Berikut dampak puasa pada anak. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Berikut dampak puasa pada anak. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Dampak Kesehatan Berpuasa pada Anak

Rona puasa keluarga perkembangan anak tips berpuasa
Raka Lestari • 30 April 2020 08:00
Jakarta: Anak-anak yang belum memasuki masa pubertas merupakan kelompok yang belum wajib melaksanakan ibadah puasa ketika bulan Ramadan. Meskipun begitu, sebagai orang tua tetap harus mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa. 
 
Dan sebelum mengajarkan anak berpuasa, orang tua sebaiknya terlebih dahulu memahami dampak berpuasa pada anak-anak.
 
“Berpuasa mengubah kondisi tubuh seorang anak. Setelah berpuasa selama enam jam, tubuh akan mulai memecah cadangan gula dalam tubuh (glikogen) untuk menjaga agar kadar gula dalam darah. Apabila puasa dilanjutkan hingga mencapai 16 jam, maka perlahan cadangan glikogen akan habis,” jelas dr. Cut Nurul  Hafifah, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan nutrisi metabolik di RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dr. Cut, tubuh kemudian akan menggunakan lemak yang ada dalam tubuh sebagai sumber energi. Protein sebagai zat pembangun tubuh akan diusahakan untuk dijaga dan merupakan komponen terakhir yang akan dipakai bila puasa terus berlanjut.
 
“Semakin kecil usia seorang anak, maka cadangan glikogen yang dimiliki semakin sedikit. Akibatnya, bayi dan balita lebih berisiko mengalami hipoglikemia yaitu berkurangnya gula darah dalam tubuh,” ujar dr. Cut.
 
Ia juga menjelaskan bahwa anak yang berusia di bawah tujuh tahun merupakan kelompok yang lebih berisiko mengalami hipoglikemia apabila berpuasa. 
 
“Selain itu, kelompok usia ini lebih rentan mengalami kekurangan cairan. Perubahan pola tidur akibat bangun sahur juga dapat berdampak pada kemampuan di sekolah,” ujar dr. Cut.
 
Dampak Kesehatan Berpuasa pada Anak
(Dr. Cut Nurul  Hafifah, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan nutrisi metabolik di RS Pondok Indah – Pondok Indah. Foto: Dok. RSPI Group)

Usia tujuh tahun

“Anda dapat mulai mengajari anak berpuasa ketika ia berusia di atas tujuh tahun. Pada usia ini dampak kesehatan yang tidak diinginkan akibat berpuasa semakin jarang ditemui."
 
"Bila anak sudah lebih besar, ketika memasuki usia remaja, risiko hipoglikemia akan semakin berkurang. Suatu penelitian di Qatar menunjukkan performa akademik anak berusia 12 tahun yang sedang berpuasa juga cukup baik,” jelas dr. Cut.
 
Menurut dr. Cut, ketika mengajarkan anak berpuasa pastikan mereka mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
 
Pastikan anak mendapat makanan bergizi saat sahur dan berbuka, yaitu makanan yang mengandung makronutrien (makanan utama) dan mikronutrien (makanan yang mengandung vitamin dan mineral) yang dibutuhkan tubuh.
 
“Jangan lupa semangati mereka dan ucapkan kata-kata pujian ketika mereka sedang berpuasa dan berhasil menahan lapar dan haus. Awasi tanda bahaya dehidrasi dan hipoglikemia. Segera sudahi berpuasa bila anak tidak sanggup melanjutkan,” tutupnya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif