Ilustrasi kilang minyak PT Pertamina (Persero) - - Foto: dok Pertamina
Ilustrasi kilang minyak PT Pertamina (Persero) - - Foto: dok Pertamina

Pertamina dan Mimpi Besar Bung Karno

Desi Angriani • 24 Oktober 2021 14:49
Jakarta: 'Impian terbesar Bung Karno saat itu ingin menjadikan Permina sebagai perusahaan minyak terbesar di Asia. Bahkan menjadi pemain besar dunia'. Begitu tulis Presiden Joko Widodo tujuh tahun lalu di laman Facebooknya atau tepat satu bulan setelah dilantik sebagai kepala negara.
 
Jokowi bercerita lika-liku berdirinya Permina atau yang sekarang dikenal dengan PT Pertamina (Persero) hampir serupa dengan sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Permina atau PT Perusahaan Minyak Nasional ini lahir pada 10 Desember 1957 ketika Soekarno menunjuk angkatan darat untuk mengelola ladang minyak di wilayah Sumatra.
 
Saat itu, Kolonel Ibnu Sutowo terpilih untuk memimpin PT Exploitasi Tambang Minyak Sumatera (PT ETMSU). Dalam perjalanannya, ia mengubah status PT Permina menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina dan menggabungkannya dengan PN Pertamin. Sejak saat itu, lahirlah PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) pada 20 Agustus 1968.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di bawah kepemimpinan Sutowo, Pertamina berhasil mendirikan barisan kilang minyak hingga melakukan ekspansi bisnis di luar bidang perminyakan. Di antaranya, pengolahan baja Krakatau Steel, perhotelan, real estat, hingga angkutan udara.
 
Keuntungan yang diraih Pertamina semakin melimpah ruah lantaran meroketnya harga minyak mentah pada 1970. Sayangnya, setelah dieksploitasi besar-besaran di masa Orde Baru, Pertamina harus menghadapi karut-marut politik dalam negeri. Bahkan kesalahan pengelolaan dan tudingan korupsi hampir menyebabkan BUMN migas ini bangkrut.
 
"Lika liku sejarah Pertamina sendiri seolah serupa dengan sejarah bangsa ini, ada masa jatuhnya, ada masa bangunnya. Kini Pertamina menjadi perusahaan terbaik dunia ke-122 dari 500 perusahaan besar dunia tahun 2013, tentunya kita ingin lebih dari itu," tulis Jokowi dalam akun facebook yang terverifikasi (Presiden Joko Widodo), Sabtu, 29 November 2014, pukul 09.00 WIB.
 
Meski Pertamina berhasil mengungguli perusahaan-perusahaan raksasa seperti Coca-Cola, Repsol, Tesla, dan Danone dalam Fortune Global 500 pada 2021, Jokowi ingin Pertamina meraih daftar top 50 perusahaan terbesar dunia dari peringkat 287 saat ini.
 
Hal tersebut demi mewujudkan mimpi besar sang proklamator agar Pertamina tak hanya menciptakan kemandirian energi tapi menjadi kiblat bisnis minyak di Asia. Memang tak mudah, tapi jatuh bangun selama enam dekade diyakini dapat mendorong Pertamina terbang lebih tinggi.
 
Pertamina dan Mimpi Besar Bung Karno
Grafis prestasi yang ditorehkan Pertamina 2021 - - Foto: sumber Pertamina

Restrukturisasi Pertamina dan kembalinya Blok Rokan

Sudah enam dekade, Pertamina memproduksi banyak komoditas seperti bahan bakar, minyak tanah, LPG (Bahan bakar gas cair), LNG (gas bumi cair), dan petrokimia.
 
Sepanjang itu pula, Pertamina melahirkan anak dan cucu perusahaan hingga mencapai 127. Besarnya jumlah anak usaha tersebut membuat perseroan kesulitan dalam mengelola dan menyusun rencana strategisnya.
 
Karena itu, bergulirlah wacana restrukturisasi yang diusulkan oleh pemegang saham mayoritas yakni Kementerian BUMN. Restrukturisasi dilakukan dengan memangkas jumlah anak perusahaan dari 127 menjadi 12. Kedua belas anak perusahaan tersebut dikelola oleh enam subholding Pertamina.
 
Berikut 6 subholding pertamina setelah restrukturisasi:
  1. Upstream
  2. Refining and petrochemical
  3. Commercial and trading
  4. Gas
  5. Integrated marine logistics
  6. Power and new renewable energy
Pertamina dan Mimpi Besar Bung Karno
Ilustrasi proses restrukturisasi Pertamina - - Foto: sumber Pertamina
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan dalam melakukan restrukturisasi, pihaknya mengacu pada benchmark perusahaan multinasional yang bergerak di bidang energi seperti Petronas. Perusahaan minyak asal Negeri Jiran tersebut diketahui telah melakukan pengelompokan bisnis. Termasuk British Petroleum (BP), dan ExxonMobil.
 
"Jadi spin off ini lebih berdasarkan pada value chain dari hulu ke hilir kemudian dibentuk menjadi anak usaha. Dalam menyusun ini kami bukan hanya guidance dari buku putih Kementerian BUMN dan Kemenkeu tapi juga melakukan benchmark," jelas Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Kamis, 20 Mei 2021.
 
Proses legal restrukturisasipun tuntas dengan terbitnya Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara Uji Materiil Nomor 61/PUU-XVIII/2020. MK menegaskan bahwa Restrukturisasi Pertamina Group menjadi Holding & Subholding tidak melanggar konstitusi dan tidak  menghilangkan pengendalian negara terhadap BUMN.
 
Melalui restrukturisasi ini, Pertamina akan tancap gas dalam mengembangkan bisnis sekaligus menjalankan amanah pemerintah dalam penyediaan energi sesuai prinsip Availability, Affordability, Accessibility, Acceptability, dan Sustainability (4A &1S).
 
Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza menilai restrukturisasi Pertamina merupakan aksi korporasi yang tidak melanggar konstitusi dan undang-undang tentang BUMN. Bahkan, restrukturisasi tidak akan menghilangkan campur tangan pemerintah terhadap BUMN.
 
Di sisi lain, IPO juga bisa membuat pengelolaan perusahaan bersifat transparan dan terbuka. Melalui keterbukaan tersebut, kinerja perusahaan bahkan dapat dimonitor oleh publik.
 
"Ini tentu sangat positif. Publik bisa melihat dan menilai, apakah kinerja perusahaan baik atau tidak," jelasnya dilansir dari Mediaindonesia.com, Senin, 4 Oktober 2021.
 
Setelah setahun mengalami restrukturisasi, kini pembagian tugas antara induk perusahaan dan subholding di tubuh Pertamina menjadi lebih jelas. Hasilnya kinerja operasional semakin meningkat.
 
Menurut Menteri BUMN Erick Thohir, transformasi yang dilakukan itu telah mendorong efisiensi Pertamina untuk menjadi lebih baik dan membuahkan hasil yang signifikan di antaranya penemuan sumber migas baru hingga 204 juta barel.
 
Perbaikan kinerja ini tercermin dari raihan laba Pertamina sepanjang semester I-2021 yang mencapai RP2,6 triliun. Dibandingkan periode yang sama 2020, perseroan sempat mengalami kerugian sebesar USD768 juta. Namun, capaian laba ini meningkat USD951 juta atau setara dengan Rp13,6 triliun.
 
Pertamina dan Mimpi Besar Bung Karno
Ilustrasi kinerja Pertamina 2020 - - Foto: sumber Pertamina
 
Kinerja positif pada paruh pertama tahun ini didorong dari pertumbuhan di sisi penjualan yang mencapai USD25 miliar dan EBITDA USD3,3 miliar. Keduanya naik lebih dari 22 persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan kinerja subholding refinery and petrochemical pun mencatatkan laba sebesar USD322 juta dolar pada semester I-2021.
 
"Selama ini kita kekurangan sumber penemuan gas dan minyak. Setelah dikonsolidasi, kita dapat temuan baru 204 juta barel Dan yang terpenting, hulu sekarang untung USD1 miliar, di atas target jauh," terang dia.
 
 
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif