Ilustrasi kereta penumpang di Stasiun Pasar Senen - - Foto: dok KAI
Ilustrasi kereta penumpang di Stasiun Pasar Senen - - Foto: dok KAI

Menanti Lompatan Baru Bisnis Kereta Api

Desi Angriani • 08 September 2021 13:32
Jakarta: Siapa sangka bisnis transportasi akan babak belur setelah pandemi covid-19 diumumkan masuk ke Tanah Air pada Maret 2020 lalu. Sektor ini pun kehilangan puluhan juta penumpangnya secara drastis baik untuk angkutan laut, darat maupun udara.
 
Hal ini karena mereka wajib tunduk pada protokol kesehatan (prokes) dan menerapkan syarat perjalanan secara ketat selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
 
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang angkutan udara domestik pada periode Januari-November 2020 sebanyak 28,7 juta orang atau turun 58,78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 69,7 juta orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu pula dengan penumpang kereta api, jumlah penumpang selama 2020 mencapai 186,13 juta orang atau turun 56,4 persen dari posisi 2019 yang mencapai 426,88 juta orang.
 
Selanjutnya, jumlah penumpang angkutan laut secara keseluruhan 2020 juga menyusut 40,66 persen dari 23,93 juta orang di 2019 menjadi 14,2 juta.
 
Menanti Lompatan Baru Bisnis Kereta Api
Data perkembangan transportasi nasional - - Foto: dok BPS
 
Jika pemerintah tidak menerapkan aturan ketat tersebut, pastinya kasus covid-19 akan terus membludak. Per 6 Agustus 2021, total kasus covid-19 di Tanah Air sudah mencapai 4,12 juta dengan angka kematian sebanyak 135 ribu kasus.
 
Sembari menekan penyebaran virus korona, pemerintah berusaha menarik kembali tuas ekonomi dengan jalan mendorong adaptasi digital. Semua lini bisnis diharuskan mampu beradaptasi dengan kenormalan baru.
 
Berkaca pada bisnis transportasi kereta api, potret transformasi tentu sudah dilakukan oleh BUMN pelat merah ini sejak satu dasawarsa. PT Kereta Api Indonesia (KAI) merombak total performa operasional, kinerja keuangan hingga sumber daya manusia (SDM)-nya.
 
Stasiun yang kumuh dan semrawut, ketidakjelasan jadwal, kelangkaan tiket karena diborong calo, toilet yang bau dan jorok, pelayanan yang seadanya, kereta yang kotor, penumpang berjubel di atap kereta. Itu semua kini tinggal cerita lama.
 
Keberhasilan transformasi ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan KAI setelah berselang tiga tahun. Pada 2012 KAI berhasil membukukan margin  hingga Rp425 miliar atau meningkat pesat dibandingkan pada 2008 yang merugi sebesar Rp83 miliar.
 
Pada tahun ke-8 transformasi, KAI membukukan pendapatan sebesar Rp17,94 triliun. Setahun kemudian (2018), angka ini naik menjadi Rp26,8 triliun. Bahkan sebelum pandemi merusak tatanan bisnis, KAI membukukan pendapatan sebesar Rp26,3 triliun pada 2019.
 
Lantas bagaimana KAI kembali memoles diri dalam era disrupsi?
 
Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menyiapkan ramuan khusus agar perusahaan memiliki daya tahan di tengah pemulihan ekonomi. Ramuan ini mencakup konsep adaptif, solutif dan kolaboratif.
 
Sebagai bentuk adaptasi digital, KAI berencana menambah fitur-fitur KAI Access serta menggunakan big data. Fitur tersebut bisa mengetahui dan memetakan minat dan kebiasaan pelanggan demi meningkatkan pelayanan di masa depan. Sejak aplikasi ini diluncurkan, tidak ada lagi antrean di loket yang mengular. Apalagi pemesanan tiket juga bisa dilakukan melalui agen travel online lainnya.
 
Selain aplikasi bagi pelanggan, KAI juga menyiapkan aplikasi khusus bagi operasional kereta api agar memudahkan perawatan dan pemantauan sarana dan prasarana.
 
Menanti Lompatan Baru Bisnis Kereta Api
Calon penumpang melakukan pemesanan tiket secara online melalui aplikasi KAI Access - - Foto: dok KAI
 
Adaptasi lainnya yakni meningkatkan penggunaan energi terbarukan melalui uji coba penggunaan B100 pada genset kereta. B100 merupakan 100 persen biodiesel dengan bahan dasar sawit, sehingga pemanfaatannya akan lebih ramah lingkungan.
 
Sementara itu, program solutif akan diterapkan di bidang pengembangan SDM. Tahun ini, KAI membangun Integrated Talent Management System (ITMS) untuk memetakan dan mengelola calon pemimpin KAI di masa depan. Dalam menghadapi future trends dan business development, KAI mengembangkan new capability bagi para pegawainya di bidang digital, property, project financing, asset management, dan logistic.
 
Langkah ketiga agar KAI dapat terus tumbuh yakni mendorong bisnis angkutan barang. Sepanjang semester I-2021, kinerja angkutan barang KAI naik 8,9 persen dari volume 25,9 juta ton pada 2020 menjadi 28,2 juta ton.
 
Dari sisi pengusahaan aset, KAI akan memperluas naming rights stasiun kepada mitra lainnya seperti pada Stasiun BNI City. KAI juga terus melakukan pemasaran space di stasiun, periklanan di KAI Access, dan pengikatan kerja sama fiber optik dan pipa gas untuk jalur KA.
 
Sedangkan langkah kolaboratif untuk pengamanan aset berupa tanah dan bangunan akan dilakukan menggunakan pendekatan persuasif kepada para penghuni.
 
"KAI harus survive di tengah pandemi. Agar perusahaan bisa sustainable, kami tetap melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pendapatan dari berbagai lini bisnis yang KAI kelola. Bangkitnya KAI juga akan turut membantu pemulihan ekonomi nasional,” terang Didiek yang dikutip Medcom.id dari laman resmi KAI.
 
Demi mengencangkan bisnisnya, KAI mempercepat pengerjaan proyek LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung meski terhambat oleh pandemi. Persiapan KAI saat ini memang difokuskan pada aspek sarana dan prasarana sebagai bentuk penugasan dari pemerintah.
 
Adapun sarana kereta LRT Jabodebek memiliki lebar badan kereta maksimum 2.650 mm dan tinggi atap kereta maksimum 3.685 mm, sedangkan lebar relnya 1.435 mm. Satu rangkaian LRT Jabodebek ini memiliki kapasitas angkut 740 orang pada kondisi normal, dan 1.308 penumpang pada kondisi padat dengan konfigurasi 174 penumpang duduk dan 566 penumpang berdiri.
 
LRT ini memiliki kecepatan operasi maksimum 80 km/jam, dan kecepatan desain 90 km/jam. Di sisi Prasarana, per 31 Maret 2021, lintas pelayanan 1 (Cawang-Cibubur) sudah 98,98 persen, Lintas Pelayanan 2 (Cawang-Kuningan-Dukuh Atas) sudah 85,58 persen, dan lintas pelayanan 3 (Cawang - Bekasi Timur) sudah 89,97 persen.
 
Per 30 Juli 2021, progres pekerjaan LRT Jabodebek sudah mencapai 73,31 persen. Sementara untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sudah mencapai 77,45 persen.
 
Menurut pengamat kebijakan publik Agus Pambagio, transformasi KAI di era digital merupakan tahapan yang sangat monumental. Dengan teknologi digital, operasional KAI dapat dikendalikan secara lebih efisien dan profitable.
 
Melalui digitalisasi pula masyarakat akan teredukasi untuk menjadi penumpang yang baik seperti di negara-negara maju. Ia bilang sebelum transformasi, pendapatan dari tiket dan barang sulit diukur karena disiplin dan integritas manajemen rendah. Bahkan kondisi KAI sebagai angkutan massal seadanya lantaran kualitas pelayanan dan keselamatan rendah.
 
"Transformasi yang kemungkinan sulit diulangi. Saatnya waktu itu memang pas, sekarang kita harus coba memberikan apa lagi supaya lompatan untuk PT KAI menjadi fenomenal kembali karena zaman berbeda, caranya berbeda," tutur Agus dalam webinar "Mengenang Transformasi Kereta Api di Era Digital".
 
Adaptasi kenormalan baru
 
Ulfa (29), seorang pengguna kereta api jarak jauh menceritakan pengalamannya saat pulang dari Jakarta menuju Pekalongan pada Juni 2021 lalu. Kala itu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat belum diterapkan.
 
Namun, Ulfa tetap melakukan persiapan ekstra sebagai bentuk adaptasi di era new normal. Ia membeli tiket kereta jarak jauh secara online melalui aplikasi KAI Access, serta menjalani rapid test antigen di klinik terdekat demi menghindari antrean panjang di stasiun.
 
 
Halaman Selanjutnya
Ulfa juga datang satu jam…
Read All


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif