, lemak, dan protein.
Protein memang penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh, tetapi tidak bisa bekerja optimal jika tidak disertai sumber energi lain.
“Kalau anak hanya makan protein seperti ikan atau daging, tetapi tidak makan karbohidrat dan lemak, protein itu tidak akan dimanfaatkan secara maksimal untuk pertumbuhan,” ujarnya.
Oleh karena itu, menu makanan anak sebaiknya tetap seimbang. Penambahan protein bisa dilakukan jika anak masih memiliki nafsu makan yang baik, tetapi tidak boleh menggantikan nutrisi lain.
Tidak semua anak kurus berarti kekurangan gizi
Dr. Ian juga mengingatkan bahwa tubuh anak yang terlihat kurus tidak selalu menandakan masalah gizi.
Penilaian status gizi harus dilakukan menggunakan kurva pertumbuhan, untuk melihat keseimbangan antara berat badan dan tinggi badan.
Selain itu, faktor genetik hanya berpengaruh sekitar 20% pada anak di bawah usia lima tahun. Sebagian besar pertumbuhan dipengaruhi oleh pola makan, kesehatan, serta lingkungan.
“Selama berat badan anak tetap naik sesuai kurva, tidak perlu terlalu khawatir, meskipun tubuhnya terlihat kurus,” jelasnya.
Namun jika berat badan tidak bertambah selama beberapa bulan, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui lebih jelas.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)