Ilustrasi kenaikan inflasi bakal tekan daya beli masyarakat - - Foto: dok MI
Ilustrasi kenaikan inflasi bakal tekan daya beli masyarakat - - Foto: dok MI

Bersiap Hadapi Inflasi

Desi Angriani • 21 Maret 2022 15:32

Menggoreng minyak goreng

Fenomena kelangkaan minyak goreng di Indonesia akhirnya terpecahkan usai pemerintah mencabut harga eceran tertinggi (HET). Rak-rak minyak goreng kemasan di pasar modern dan toko ritel pun tiba-tiba terisi penuh.
 
Berbagai macam merek berjubel dengan harga fantastis hingga Rp50 ribu untuk kemasan dua liter. Yanti, 34, penjaga indekos di bilangan Jakarta Barat mengaku kaget dengan kenaikan harga tersebut.
 
Ia merasa keberatan meski stok minyak goreng kembali melimpah. Menurutnya, lebih baik harga minyak goreng dijual Rp14 ribu per liter meskipun sulit didapat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau mau dapet minyak goreng harus pagi banget ke Alfamart atau Indomart. Kalau sudah pukul 8 pagi, pasti habis, tapi enggak apa-apa asal harganya masih Rp14 ribu, kalau sekarang saya enggak kuat beli," kata Yanti kepada Medcom.id, Minggu, 20 Maret 2022.
 
Bersiap Hadapi Inflasi
Ilustrasi stok minyak goreng kembali melimpah di ritel modern - - Foto: MI/ Adi Kristiadi
 
Peristiwa ini seolah menunjukkan produsen minyak goreng sengaja menahan stok lalu menggelontorkannya setelah mereka berhasil memegang kendali harga. Usut punya usut, banyak pihak enggan menjual dengan harga murah lantaran harga minyak sawit atau CPO dunia merangkak naik.
 
Para pengusaha lebih memilih menjual produksinya keluar negeri dengan harga lebih mahal daripada menjual ke dalam negeri dengan harga yang diatur pemerintah. Hal ini terbukti dari tiga perusahaan yang tertangkap basah hendak mengekspor satu kontainer minyak goreng berisi 1.835 dus ke Hong Kong. Beruntung, barang bukti tersebut sudah diamankan oleh Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta.
 
"Bahwa benar pada hari ini, tim penyidik yang bekerja sama dengan Kantor Pelayanan Bea Cukai telah melakukan pemeriksaan kontainer yang berisi beberapa kardus minyak goreng yang siap diekspor,” ujar Kapuspenkum Kejati DKI Jakarta, Ashari Syam dalam program Metro Siang di Metro TV, Jumat, 18 Maret 2022.
 
Sementara itu, Menteri Perdagangan M Lutfi mengaku tak memiliki wewenang untuk memberantas mafia minyak goreng. Pernyataannya tersebut mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.
 
Namun, ia memastikan ada pihak yang akan ditetapkan sebagai tersangka atas penyelewengan distribusi minyak goreng di wilayah Jakarta, Sumatra Utara, dan Jawa Timur.
 
"Saya mengatakan, tidak bisa saya menangkap orang-orang ini berbasiskan dengan apa yang saya punya. Kalau saya mesti policy ini, menghadapi penjahat yang nakal, itu diluar kewenangan Kemendag," ungkap Lutfi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 17 Maret 2022.
 
Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel justru menyesalkan pernyataan menteri perdagangan tersebut. Ketidakberdayaan Lutfi malah menjadi simbol kekalahan dan kegagalan negara dalam melindungi rakyat.
 
Apalagi saat ini, kata Gobel, angka kemiskinan meningkat, pengangguran bertambah, dan kesenjangan semakin melebar. Dengan melejitnya harga minyak goreng, masyarakat kelas bawah akan semakin merana.
 
"Ini akan sangat membahayakan bagi ketahanan nasional," kata Gobel pada Jumat, 18 Maret 2022.

Siapa yang bertanggung jawab?

Minyak goreng yang mahal dan langka berdampak pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya, produsen kerupuk yang berlokasi di Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
 
Surono terpaksa menghentikan produksi kerupuknya per Kamis, 17 Maret 2022 agar tidak merugi. Setidaknya, ia membutuhkan sebanyak 15 jeriken minyak goreng yang setiap jerikennya berisi 16 liter.
 
"Per hari ini sudah berhenti (menggoreng). Ini cuma menjemur saja (kerupuk mentahan). Iya karena mahal nekek gulu (mencekik leher). Saat ini sudah Rp24 ribu per liter. Ya saya enggak mau beli," kata Surono saat ditemui Medcom.id di tempat usahanya.
 
Kasus lainnya, seorang wanita di Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia setelah antre minyak goreng di beberapa pasar swalayan. Pihak keluarga menduga korban mengalami pecah pembuluh darah akibat kelelahan. Wanita berusia 49 tahun tersebut mengantre minyak goreng di empat gerai swalayan hingga sempat pingsan.
 
 
 
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif