FITNESS & HEALTH
1 Tahun CKG: Pemerintah Targetkan Seluruh Temuan Penyakit Ditindaklanjuti Tuntas
Yatin Suleha
Minggu 16 Agustus 2026 / 10:05
- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) buat anak-anak dipastikan gak bakal berhenti di pemeriksaan awal doang.
- Pemerintah benar-benar serius mastiin kalau setiap masalah kesehatan yang ketemu.
- Mulai dari gigi berlubang sampai risiko gangguan mental, bakal diobati sampai tuntas.
Jakarta: Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) buat anak-anak dipastikan gak bakal berhenti di pemeriksaan awal doang. Pemerintah benar-benar serius mastiin kalau setiap masalah kesehatan yang ketemu, mulai dari gigi berlubang sampai risiko gangguan mental, bakal diobati sampai tuntas biar kondisi anak gak makin parah ke depannya.
Hal itu ditegaskan dalam Diskusi Publik bertajuk “Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?” yang diadain sama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bareng Forum Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Wahana Visi Indonesia (WVI), Inke Maris & Associates, dan Reconstra di Kantor Kemenkes, Jakarta, hari Kamis (13/8) lalu.
Berdasarkan hasil evaluasi program dari Februari 2025 sampai Februari 2026, tercatat sudah ada 23,5 juta anak yang ikut CKG. Tapi, masih ada PR besar karena jomplangnya angka anak yang ikut periksa sama anak yang benar-benar lanjut berobat.
Data dari CKG ini juga nunjukin beberapa hal penting yang harus diwaspadai:
- Sebanyak 95 persen balita yang punya risiko tuberkulosis (TB) ternyata belum sempat lanjut tes konfirmasi.
- Ada juga temuan kasus anemia, tekanan darah yang cenderung naik, masalah kesehatan mental, sampai kasus gigi berlubang alias karies yang angkanya tembus 100 persen di anak-anak SMP dan SMA.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, sempat menyooti masalah karies gigi ini. Ia bilang, fasilitas di puskesmas harus segera ditingkatin supaya gak cuma bisa buat periksa aja, tapi juga beneran bisa nangani pengobatannya.
“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. 30 sampai 40 persen giginya bermasalah. Nomor 1 karies, nomor 2 masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujar Menkes Budi.
Selain kesehatan fisik, Menkes Budi juga menyoroti pentingnya pendampingan kesehatan mental remaja. Anak usia SMP dan SMA yang terindikasi mengalami kecemasan atau depresi harus segera difasilitasi dengan layanan konseling.
.jpg)
(“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. 30 sampai 40 persen giginya bermasalah. Nomor 1 karies, nomor 2 masalah gusi,” ujar Menkes Budi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Hal ini dapat dilakukan melalui platform telemedisin maupun penguatan peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.
Di sisi lain, perwakilan Forum Anak menekankan perlu adanya transparansi hasil diagnosis. Hasbi, salah satu siswa yang mengikuti program CKG di sekolahnya, mengaku tidak pernah menerima hasil kesehatannya secara utuh.
“Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (Hemoglobin/Sel Darah Merah). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja,” tutur Hasbi.
Akibat kurangnya edukasi dan lambatnya rujukan medis, Hasbi bahkan harus menjalani pencabutan gigi pada usia 15 tahun karena telat tertangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi mendukung penuh pelibatan anak secara aktif. Ia menegaskan, hasil skrining tidak boleh sekadar menjadi arsip pemerintah.
“Data ini bukan hanya angka mati di komputer, tetapi harus disampaikan kepada orang tua agar mereka tahu kondisi anaknya dan langkah edukasi apa yang harus dilakukan selanjutnya,” kata Arifatul.
Ia mendorong kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Pendidikan, Tim Penggerak PKK, hingga Forum Anak di tingkat kelurahan untuk memastikan intervensi kesehatan berjalan masif dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
Sebagai wujud nyata evaluasi, mulai tahun 2027, keberhasilan program CKG tidak lagi diukur dari seberapa banyak anak yang diperiksa, melainkan dari rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani.
Kemenkes juga berkomitmen menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki "rapor kesehatan" berstatus kuning atau merah.
Diskusi publik ini pada akhirnya merumuskan lima arah penguatan CKG Anak ke depan, yang mencakup: pemenuhan hak dan kenyamanan anak dalam skrining, jaminan kerahasiaan data medis, integrasi CKG dengan program Makan Bergizi Gratis di sekolah, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pelibatan aktif masyarakat sipil dalam pemantauan program.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Hal itu ditegaskan dalam Diskusi Publik bertajuk “Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?” yang diadain sama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bareng Forum Risk Communication and Community Engagement (RCCE), Wahana Visi Indonesia (WVI), Inke Maris & Associates, dan Reconstra di Kantor Kemenkes, Jakarta, hari Kamis (13/8) lalu.
Berdasarkan hasil evaluasi program dari Februari 2025 sampai Februari 2026, tercatat sudah ada 23,5 juta anak yang ikut CKG. Tapi, masih ada PR besar karena jomplangnya angka anak yang ikut periksa sama anak yang benar-benar lanjut berobat.
Data dari CKG ini juga nunjukin beberapa hal penting yang harus diwaspadai:
- Sebanyak 95 persen balita yang punya risiko tuberkulosis (TB) ternyata belum sempat lanjut tes konfirmasi.
- Ada juga temuan kasus anemia, tekanan darah yang cenderung naik, masalah kesehatan mental, sampai kasus gigi berlubang alias karies yang angkanya tembus 100 persen di anak-anak SMP dan SMA.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, sempat menyooti masalah karies gigi ini. Ia bilang, fasilitas di puskesmas harus segera ditingkatin supaya gak cuma bisa buat periksa aja, tapi juga beneran bisa nangani pengobatannya.
“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. 30 sampai 40 persen giginya bermasalah. Nomor 1 karies, nomor 2 masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujar Menkes Budi.
Selain kesehatan fisik, Menkes Budi juga menyoroti pentingnya pendampingan kesehatan mental remaja. Anak usia SMP dan SMA yang terindikasi mengalami kecemasan atau depresi harus segera difasilitasi dengan layanan konseling.
.jpg)
(“Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. 30 sampai 40 persen giginya bermasalah. Nomor 1 karies, nomor 2 masalah gusi,” ujar Menkes Budi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Hal ini dapat dilakukan melalui platform telemedisin maupun penguatan peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.
Di sisi lain, perwakilan Forum Anak menekankan perlu adanya transparansi hasil diagnosis. Hasbi, salah satu siswa yang mengikuti program CKG di sekolahnya, mengaku tidak pernah menerima hasil kesehatannya secara utuh.
“Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (Hemoglobin/Sel Darah Merah). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja,” tutur Hasbi.
Akibat kurangnya edukasi dan lambatnya rujukan medis, Hasbi bahkan harus menjalani pencabutan gigi pada usia 15 tahun karena telat tertangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi mendukung penuh pelibatan anak secara aktif. Ia menegaskan, hasil skrining tidak boleh sekadar menjadi arsip pemerintah.
“Data ini bukan hanya angka mati di komputer, tetapi harus disampaikan kepada orang tua agar mereka tahu kondisi anaknya dan langkah edukasi apa yang harus dilakukan selanjutnya,” kata Arifatul.
Ia mendorong kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Pendidikan, Tim Penggerak PKK, hingga Forum Anak di tingkat kelurahan untuk memastikan intervensi kesehatan berjalan masif dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
Sebagai wujud nyata evaluasi, mulai tahun 2027, keberhasilan program CKG tidak lagi diukur dari seberapa banyak anak yang diperiksa, melainkan dari rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani.
Kemenkes juga berkomitmen menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki "rapor kesehatan" berstatus kuning atau merah.
Diskusi publik ini pada akhirnya merumuskan lima arah penguatan CKG Anak ke depan, yang mencakup: pemenuhan hak dan kenyamanan anak dalam skrining, jaminan kerahasiaan data medis, integrasi CKG dengan program Makan Bergizi Gratis di sekolah, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta pelibatan aktif masyarakat sipil dalam pemantauan program.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)