NEWSTICKER
Pergerakan IHSG melemah pada Perdagangan Jumat, 13 Maret 2020. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
Pergerakan IHSG melemah pada Perdagangan Jumat, 13 Maret 2020. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti

'Vaksin' untuk Pasar Saham Indonesia

Ekonomi analisa ekonomi
Angga Bratadharma • 13 Maret 2020 14:04
KEPUTUSAN Rusia yang enggan memangkas produksi minyaknya ternyata berbuntut panjang. Pasalnya Arab Saudi -pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC- merespons dengan berencana menambah jumlah produksi hingga 12 juta-13 juta barel per hari. Kondisi itu tidak ditampik menjadi mimpi buruk bagi pasar minyak global.
 
Kedua negara berselisih terkait pemangkasan produksi minyak dan lebih memilih meningkatkan pasokan setelah pakta tiga tahun antara mereka dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan gagal disepakati pada Jumat, 6 Maret 2020. Adapun Rusia merupakan pemimpin anggota non-OPEC atau biasa dikenal OPEC+.
 
Alasan Moskow menolak mendukung OPEC melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam yakni untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial. Hal itu disebabkan oleh dampak virus korona terhadap perjalanan dan kegiatan ekonomi. Meski upaya Rusia terlihat mulia, namun sayangnya ada yang harus dikorbankan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Virus korona mulai muncul di Kota Wuhan, Tiongkok, pada awal tahun ini. Kemunculannya merusak perayaan Tahun Baru mereka. Virus dengan nama ilmiah covid-19 itu di awal mulanya hanya berada di kawasan Tiongkok. Namun, penyebaran virus itu lebih sulit dari yang diperkirakan sehingga kini virus tersebut sudah menyebar luas di luar Tiongkok.
 
Baca: Pasien Pertama dan Ketiga Positif Korona Dinyatakan Sembuh
 
Karena penyebarannya cukup masif, virus korona disebut sebagai penghambat bagi upaya ekonomi global mengalami perbaikan. Lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pun menilai virus korona menganggu pemulihan ekonomi dunia.
 
Baca: Ridwan Kamil Sarankan Salam Sunda Mengantisipasi Korona
 
Bahkan, IMF sampai melakukan koreksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat mewabahnya virus korona. Mata rantainya yang cukup panjang akhirnya sampai kepada pasar saham dunia. Alhasil, pasar saham terus mengalami tekanan hingga saat ini, tidak terkecuali mendera Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
 
Pada Februari 2020, IMF telah merevisi turun pertumbuhan ekonomi global di tahun ini menjadi 3,2 persen atau 0,1 poin lebih rendah dari proyeksi Januari. Target itu turun di bawah level tahun lalu yakni 2,9 persen yang artinya lebih jauh menurunkan perkiraan pertumbuhan global.
 
"Proyeksi pertumbuhan untuk Tiongkok tahun ini juga akan lebih rendah dari perkiraan terbaru," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, beberapa waktu lalu.

Ekonomi Global Rentan Resesi

Jika lebih sensitif, maka pertanyaannya adalah apakah virus korona bisa berdampak terhadap resesi ekonomi dunia? Mengutip Boston Consulting Group disebutkan ekonomi global dan Amerika Serikat telah rentan terhadap resesi jauh sebelum adanya covid-19. Apalagi, pasar tenaga kerja yang ketat telah mendorong pertumbuhan ekonomi turun.
 
"Dan dengan demikian kerentanan (akan terjadinya resesi ekonomi) meningkat (dengan adanya virus korona)," tulis Boston Consulting Group dalam risetnnya, seperti dikutip Jumat, 13 Maret 2020.

Dalam konteks covid-19, Boston Consulting Group mengungkapkan, taksonomi resesi lebih cocok dikaitkan dengan resesi ekonomi riil yang dipicu oleh guncangan permintaan dan bukan resesi akibat kesalahan keuangan atau kebijakan. Covid-19 memiliki potensi yang jelas untuk memberikan kejutan terhadap kepercayaan konsumen.
 
Sementara itu, dalam OECD Interim Economic Assessment Coronavirus: The world economy at risk disebutkan, diperlukan tindakan terkoordinasi secara global dan lebih kuat jika risiko penurunan ekonomi terjadi akibat virus korona. Hal itu penting guna mengantisipasi penurunan lebih dalam.
 
Jika risiko penurunan terjadi, OECD mengungkapkan, termasuk penyebaran yang jauh lebih luas dari wabah virus korona, dan pertumbuhan global tampaknya akan jauh lebih rendah daripada yang diproyeksikan, pemerintah akan dihadapkan pada tantangan berat yakni merespons di saat ruang kebijakan domestik terbatas.
 
Baca: Antisipasi Covid-19, Twitter Minta Pegawai Bekerja dari Rumah
 
Riset yang dilakukan OECD menambahkan selain langkah-langkah sementara untuk mendukung bisnis yang layak dan pekerja yang rentan, tindakan kebijakan yang terkoordinasi di semua ekonomi utama akan diperlukan untuk memastikan penyediaan layanan kesehatan yang efektif di seluruh dunia, dan memberikan stimulus paling efektif untuk ekonomi global.
 
"Dukungan kebijakan fiskal dan moneter tambahan dan peningkatan reformasi struktural di semua negara akan membantu memulihkan pertumbuhan, meningkatkan kepercayaan konsumen dan investor, dan mengurangi ketidakpastian," tulis OECD.

Masalah Lain Muncul

Kini, ketika otoritas di masing-masing negara terus memerangi virus korona, masalah lain muncul. Masalah itu ialah hadirnya perang harga minyak antara pemimpin OPEC, Arab Saudi dengan pemimpin OPEC+, Rusia. Perang minyak ini yang disebut-sebut oleh sejumlah analis juga menjadi penyebab bursa saham Wall Street dan IHSG terjun bebas pada Senin, 9 Maret 2020.
 
Baca: Penanganan Korona dan DBD Beriringan
 
Saat perang minyak mulai memanas, IHSG anjlok sebanyak 361 poin menjadi di level 5.136 pada penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2020. IHSG berada di level terendah dalam dua tahun terakhir. Sedangkan Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), dengan Dow Jones ditutup anjlok lebih dari 2.000 poin.
 
Hal itu terjadi di tengah kemungkinan perang harga minyak dan perlambatan ekonomi dari penyebaran korona. Dow Jones Industrial Average merosot 2.013,76 poin atau 7,79 persen menjadi 23.851,02 poin. Indeks S&P 500 jatuh 225,81 poin atau 7,60 persen menjadi 2.746,56 poin. Indeks Komposit Nasdaq terperosok 624,94 poin atau 7,29 persen menjadi 7.950,68 poin.
 
'Vaksin' untuk Pasar Saham Indonesia
Tidak ditampik, kombinasi virus korona dan perang harga minyak menjadi ancaman serius. Bahkan, ketika Saudi Aramco diperintahkan oleh Kementerian Energi Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak, harga minyak dunia kembali tertekan dan imbasnya lagi-lagi bursa saham terkoreksi dan menyeret pula IHSG pada Kamis, 12 Maret 2020.
 
Saham-saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Dow Jones Industrial Average merosot 1.464,94 poin atau 5,86 persen menjadi 23.553,22. Indeks S&P 500 merosot 140,85 poin atau 4,89 persen menjadi 2.741,38 poin dan Indeks Komposit Nasdaq jatuh 392,20 poin atau 4,70 persen menjadi 7.952,05 poin.
 
Baca: Okupansi Hotel di Jabar Turun Hingga 7%
 
Sedangkan IHSG pada perdagangan Kamis pagi di pekan ini terjebak di zona negatif dan dibuka di level 5.040 atau melemah dibandingkan penutupan perdagangan sore di hari sebelumnya ke posisi 5.154. IHSG terseret pelemahan bursa saham global dan regional, di tengah mewabahnya virus korona di dunia.
 
IHSG Kamis pagi, 12 Maret 2020, terlihat bergerak anjlok 221,58 poin atau setara 4,3 persen ke level 4.932. Sedangkan LQ45 turun sebanyak 44 poin atau setara 5,4 persen dan JII tertekan 29,86 poin atau setara 5,5 persen ke level 512.

BEI Tidak Tinggal Diam

Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai wasit perdagangan saham Indonesia tidak tinggal diam. 'Vaksin' menangkal pelemahan IHSG secara berkelanjutan diberikan. Misalnya menerapkan perubahan batasan auto rejection perdagangan saham yang kini menjadi tujuh persen. Intervensi dilakukan dengan melihat kondisi IHSG jika menunjukkan pelemahan cukup dalam.
 
Auto rejection ialah pembatasan maksimum dan minimum dari suatu kenaikan dan penurunan harga saham sehingga perdagangan saham tetap dalam keadaan wajar. Ada dua kondisi yang terjadi jika saham tertentu mengalami auto rejection.
 
Baca: BKPM: Pelajaran dari Korona, FDI Kian Strategis
 
Pertama, saham dengan kenaikan harga yang signifikan akan terkena auto rejection sehingga tidak akan ada lagi aktivitas penawaran jual (offer) atas saham tersebut. Kedua, saham dengan penurunan harga yang drastis juga akan terkena auto rejection sehingga aktivitas penawaran jual (bid) juga terhenti.
 
Tidak hanya itu, 'vaksin' lain ialah BEI menerapkan ketentuan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan di bursa saham Tanah Air. Hal ini dilakukan guna menindaklanjuti kondisi darurat apabila IHSG mengalami penurunan yang tajam seperti yang terjadi pada perdagangan saham pada Jumat pagi ini.
 
"Ketentuan tersebut berlaku efektif sejak Rabu, 11 Maret 2020 sampai dengan batas waktu yang akan ditetapkan kemudian," tulis keterangan BEI.
 
'Vaksin' untuk Pasar Saham Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan sementara perdagangan saham atau trading halt pada Jumat pagi, 13 Maret 2020. Penghentian dilakukan karena gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah di bawah lima persen. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti.
Adapun BEI membekukan sementara perdagangan atau trading halt pada Jumat pagi, 13 Maret 2020. Penghentian perdagangan dilakukan karena penurunan pergerakan IHSG sudah di bawah lima persen. Berdasarkan pantauan tim Medcom.id, di lantai bursa, semua tamu bursa turut memerhatikan pergerakan IHSG.
 
Suasana riuh dan pecah ketika bursa kembali menghentikan perdagangan pada pukul 09.15 WIB. Penghentian perdagangan berlaku selama 30 menit sesuai dengan Surat Perintah Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A Otoritas Jasa Keuangan Nomor: S-274/PM.21/2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal perintah melakukan trading halt perdagangan di BEI.

Jurus OJK Tangkal Kejatuhan Bursa Saham

Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mempersiapkan jurus lain guna menangkal kejatuhan bursa saham dalam negeri. Jurus yang dimaksud yakni melarang aktivitas short selling di bursa saham domestik, dan mengizinkan emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian kembali (buyback) saham.
 
"Kemarin dengan adanya penurunan ekstrem dari bursa dunia, termasuk bursa Indonesia sebesar minus 6,58 persen dan saat kemarin kita luncurkan tiga kebijakan (melarang aktivitas short selling, mengizinkan emiten buyback saham, dan auto rejection)," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, di Studio 1, Gedung Metro TV, Jakarta, Selasa 10 Maret 2020.
 
Baca: Pemerintah Keluarkan Penangkal Korona Kedua
 
Namun sayangnya, Hoesen enggan memberikan kesimpulan jika ketiga langkah tersebut akan efektif dalam menenangkan pasar modal yang tengah 'panas dingin'. Akan tetapi, ia menegaskan, pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan LPS terus mengelola dinamika pasar dengan berorientasi pada kebijakan yang prudent dan kredibel.
 
"Intinya pengambilan keputusan harus rasional dan kita berikan pesan. Kepentingan OJK bagaimana pasar modal agar stabil emosinya," kata dia.
 
Terlepas dari itu semua, kini investor masih tetap menunggu arah gerak pasar saham yang 'ngeri-ngeri sedap'. Apakah melakukan cut loss, membeli saham di saat harga lagi murah seperti sekarang ini, ataukah berpaling hati ke instrumen investasi lain yang sifatnya safe haven seperti logam mulia atau mata uang.
 

 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif