COMMUNITY
Drg. Ita Lestari Ingatkan Bahwa Bisnis Wajib Kasih Dampak Nyata!
Yatin Suleha
Selasa 11 Agustus 2026 / 08:05
- Founder sekaligus CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, MARS, sempat membagikan sudut pandang menarik buat para pebisnis di bidang kesehatan.
- Menurutnya, pertumbuhan bisnis itu enggak cuma diukur dari seberapa banyak omzet naik atau seberapa banyak cabang yang dibuka.
- Tapi dari seberapa besar dampak positif yang bisa dirasakan oleh pelanggan, tim, dan masyarakat sekitar.
Jakarta: Founder sekaligus CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, MARS, sempat membagikan sudut pandang menarik buat para pebisnis di bidang kesehatan.
Menurutnya, pertumbuhan bisnis itu enggak cuma diukur dari seberapa banyak omzet naik atau seberapa banyak cabang yang dibuka, tapi dari seberapa besar dampak positif yang bisa dirasakan oleh pelanggan, tim, dan masyarakat sekitar.
Pesan itu disampaikan drg. Ita saat hadir di acara Clinic Growth Masterclass for Owner yang diadain sama Aksoro Business School.
Di sana, ia sempat cerita perjalanan FDC dari klinik gigi sederhana sampai akhirnya menjelma jadi ekosistem layanan kesehatan gigi berbasis teknologi seperti sekarang.
Drg. Ita juga menekankan, kalau mau bisnisnya berkembang, seorang founder harus punya growth mindset. Cara berpikirnya perlu bergeser dari sekadar sibuk menjalankan operasional harian, jadi fokus membangun sistem, memberdayakan manusia, dan menciptakan dampak yang nyata.
Lewat berbagai studi kasus, drg. Ita mengajak para peserta buat merenungkan tiga keputusan krusial yang wajib diambil oleh seorang business owner saat lagi mau berekspansi, yaitu: Where to Grow (mau tumbuh ke mana), Who to Build (siapa yang harus dibangun atau dilibatkan), dan What Impact to Create (dampak apa yang mau diciptakan).
Ia juga berpesan, kalau mau ekspansi, pemilik klinik mestinya berpijak pada masalah dan kebutuhan riil di tengah masyarakat yang pengin diselesaikan, bukannya sekadar melihat potensi pasar yang besar.
Sebagai contoh nyata, FDC sendiri awalnya tumbuh dan berkembang dari niat untuk mengatasi tiga hal utama yang sering bikin masyarakat malas ke dokter gigi: stigma kalau perawatan gigi itu mahal, rasa takut saat ketemu dokter gigi, dan prosesnya yang sering dianggap ribet serta lama.
“Pertumbuhan perusahaan seharusnya memperbesar manfaat, bukan hanya revenue. Ketika bisnis semakin besar, akses kesehatan, kualitas pelayanan, kesempatan bagi tim untuk berkembang, dan dampak kepada masyarakat juga harus ikut bertumbuh,” ujar drg. Ita.
Selain soal strategi bisnis, pertumbuhan ternyata juga nuntut seorang founder buat terus mengasah kemampuan kepemimpinannya.
.jpeg)
(Pertumbuhan bisnis dinilai dari dampak positif, bukan cuma omzet. Foto: Dok. Istimewa)
Lewat materinya yang berjudul Leadership Journey: From Me, We, Us, drg. Ita menjelaskan gimana evolusi gaya kepemimpinan itu berjalan: mulai dari leading myself (memimpin diri sendiri), leading people (memimpin orang lain), sampai akhirnya sampai di tahap leading impact (memberikan dampak yang luas).
Di FDC sendiri, pola pikir itu diaplikasikan lewat berbagai cara, mulai dari peningkatan kompetensi, pelatihan rutin, memerhatikan kesejahteraan serta apresiasi buat tim, menyiapkan calon-calon pemimpin baru, sampai nerapin budaya kerja yang kuat seperti customer first, integrity, learning and growth, dan continuous improvement.
Semua prinsip penting itu dirangkum rapi dalam ITA Leadership Value, yaitu: Impact, Trust, dan Agility.
Menurut drg. Ita, kalau sebuah bisnis mau naik tingkat (scale up), para pemimpinnya wajib banget bisa menciptakan impact, membangun rasa percaya (trust) di dalam tim, serta punya agility (kelincahan) buat terus berinovasi, beradaptasi, mengeksekusi ide, dan membangun sistem yang kokoh.
Hasilnya? Sekarang FDC udah punya sekitar 70 cabang yang tersebar dari Medan sampai Sorong, dengan catatan lebih dari 60 ribu reservasi setiap bulannya atau setara dengan 2.000 pasien per hari.
Menariknya lagi, beberapa cabang baru tersebut justru diawali dari kegiatan sosial alias CSR lewat FDC Foundation.
“Sebagai contoh paska kegiatan sosial di Sorong, melihat kebutuhan masyarakat untuk akses layanan dokter gigi, lalu membuka cabang di Sorong, begitupun saat membuka cabang di Sukabumi, setelah FDC melakukan kegiatan sosial di Ciptagelar,” tambahnya.
Enggak cuma fokus di dunia kesehatan gigi aja, FDC ternyata juga melebarkan sayap komitmennya ke ranah sport lifestyle dan edukasi kesehatan.
Buktinya, baru-baru ini mereka sempat mensponsori beberapa kegiatan olahraga, termasuk ngasih dukungannya buat pertandingan seru Timnas Indonesia lawan Vietnam pada 3 Agustus kemarin.
Selain itu, FDC juga turut mendukung atlet aerobik kebanggaan Indonesia, Makahanap Reyndi Varenain, buat bertanding di ajang FIG Aerobic Gymnastics World Cup 2026 yang diadain tanggal 27–29 Juni 2026 lalu di Nanchang, China.
Sementara itu, acara Clinic Growth Masterclass sendiri sukses menarik sekitar 200 peserta yang hadir secara offline maupun online.
Pesertanya pun beragam banget, mulai dari dokter yang juga pemilik klinik, para founder, praktisi, sampai profesional dari berbagai bidang kesehatan.
Lewat program yang digagas sama Aksoro Business School ini, para pemilik bisnis klinik diajak buat memperkuat kapasitas mereka dalam membangun bisnis yang pertumbuhannya sehat dan berkelanjutan ke depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Menurutnya, pertumbuhan bisnis itu enggak cuma diukur dari seberapa banyak omzet naik atau seberapa banyak cabang yang dibuka, tapi dari seberapa besar dampak positif yang bisa dirasakan oleh pelanggan, tim, dan masyarakat sekitar.
Pesan itu disampaikan drg. Ita saat hadir di acara Clinic Growth Masterclass for Owner yang diadain sama Aksoro Business School.
Di sana, ia sempat cerita perjalanan FDC dari klinik gigi sederhana sampai akhirnya menjelma jadi ekosistem layanan kesehatan gigi berbasis teknologi seperti sekarang.
Drg. Ita juga menekankan, kalau mau bisnisnya berkembang, seorang founder harus punya growth mindset. Cara berpikirnya perlu bergeser dari sekadar sibuk menjalankan operasional harian, jadi fokus membangun sistem, memberdayakan manusia, dan menciptakan dampak yang nyata.
Lewat berbagai studi kasus, drg. Ita mengajak para peserta buat merenungkan tiga keputusan krusial yang wajib diambil oleh seorang business owner saat lagi mau berekspansi, yaitu: Where to Grow (mau tumbuh ke mana), Who to Build (siapa yang harus dibangun atau dilibatkan), dan What Impact to Create (dampak apa yang mau diciptakan).
Ia juga berpesan, kalau mau ekspansi, pemilik klinik mestinya berpijak pada masalah dan kebutuhan riil di tengah masyarakat yang pengin diselesaikan, bukannya sekadar melihat potensi pasar yang besar.
Sebagai contoh nyata, FDC sendiri awalnya tumbuh dan berkembang dari niat untuk mengatasi tiga hal utama yang sering bikin masyarakat malas ke dokter gigi: stigma kalau perawatan gigi itu mahal, rasa takut saat ketemu dokter gigi, dan prosesnya yang sering dianggap ribet serta lama.
“Pertumbuhan perusahaan seharusnya memperbesar manfaat, bukan hanya revenue. Ketika bisnis semakin besar, akses kesehatan, kualitas pelayanan, kesempatan bagi tim untuk berkembang, dan dampak kepada masyarakat juga harus ikut bertumbuh,” ujar drg. Ita.
Selain soal strategi bisnis, pertumbuhan ternyata juga nuntut seorang founder buat terus mengasah kemampuan kepemimpinannya.
.jpeg)
(Pertumbuhan bisnis dinilai dari dampak positif, bukan cuma omzet. Foto: Dok. Istimewa)
Lewat materinya yang berjudul Leadership Journey: From Me, We, Us, drg. Ita menjelaskan gimana evolusi gaya kepemimpinan itu berjalan: mulai dari leading myself (memimpin diri sendiri), leading people (memimpin orang lain), sampai akhirnya sampai di tahap leading impact (memberikan dampak yang luas).
Di FDC sendiri, pola pikir itu diaplikasikan lewat berbagai cara, mulai dari peningkatan kompetensi, pelatihan rutin, memerhatikan kesejahteraan serta apresiasi buat tim, menyiapkan calon-calon pemimpin baru, sampai nerapin budaya kerja yang kuat seperti customer first, integrity, learning and growth, dan continuous improvement.
Semua prinsip penting itu dirangkum rapi dalam ITA Leadership Value, yaitu: Impact, Trust, dan Agility.
Menurut drg. Ita, kalau sebuah bisnis mau naik tingkat (scale up), para pemimpinnya wajib banget bisa menciptakan impact, membangun rasa percaya (trust) di dalam tim, serta punya agility (kelincahan) buat terus berinovasi, beradaptasi, mengeksekusi ide, dan membangun sistem yang kokoh.
Hasilnya? Sekarang FDC udah punya sekitar 70 cabang yang tersebar dari Medan sampai Sorong, dengan catatan lebih dari 60 ribu reservasi setiap bulannya atau setara dengan 2.000 pasien per hari.
Menariknya lagi, beberapa cabang baru tersebut justru diawali dari kegiatan sosial alias CSR lewat FDC Foundation.
“Sebagai contoh paska kegiatan sosial di Sorong, melihat kebutuhan masyarakat untuk akses layanan dokter gigi, lalu membuka cabang di Sorong, begitupun saat membuka cabang di Sukabumi, setelah FDC melakukan kegiatan sosial di Ciptagelar,” tambahnya.
Enggak cuma fokus di dunia kesehatan gigi aja, FDC ternyata juga melebarkan sayap komitmennya ke ranah sport lifestyle dan edukasi kesehatan.
Buktinya, baru-baru ini mereka sempat mensponsori beberapa kegiatan olahraga, termasuk ngasih dukungannya buat pertandingan seru Timnas Indonesia lawan Vietnam pada 3 Agustus kemarin.
Selain itu, FDC juga turut mendukung atlet aerobik kebanggaan Indonesia, Makahanap Reyndi Varenain, buat bertanding di ajang FIG Aerobic Gymnastics World Cup 2026 yang diadain tanggal 27–29 Juni 2026 lalu di Nanchang, China.
Sementara itu, acara Clinic Growth Masterclass sendiri sukses menarik sekitar 200 peserta yang hadir secara offline maupun online.
Pesertanya pun beragam banget, mulai dari dokter yang juga pemilik klinik, para founder, praktisi, sampai profesional dari berbagai bidang kesehatan.
Lewat program yang digagas sama Aksoro Business School ini, para pemilik bisnis klinik diajak buat memperkuat kapasitas mereka dalam membangun bisnis yang pertumbuhannya sehat dan berkelanjutan ke depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)