NEWSTICKER
Bau nyale yaitu berburu cacing warna-warni di Lombok setahun sekali. (Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Bau nyale yaitu berburu cacing warna-warni di Lombok setahun sekali. (Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Berburu Cacing Warna-warni Perwujudan Putri Cantik di Lombok

Rona wisata Kemenparekraf
Kumara Anggita • 16 Februari 2020 12:20
Lombok Tengah: Berburu cacing warna-warni atau bau nyale menjadi sebuah tradisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Lombok maupun wisatawan. Ada kemeriahan sekaligus cerita menarik di balik kegiatan tahunan ini.
 
Konon katanya cacing warna-warni ini adalah perwujudan dari Putri Mandalika yang cantik. Kecantikan putri ini sampai-sampai buat para pangeran ingin bertemu dan segera melamarnya.
 
Putri Mandalika tak nyaman dengan situasi ini karena dia takut perang atau konflik muncul di mana-mana. Alhasil, Mandalika terjun ke laut dan berjanji bahwa dia akan akan mengunjungi rakyatnya dalam bentuk cacing berwarna-warni atau nyale.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Cacing yang indah ini hanya muncul satu tahun sekali dan dipercaya sebagai wujud kunjungan Putri Mandalika. Masyarakat setempat percaya kehadirannya sebagai berkat.
 
Berburu Cacing Warna-warni Perwujudan Putri Cantik di Lombok
(Berburu cacing warna-warni atau bau nyale di Lombok, yang konon katanya cacing warna-warni ini adalah perwujudan dari Putri Mandalika yang cantik. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
 
Keindahan cerita dan suasana positif ini mampu menarik perhatian para wisatawan. Ribuan 'Pemburu' di Puncak Bau Nyale 2020 telah meramaikan Lombok dalam Festival Pesona Bau Nyale 2020 yang digelar sejak 8 Februari 2020 silam.
 
Sejak pukul 03.00 WITA wisatawan sudah berkumpul di Pantai Seger, Nusa Tenggara Barat yang juga dikenal sebagai salah satu destinasi selancar terbaik di Lombok.
 
Tanpa peduli dinginnya laut, ribuan pemburu menceburkan diri ke pantai untuk berburu nyale sambil membawa cahaya penerangannya masing-masing. Bila dilihat dari atas bukit di samping Pantai Seger, cahaya penerangan itu mereka bercampur dengan cahaya rembulan.
 
Para pemburu nyale yang begitu bersemangat ini menangkap nyale dengan menggunakan kayu berbentuk huruf ‘U’ yang diikat dengan jaring di belakangnya. Nyale yang bermunculan dari dalam karang itu kemudian diserok dengan jaring tersebut.
 
Menangkap nyale membutuhkan waktu. Ini karena cacing ini lincah dan licin. Bila ingin banyak menangkap, maka semakin banyak waktu yang perlu dihabiskan.
 
“Saya dapat nyale lumayan banyak, ini akan saya konsumsi bersama keluarga, setahun sekali,” tutur Agus yang datang dari Kota Mataram sambil menunjukkan hasil tangkapannya yang berisi nyale hampir setengah ember.
 
Berburu Cacing Warna-warni Perwujudan Putri Cantik di Lombok
(Kegiatan berburu nyale baru usai setelah matahari terbit. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
 
Nyale mengandung protein yang tinggi. Oleh karena itu, banyak warga yang langsung memakannya atau bawa pulang untuk dimasak. Biasanya masyarakat memasaknya dengan cara dipepes dengan bungkus daun pisang.
 
Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ari Juliano Gema saat mengikuti prosesi Bau Nyale mengatakan, ini menjadi budaya dan atraksi yang unik sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk datang ke Nusa Tenggara Barat.
 
“Festival Bau Nyale jadi cara efektif mempromosikan keindahan atraksi dan budaya di NTB. Sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang serta membantu menggerakan perekonomian masyarakat lokal,” kata Ari Juliano.
 
Kegiatan berburu nyale baru usai setelah matahari terbit. Saking tenggelam dalam keasyikkan acara ini, seakan para pemburu sampai tak sadar bahwa sudah berjam-jam menghabiskan waktu melakukan aktivitas ini. 
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif