FAMILY
Puasa Bukan Sekadar Lapar, Ini Cara Ramadan Bentuk Mental Anak
A. Firdaus
Selasa 24 Februari 2026 / 16:10
- Anak-anak dapat diajarkan untuk berpuasa sedini mungkin.
- Puasa dikenalkan sebagai bagian dari rutinitas yang bermakna.
- Puasa mengajarkan anak-anak tentang empati.
Jakarta: Banyak yang memandang puasa hanya sebagai kewajiban ibadah, yang dijalankan setahun sekali. Padahal bagi anak-anak, Ramadan bisa menjadi ruang belajar yang sangat kuat untuk membentuk karakter.
Ketika seorang anak mencoba menahan diri dari makan dan minum, sebenarnya ia sedang berlatih sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu disiplin, kesabaran, empati, dan rasa syukur. Jika dibimbing dengan tepat, pengalaman ini dapat menjadi fondasi penting dalam tumbuh kembang emosionalnya.
Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog., seorang ahli psikologi anak di Universitas Airlangga (UNAIR), mengatakan bahwa anak-anak dapat diajarkan untuk berpuasa sedini mungkin. Namun, orang tua tetap harus memperhatikan porsi pemikiran, dan kekuatan fisik anak dalam berpuasa.
Dr. Dewi menyatakan bahwa mengajarkan puasa kepada anak-anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Cara mengajarkan sesuatu kepada anak-anak adalah dengan membiasakan mereka melakukan hal baik, dan menjauhi hal buruk.
Jika anak sudah terbiasa, maka anak akan mudah melakukan hal-hal baik, dan tidak merasa terbebani dalam melakukannya.
Pembiasaan ini menjadi kunci. Ketika puasa dikenalkan sebagai bagian dari rutinitas yang bermakna, anak tidak hanya belajar soal aturan, tetapi juga nilai. Anak mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Menunda makan hingga waktu berbuka menjadi latihan konkret dalam pengendalian diri, kemampuan yang kelak sangat berguna dalam kehidupan sosial maupun akademik.
Beberapa manfaat mengajarkan puasa kepada anak-anak sedini mungkin, antara lain dapat mengajarkan anak-anak untuk menjadi anak-anak yang saleh, mengajarkan anak-anak untuk menghormati orang-orang yang kurang beruntung.
Selain itu, puasa mengajarkan anak-anak tentang empati terhadap orang lain, membentuk anak-anak untuk lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki, dan dapat membantu anak-anak untuk berlatih dalam hal pengendalian diri.
“Dengan belajar puasa sejak dini, akan lebih mudah bagi anak-anak untuk diajarkan tentang empati, menghormati orang lain, dan bersyukur. Puasa dapat digunakan sebagai sarana agar anak-anak memahami ketika orang lain tidak makan, sehingga mereka akan merasa bersyukur ketika masih bisa makan dan juga memahami orang lain yang tidak mampu membeli makanan atau mengalami kelaparan,” ujar Dr. Dewi.
Dari sudut pandang psikologis, pengalaman menahan diri ini membantu anak mengenali emosi dan belajar mengelolanya. Rasa lapar, bosan, atau keinginan untuk menyerah menjadi momen latihan regulasi diri. Ketika berhasil melewatinya, muncul rasa bangga yang memperkuat kepercayaan diri.
Dengan pendekatan yang hangat dan konsisten, puasa dapat menjadi laboratorium kecil pembentukan karakter. Bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi proses pendidikan nilai yang membekas jauh melampaui bulan Ramadan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Ketika seorang anak mencoba menahan diri dari makan dan minum, sebenarnya ia sedang berlatih sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu disiplin, kesabaran, empati, dan rasa syukur. Jika dibimbing dengan tepat, pengalaman ini dapat menjadi fondasi penting dalam tumbuh kembang emosionalnya.
Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog., seorang ahli psikologi anak di Universitas Airlangga (UNAIR), mengatakan bahwa anak-anak dapat diajarkan untuk berpuasa sedini mungkin. Namun, orang tua tetap harus memperhatikan porsi pemikiran, dan kekuatan fisik anak dalam berpuasa.
Dr. Dewi menyatakan bahwa mengajarkan puasa kepada anak-anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Cara mengajarkan sesuatu kepada anak-anak adalah dengan membiasakan mereka melakukan hal baik, dan menjauhi hal buruk.
Jika anak sudah terbiasa, maka anak akan mudah melakukan hal-hal baik, dan tidak merasa terbebani dalam melakukannya.
Pembiasaan ini menjadi kunci. Ketika puasa dikenalkan sebagai bagian dari rutinitas yang bermakna, anak tidak hanya belajar soal aturan, tetapi juga nilai. Anak mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Menunda makan hingga waktu berbuka menjadi latihan konkret dalam pengendalian diri, kemampuan yang kelak sangat berguna dalam kehidupan sosial maupun akademik.
Beberapa manfaat mengajarkan puasa kepada anak-anak sedini mungkin, antara lain dapat mengajarkan anak-anak untuk menjadi anak-anak yang saleh, mengajarkan anak-anak untuk menghormati orang-orang yang kurang beruntung.
Selain itu, puasa mengajarkan anak-anak tentang empati terhadap orang lain, membentuk anak-anak untuk lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki, dan dapat membantu anak-anak untuk berlatih dalam hal pengendalian diri.
“Dengan belajar puasa sejak dini, akan lebih mudah bagi anak-anak untuk diajarkan tentang empati, menghormati orang lain, dan bersyukur. Puasa dapat digunakan sebagai sarana agar anak-anak memahami ketika orang lain tidak makan, sehingga mereka akan merasa bersyukur ketika masih bisa makan dan juga memahami orang lain yang tidak mampu membeli makanan atau mengalami kelaparan,” ujar Dr. Dewi.
Dari sudut pandang psikologis, pengalaman menahan diri ini membantu anak mengenali emosi dan belajar mengelolanya. Rasa lapar, bosan, atau keinginan untuk menyerah menjadi momen latihan regulasi diri. Ketika berhasil melewatinya, muncul rasa bangga yang memperkuat kepercayaan diri.
Dengan pendekatan yang hangat dan konsisten, puasa dapat menjadi laboratorium kecil pembentukan karakter. Bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi proses pendidikan nilai yang membekas jauh melampaui bulan Ramadan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)