Ilustrasi kenaikan inflasi bakal tekan daya beli masyarakat - - Foto: dok MI
Ilustrasi kenaikan inflasi bakal tekan daya beli masyarakat - - Foto: dok MI

Bersiap Hadapi Inflasi

Desi Angriani • 21 Maret 2022 15:32
AWAN panas inflasi mulai terasa di Indonesia. Berbagai barang kebutuhan pokok merangkak naik, bahkan jauh sebelum momen Ramadan dan Idulfitri. Kenaikan harga dimulai pada komoditas minyak goreng yang langka di berbagai daerah.
 
Ironinya hal ini terjadi di negara yang menjadi salah satu produsen sawit terbesar dunia. Polemik minyak goreng berawal dari tingginya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan kurangnya pasokan bahan baku di pasar minyak nabati dan lemak secara global.
 
Produsen minyak goreng pun kewalahan menjual dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah sehingga banyak yang menimbun maupun menyimpan stok di gudang-gudang mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya, harga komoditas kedelai ikut melonjak dikarenakan pasokan yang tersendat di negara produsen utama seperti Brasil dan Argentina. Budi daya kedelai di negara tersebut terganggu oleh kondisi cuaca ekstrem. Akibat tingginya harga, para pengrajin tahu tempe pun sempat mogok produksi lantaran mereka tak bisa menaikkan harga jual.
 
Lonjakan harga berikutnya menyasar daging sapi yang mayoritas impor dari Australia. Sejak 2022, pemerintah Australia mengeluarkan kebijakan mengurangi ekspor sapi hidup bakalan dari 80 persen menjadi 44 persen. Komoditas pokok lain yang ikut terseret kenaikan harga yakni telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras hingga bawang putih.
 
Dilansir dari laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Minggu, 20 Maret 2022, harga cabai merah keriting naik 0,68 persen menjadi Rp54.500 per kilogram (kg) dan harga cabai rawit merah naik 0,58 persen menjadi Rp69.350 per kg.
 
Sementara minyak goreng curah naik 3,2 persen menjadi Rp17.750, minyak goreng kemasan bermerek 2 naik 5,97 persen atau dipatok Rp21.300 per kg, gula pasir premium naik 1,3 persen menjadi Rp15.550 per kg.
 
Untuk harga daging sapi kualitas 2 turun 0,69 persen menjadi Rp122.400 per kg, telur ayam ras segar Rp25 ribu per kg, cabai rawit hijau Rp47.400 per kg, dan beras kualitas bawah Rp10.750 per kg.
 
Bersiap Hadapi Inflasi
Ilustrasi harga komoditas pangan di pasar tradisional - - Foto: dok Metro Tv
 
Berdasarkan Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia, inflasi pada minggu III Maret 2022 diperkirakan sebesar 1,10 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,54 persen (yoy). Penyumbang utama inflasi yaitu komoditas cabai merah sebesar 0,10 persen (mtm).
 
Kemudian telur ayam ras, emas perhiasan, dan bahan bakar rumah tangga (BBRT) menyumbang masing-masing sebesar 0,05 persen (mtm), cabai rawit dan daging ayam ras masing-masing sebesar 0,04 persen (mtm), tempe, dan sabun detergen bubuk/cair masing-masing sebesar 0,03 persen (mtm).
 
Adapun komoditas lain penyumbang inflasi adalah bawang merah, tahu mentah, jeruk, daging sapi, angkutan udara masing-masing menyumbag sebesar 0,02 persen (mtm), serta bawang putih dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).
 
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memprediksi laju inflasi di Indonesia bakal meningkat hingga tiga persen pada April dan Mei, atau dalam periode Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
 
Kenaikan inflasi akan terus bertahan imbas peningkatan harga minyak mentah dunia yang saat ini telah melampaui USD110 per barel. Naiknya harga minyak mentah dunia, imbuh Tauhid, akan memengaruhi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Tanah Air. Bila harga BBM mengalami lonjakan, dia meyakini inflasi bakal menyentuh tiga persen pada April dan Mei 2022.
 
"Karena pengaruhnya kepada sektor lain itu cukup kentara, bukan hanya makanan, tapi juga transportasi, logistik, dan lainnya. Hal itu yang memungkinkan inflasi bisa di atas tiga persen (yoy), terutama pada April dan Mei pada saat Ramadan dan hari raya (Lebaran)," jelasnya dikutip dari Media Indonesia.
 
 
 

Menggoreng minyak goreng

Fenomena kelangkaan minyak goreng di Indonesia akhirnya terpecahkan usai pemerintah mencabut harga eceran tertinggi (HET). Rak-rak minyak goreng kemasan di pasar modern dan toko ritel pun tiba-tiba terisi penuh.
 
Berbagai macam merek berjubel dengan harga fantastis hingga Rp50 ribu untuk kemasan dua liter. Yanti, 34, penjaga indekos di bilangan Jakarta Barat mengaku kaget dengan kenaikan harga tersebut.
 
Ia merasa keberatan meski stok minyak goreng kembali melimpah. Menurutnya, lebih baik harga minyak goreng dijual Rp14 ribu per liter meskipun sulit didapat.
 
"Kalau mau dapet minyak goreng harus pagi banget ke Alfamart atau Indomart. Kalau sudah pukul 8 pagi, pasti habis, tapi enggak apa-apa asal harganya masih Rp14 ribu, kalau sekarang saya enggak kuat beli," kata Yanti kepada Medcom.id, Minggu, 20 Maret 2022.
 
Bersiap Hadapi Inflasi
Ilustrasi stok minyak goreng kembali melimpah di ritel modern - - Foto: MI/ Adi Kristiadi
 
Peristiwa ini seolah menunjukkan produsen minyak goreng sengaja menahan stok lalu menggelontorkannya setelah mereka berhasil memegang kendali harga. Usut punya usut, banyak pihak enggan menjual dengan harga murah lantaran harga minyak sawit atau CPO dunia merangkak naik.
 
Para pengusaha lebih memilih menjual produksinya keluar negeri dengan harga lebih mahal daripada menjual ke dalam negeri dengan harga yang diatur pemerintah. Hal ini terbukti dari tiga perusahaan yang tertangkap basah hendak mengekspor satu kontainer minyak goreng berisi 1.835 dus ke Hong Kong. Beruntung, barang bukti tersebut sudah diamankan oleh Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta.
 
"Bahwa benar pada hari ini, tim penyidik yang bekerja sama dengan Kantor Pelayanan Bea Cukai telah melakukan pemeriksaan kontainer yang berisi beberapa kardus minyak goreng yang siap diekspor,” ujar Kapuspenkum Kejati DKI Jakarta, Ashari Syam dalam program Metro Siang di Metro TV, Jumat, 18 Maret 2022.
 
Sementara itu, Menteri Perdagangan M Lutfi mengaku tak memiliki wewenang untuk memberantas mafia minyak goreng. Pernyataannya tersebut mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.
 
Namun, ia memastikan ada pihak yang akan ditetapkan sebagai tersangka atas penyelewengan distribusi minyak goreng di wilayah Jakarta, Sumatra Utara, dan Jawa Timur.
 
"Saya mengatakan, tidak bisa saya menangkap orang-orang ini berbasiskan dengan apa yang saya punya. Kalau saya mesti policy ini, menghadapi penjahat yang nakal, itu diluar kewenangan Kemendag," ungkap Lutfi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 17 Maret 2022.
 
Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel justru menyesalkan pernyataan menteri perdagangan tersebut. Ketidakberdayaan Lutfi malah menjadi simbol kekalahan dan kegagalan negara dalam melindungi rakyat.
 
Apalagi saat ini, kata Gobel, angka kemiskinan meningkat, pengangguran bertambah, dan kesenjangan semakin melebar. Dengan melejitnya harga minyak goreng, masyarakat kelas bawah akan semakin merana.
 
"Ini akan sangat membahayakan bagi ketahanan nasional," kata Gobel pada Jumat, 18 Maret 2022.

Siapa yang bertanggung jawab?

Minyak goreng yang mahal dan langka berdampak pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya, produsen kerupuk yang berlokasi di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
 
Surono terpaksa menghentikan produksi kerupuknya per Kamis, 17 Maret 2022 agar tidak merugi. Setidaknya, ia membutuhkan sebanyak 15 jeriken minyak goreng yang setiap jerikennya berisi 16 liter.
 
"Per hari ini sudah berhenti (menggoreng). Ini cuma menjemur saja (kerupuk mentahan). Iya karena mahal nekek gulu (mencekik leher). Saat ini sudah Rp24 ribu per liter. Ya saya enggak mau beli," kata Surono saat ditemui Medcom.id di tempat usahanya.
 
Kasus lainnya, seorang wanita di Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia setelah antre minyak goreng di beberapa pasar swalayan. Pihak keluarga menduga korban mengalami pecah pembuluh darah akibat kelelahan. Wanita berusia 49 tahun tersebut mengantre minyak goreng di empat gerai swalayan hingga sempat pingsan.
 
 
 

Melihat dua kasus tersebut, Rachmat Gobel menyebut masalah stok dan harga minyak goreng membutuhkan keberanian, ketegasan, kepemimpinan, kemampuan manajerial dan pendekatan kemanusiaan dari pemerintah terhadap produsen minyak goreng dan produsen CPO.
 
Produsen harus diajak bertanggung jawab terhadap ketersediaan barang di pasar, termasuk menentukan harga yang terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.
 
"Tugas pemerintah mengatur dan bertindak di lapangan, bukan cuma ngomong dan mondar-mandir. Jangan jadi macan kertas dan jangan menjadi macan ompong. Pencabutan HET minyak goreng kemasan dan menaikkan HET minyak goreng curah sama saja membiarkan masyarakat kecil disorong untuk bertarung melawan raksasa pengusaha," tegasnya.

Tarif baru PPN picu inflasi

Rencana pemerintah menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen pada April mendatang bakal mengerek angka inflasi di atas 1,4 persen secara bulanan.
 
Pasalnya, peluang kenaikan PPN akan direspons oleh pelaku usaha dengan melakukan penyesuaian harga karena ongkos produksi berpotensi meningkat. Kenaikan satu persen memang tampak kecil, tapi jika diakumulasikan nominalnya akan besar bagi industri.
 
Dalam tarif baru PPN ini, ada barang yang dikecualikan seperti bahan pokok, jasa kesehatan dan jasa pendidikan. Namun kenaikan pajak untuk pakaian, pulsa, alat tulis, hingga mi instan tetap memukul masyarakat kelas bawah. Sebab, barang-barang tersebut dikonsumsi oleh semua kalangan.
 
Untuk sembako seperti beras, cabai, garam, jagung, sagu hingga telur dan buah-buahan yang dijual di pasar tradisional tidak dikenakan penambahan PPN. Namun, konsumen yang membeli barang pokok serupa di supermarket atau ritel modern tetap dikenakan PPN 11 persen.
 
Bersiap Hadapi Inflasi
Ilustrasi pajak sembako untuk barang-barang yang dibeli di ritel modern - - Foto: dok MI

Berikut faktor lain yang mendorong inflasi:

  1. kenaikan harga BBM 
  2. kenaikan tarif listrik nonsubsidi
  3. kenaikan tarif elpiji nonsubsidi
  4. momentum Ramadan dan Idulfitri
  5. tensi perang Rusia dan Ukraina yang mengerek kenaikan harga komoditas global
  6. penyesuaian suku bunga bank sentral
"Jadi selain PPN, invasi Ukraina juga dikhawatirkan serta risiko penyesuaian suku bunnga lebih cepat akan berdampak terhadap kenaikan produksi di level produsen dan bisa diteruskan ke level konsumen. Di sisi lain ada juga harga bahan pokok makanan, trennya masih akan meningkat, harus diperhatikan khususnya momentum saat ramadan dan lebaran dimana permintaan mengalami kenaikan," ungkap Direktur Center for Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira sata dihubungi Medcom.id, Senin, 21 Maret 2022.
 
Menurut Bhima, kenaikan tarif PPN bisa ditunda hingga tahun depan lantaran kondisi saat ini tidak tepat untuk memberlakukan kebijakan baru tersebut. "Ya memang PPN ini ditengah situasi global yang tinggi harus direvisi lagi, atau direview implementasinya apa bisa ditunda di April tahun berikutnya," tambah dia.
 
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai kenaikan tarif PPN hanya akan berdampak terbatas pada inflasi. Sebab, kontributor terbesar penyumbang inflasi adalah komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, tempe, dan bawang merah.
 
Adapun sasaran inflasi pemerintah pada 2022 sebesar tiga plus minus satu persen year on year (yoy), atau lebih tinggi dari realisasi 2021 sebesar 1,87 persen year on year.
 
(Des)
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif