Jika pada album pertama mereka masih mendapat arahan dalam proses rekaman dan pengembangan materi, kali ini sebagian besar proses penggarapan dilakukan sendiri. Ide-ide lagu lahir dari sesi demo sederhana yang mereka kerjakan bersama di kamar.
“Kalau album pertama ada yang arahin untuk rekaman dan proses kreatif. Tapi untuk Perang Sarung Gajah Moshing ini justru lebih spesial. Pertama dikerjakan di bulan Ramadan, kedua ini pure kerjaan kita bertiga,” kata Mahes dalam pesta peluncuran album di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.
Keintiman proses tersebut memberi warna tersendiri pada EP ini. Mahes menggambarkan dinamika kerja mereka dengan nada santai dan bercanda. “Kami masih mandi bareng kadang-kadang. Eh kedengarannya salah ya,” ujarnya sambil tertawa. “Pokoknya gitu deh. Kayaknya lebih asik yang sekarang. Penggarapannya lebih asik karena lebih mandiri.”
Seperti rilisan mereka sebelumnya, Sukses Lancar Rejeki tetap menunjukkan kepekaan terhadap hal-hal yang kerap dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi perang sarung, istilah mokel, hingga dinamika kecil di sekitar bulan Ramadan diolah menjadi lirik yang jenaka dan lugas tanpa kehilangan energi punk yang menjadi identitas mereka.
Baca Juga :
​Maliq & D’Essentials Bikin Sekolah Musik
Perilisan Perang Sarung Gajah Moshing juga dibarengi kolaborasi dengan brand lokal FYC Footwear melalui sepatu edisi khusus Sukses Lancar Rejeki. Kolaborasi ini menjadi bagian dari perayaan perilisan EP sekaligus memperluas identitas visual band yang selama ini lekat dengan kultur jalanan dan humor khas mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News