Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Pola Belanja Masyarakat Bergeser

Ekonomi Virus Korona transaksi non tunai Analisis Ekonomi Ekonomi Indonesia Pemulihan Ekonomi Nasional
Angga Bratadharma • 09 September 2020 13:32
PANDEMI covid-19 kian mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan ini lantaran jumlah kasus infeksi terus melonjak secara signifikan. Kondisi itu membuat pemerintah kembali memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar mengedepankan penerapan protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran covid-19.
 
Mengutip data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Rabu, 9 September 2020, pasien sembuh dari covid-19 per 8 September, sudah menembus angka 142.958 kasus. Kementerian Kesehatan mencatat ada penambahan kesembuhan sebanyak 2.306 kasus.
 
DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan jumlah kesembuhan tertinggi secara harian, yakni bertambah 929 kasus. Dengan jumlah kumulatif sebanyak 36.383 kasus. Diikuti Jawa Timur yang mencatatkan kesembuhan sebanyak 342 kasus dan kumulatifnya mencapai 28.731 kasus. Lalu Jawa Tengah menambahkan 148 kasus dan kumulatifnya mencapai 10.329 kasus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah kasus aktif per 8 September, sejumlah 48.847 kasus. Pada penambahan kasus positif baru secara nasional ada 3.046 kasus dan kini jumlah kumulatifnya mencapai 200.035 kasus. DKI Jakarta juga masih mencatatkan penambahan tertinggi sebanyak 1.014 kasus dan kumulatifnya kini menjadi 48.393 kasus.
 
Selain itu penambahan kasus kematian harian sebanyak 100 kasus dan kumulatifnya mencapai 8.230 kasus. Jumlah kematian harian tertinggi berada di Jawa Timur dengan 32 kasus dan totalnya mencapai 2.608 kasus. DKI Jakarta mengikuti dengan tambahan harian 21 kasus dan totalnya mencapai 1.317 kasus.
 
Untuk jumlah suspek per 8 September, tercatat ada 90.952 kasus dan 32.642 spesimen yang diperiksa. Dari sebaran wilayah terjadi di 34 provinsi dan 489 kabupaten/kota.
 
Pola Belanja Masyarakat Bergeser
 
Meski kenaikannya cukup mengkhawatirkan, namun tidak dipungkiri banyak dari masyarakat yang tetap patuh dengan imbauan pemerintah terkait penerapan protokol kesehatan guna memutus mata rantai penyebaran covid-19. Di antara yang dilakukan adalah mengurangi interaksi dan berbelanja secara daring ketimbang fisik.
 
Lazada Indonesia, misalnya, menganalisis dari data perusahaannya bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai terbiasa berbelanja secara daring di tengah pandemi covid-19. Hal itu yang membuat Lazada Indonesia terus mengoptimalkan berbagai macam strategi untuk memacu bisnis mengingat e-commerce masih memiliki peluang pasar sangat besar di Indonesia.
 
Chief Marketing Officer Lazada Indonesia Monika Rudijono membenarkan ada pergeseran pola berbelanja masyarakat terutama saat masa awal pandemi covid-19 dan sesudah. Di Lazada, lanjutnya, pada awal pandemi pembelanjaan berfokus pada hal-hal yang sifatnya kebutuhan mendasar atau kebutuhan sehari-hari dan yang berkaitan dengan kesehatan.

"Sedangkan ke sini terlihat hal yang menarik karena sekarang masyarakat berbelanja seperti peralatan olahraga, peralatan berkebun, hingga memasak. Jadi hal-hal yang sifatnya lebih ke hobi," kata Monika.
 
Sedangkan memasuki era kenormalan baru sekarang ini, lanjutnya, masyarakat sudah mulai normal dalam berbelanja. Hal itu terlihat dengan industri pakaian mulai kembali bangkit usai terhantam di awal masuknya covid-19. Kondisi itu juga meyakini Monika bahwa masyarakat sudah mulai terbiasa berbelanja secara daring.
 
"Masyarakat sudah mulai terbiasa dengan berbelanja secara daring. Dan dari segi pengunjung kami melihat angkanya stabil. Terjadi peningkatan dan stabil," tukas Monika.
 
Belanja Daring Melonjak
 
Pada Juni 2020, Bank Indonesia (BI) mencatat penerimaan (akseptasi) masyarakat terhadap perdagangan elektronik semakin meningkat. Bahkan transaksi belanja daring (e-commerce) melonjak tajam selama masa pandemi covid-19. BI mencatat penjualan di e-commerce naik sebanyak 26 persen dari rata-rata penjualan pada kuartal II-2019.
 
Sedangkan nilai penjualan yang dibukukan e-commerce mencapai USD2,4 miliar atau setara Rp33,84 triliun (kurs Rp14.100 per USD). Kemudian transaksi harian di e-commerce pada April 2020 tercatat naik menjadi 4,8 juta transaksi, dari 3,1 juta transaksi pada kuartal II-2019. Konsumen baru meningkat 51 persen, dan permintaan melonjak lima hingga 10 kali.
 
Adapun potensi e-commerce untuk riding the wave diperkuat dengan porsi transaksi Business to Customer (B2C) yang semakin meningkat di masyarakat. Covid-19 dinilai menjadi akseleran utama dalam peningkatan penerimaan masyarakat terhadap perdagangan elektronik.
 
Kondisi itu yang membuat pondasi digital masyarakat Indonesia menjadi potensi besar untuk terus mendorong digitalisasi dan mulai terlihat perubahan pola perilaku masyarakat, khususnya terkait peningkatan transaksi e-tailing dan e-groceries, dan penggunaan digital payment.
 
Pola Belanja Masyarakat Bergeser
 
Sementara, porsi transaksi B2C yang semakin meningkat di e-commerce terutama didorong oleh bergesernya model bisnis Fast Moving Consumer Goods (FMCG), misalnya, Unilever dan P&G ke direct selling melalui e-commerce selama masa pandemi.
 
"Kalau dulu perusahaan besar itu buka toko-toko besar, kemudian ada wholesale ritel, mereka sekarang pedagang besar juga masuk ke sektor e-commerce. Ini justru jadi peluang sekaligus tantangan untuk bagaimana kita mendigitalkan UMKM secara cepat sehingga bisa melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat di daerah," kata Gubernur BI Perry Warjiyo
 
Bertransaksi Nontunai
 
Perubahan pola berbelanja masyarakat sejalan dengan kenaikan transaksi nontunai di Tanah Air. Hal itu juga sesuai keinginan dari otoritas moneter yakni Bank Indonesia agar transaksi nontunai dipergunakan masyarakat ketimbang transaksi tunai, karena lebih aman, nyaman, dan mengurangi biaya pencetakan uang fisik.
 
ShopeePay dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), misalnya, berkolaborasi untuk turut mendorong masyarakat bertransaksi secara nontunai, terutama di tengah pandemi covid-19 sekarang ini. Penggunaan transaksi tersebut menjadi penting guna memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang kembali meresahkan.

Salah satu cara yang dilakukan Alfamart untuk mendorong masyarakat bertransaksi secara nontunai yakni dengan ikut serta dalam kampanye ShopeePay. Kampanye tersebut dilakukan untuk mendorong transaksi nontunai di gerai-gerai Alfamart guna meminimalisir penyebaran virus covid-19 sesuai anjuran pemerintah dan Bank Indonesia.
 
"Kami melihat perubahan perilaku yang signifikan dari masyarakat yang lebih memilih metode pembayaran nontunai," kata Corporate Communication GM Alfamart Nur Rachman.
 
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik tumbuh signifikan pada Juni 2020. Transaksi digital tersebut tumbuh dari 17,31 persen pada Mei 2020 menjadi 25,94 persen (yoy). Sedangkan pertumbuhan Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Juli 2020 tumbuh 6,17 persen(yoy) dari 2,34 persen (yoy) pada Juni 2020.
 
Artinya total UYD mencapai Rp762,8 triliun. "Secara keseluruhan, kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun nontunai tetap terjaga. Hal ini seiring dengan mulai meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di masa pandemi," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.
 
Sedangka pertumbuhan nilai transaksi nontunai menggunakan ATM, kartu debit, kartu kredit, dan uang elektronik masih tercatat kontraksi sebesar 12,80 persen (yoy). Angka ini relatif lebih baik ketimbang periode Mei 2020 yang terkontraksi sebanyak 24,46 persen (yoy).
 
Adapun dukungan kebijakan sistem pembayaran akan diarahkan untuk mendorong efisiensi industri dan mempercepat berbagai deliverables implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025.
 
Dalam rangka meningkatkan daya saing industri termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada transaksi daring, Bank Indonesia mendorong penggunaan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) dengan metode transaksi tanpa tatap muka sebagai kanal pembayaran dalam e-commerce.
 
"Bank Indonesia juga akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung elektronifikasi penyaluran program bantuan sosial (bansos) pemerintah pusat dan elektronifikasi transaksi keuangan pemerintah daerah (pemda), serta Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI)," tegas Perry.
 
Tumbuh Pesat
 
Transaksi nontunai di kalangan masyarakat tumbuh pesat selama masa pandemi covid-19. Kondisi itu sejalan dengan penggunaan dompet digital memiliki banyak keunggulan selain mengurangi risiko penularan wabah.
 
Dalam hal ini, MarkPlus Inc mencatat deretan dompet digital terbaik berdasarkan survei terhadap 502 responden di kota-kota besar dengan penetrasi penggunaan smartphone tertinggi di Indonesia. Berikut lima dompet digital dengan transaksi terbesar dan paling diminati:
 
1. ShopeePay
Urutan pertama ditempati ShopeePay dengan jumlah responden mencapai 30 persen. Total nominal transaksi terbesar per bulan sekitar Rp149 ribu dengan pangsa pasar sebesar 26 persen dari total volume transaksi e-wallet di Indonesia.
 
Sebanyak 53 persen responden memilih ShopeePay sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman belanja online. Kemudian 38 persen responden mengaku telah memanfaatkan tawaran promosi.

2. OVO
Dompet digital yang dikelola PT Visionet International ini menempati posisi kedua dengan pangsa pasar 24 persen dari total transaksi e-wallet di Indonesia. Sebanyak 25 persen responden menyukai OVO dengan total nominal transaksi terbesar per bulan sekitar Rp134 ribu dan digunakan rata-rata 6,2 kali tiap bulan.
 
Sebanyak 20 persen responden memilih OVO sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman pembayaran nontunai. Kemudian 28 persen responden mengaku telah memanfaatkan tawaran promosi.
 
3. GoPay
Posisi ketiga diduduki e-wallet besutan PT Dompet Anak Bangsa yang juga anak usaha PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (GoJek). GoPay punya pangsa pasar 23 persen dari total transaksi e-wallet di Indonesia.
 
Sebanyak 21 responden menyukai penggunaan GoPay untuk bertransaksi nontunai di platform Super App Gojek. Total nominal transaksi terbesar per bulan sekitar Rp109 ribu dan digunakan rata-rata 6,1 kali tiap bulan.
 
Sebanyak 13 persen responden memilih GoPay sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman pembayaran nontunai. Kemudian 20 persen responden mengaku telah memanfaatkan tawaran promosi.
 
4. DANA
Dompet digital yang dikelola perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran, PT Espay Debit Indonesia Koe, ini menempati urutan empat. DANA bersaing ketat dengan pangsa pasar 19 persen dari total transaksi e-wallet di Indonesia. Meski total nominal transaksi terbesar per bulan mencapai sekitar Rp134 ribu, responden yang menyukai pengguna DANA baru 18 persen.
 
Saat ini, DANA juga telah terintegrasi dengan Bukalapak dan muncul sebagai pembayaran nontunai di beragam merchant ritel offline termasuk food and beverages. Frekuensi penggunaan rata-rata sebanyak 6,4 kali tiap bulan.
 
Sebanyak 13 persen responden juga memilih DANA sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman pembayaran nontunai. Kemudian 11 persen responden mengaku telah memanfaatkan tawaran promosi.
 
5. LinkAja
Urutan kelima ditempati LinkAja dengan pangsa pasar delapan persen dari total transaksi e-wallet di Indonesia. Dompet digital perusahaan BUMN ini disukai lima persen responden. Sama halnya dengan DANA, dan OVO, total nominal transaksi terbesar di LinkAja per bulan mencapai sekitar Rp134 ribu. Frekuensi penggunaan LinkAja rata-rata 5,7 kali tiap bulan.
 
Sebanyak dua persen responden juga memilih DANA sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman pembayaran nontunai. Kemudian tiga persen responden mengaku telah memanfaatkan tawaran promosi.
 
(ABD)
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif