Ilustrasi-Unsplash
Ilustrasi-Unsplash

Efek Samping dari Penggunaan Ventilator

Rona covid-19
Sunnaholomi Halakrispen • 25 Juni 2020 15:25
Jakarta: Ventilator mekanik diyakini menyebabkan berbagai efek samping. Komplikasi tersebut, dikombinasikan dengan kerusakan paru-paru yang dialami pasien covid-19, dan dapat membuat semakin sulitnya proses pemulihan.
 
Pengacara dan blogger hukum New York City, David Lat, sempat menghabiskan enam hari menggunakan ventilator. Ia menggunakannya dalam kondisi kritis di NYU Langone Medical Center, setelah didiagnosis menderita covid-19. David pun membagikan pengalamannya.
 
"Kondisi ini membuat saya takut. Beberapa hari sebelumnya, setelah saya dirawat di rumah sakit, dokter telah memperingatkan saya bahwa sebaiknya saya tidak memakai ventilator," tulis Lat dalam sebuah rubrik opini di Washington Post, dikutip dari WebMD.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lat selamat, dan dia berterima kasih pada ventilator. Tetapi, dia juga berjuang untuk memulihkan kemampuan bernapasnya usai menggunakan ventilator itu.
 
"Saya mengalami sesak napas bahkan dari aktivitas ringan. Dahulu saya berlari maraton, sekarang saya tidak bisa berjalan melintasi ruangan atau naik tangga tanpa embusan angin. Saya tidak bisa berkeliling blok untuk mencari udara segar, kecuali suami saya mendorong saya dengan kursi roda," tuturnya.
 
Ventilator mekanis mendorong udara ke paru-paru pasien yang sakit parah. Pada kondisi ini, pasien harus dibius dan dimasukkan selang ke tenggorokannya. Lantaran menggunakan sebuah mesin bernapas, pasien seringkali mengalami pelemahan diafragma mereka dan semua otot lain yang terlibat dalam menarik napas.
 
"Ketika semua otot ini menjadi lebih lemah, semakin sulit bagi Anda untuk bernapas sendiri ketika Anda siap untuk dibebaskan dari ventilator," jelas Ahli Paru Intervensi dengan Gunung Sinai, Rumah Sakit di Kota New York, Dr. Udit Chaddha.
 
Menurut Ketua Kedokteran Perawatan Kritis di Klinik Cleveland, Amerika Serikat, Dr. Hassan Khouli, pasien-pasien ini juga berisiko mengalami cedera paru akut yang berhubungan dengan ventilator. Suatu kondisi yang disebabkan oleh paru-paru yang terlalu banyak selama ventilasi mekanis.
 
Dokter harus menghitung jumlah udara dengan tepat untuk masuk ke paru-paru seseorang, dengan mempertimbangkan fakta bahwa sebagian besar paru-paru bisa penuh cairan dan tidak mampu inflasi.
 
"Jumlah volume yang harus Anda kirim biasanya lebih sedikit. Jika pengaturan tidak dikelola dengan benar, itu dapat menyebabkan trauma tambahan pada paru-paru," ucap Dr. Khouli.
 
Sementara Dr. Chaddha mengatakan, pasien yang berventilasi juga berisiko tinggi mengalami infeksi, dan banyak yang berisiko mengalami komplikasi psikologis. Seperempat mengalami gangguan stres pasca-trauma dan sebanyak setengahnya mungkin menderita depresi lanjutan.
 
"Itu bukan hal yang mudah. Ada banyak efek samping. Dan semakin lama mereka menggunakan ventilator, semakin besar kemungkinan terjadinya komplikasi," papar Dr. Chaddha.
 
Itu sebabnya, ICU menjadi lebih berhati-hati dalam penggunaan ventilasi, menggunakan oksigen dan dilator pernapasan seperti oksida nitrat untuk membuat orang menarik napas mereka sendiri selama mungkin. Sebab, ventilator bukan obat.
 
"Ventilator hanya menopang tubuh, sementara tubuh berurusan dengan peradangan yang disebabkan oleh infeksi. Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda menempatkan seseorang pada ventilator dan mengharapkan mereka membaik pada hari berikutnya. Bukan itu masalahnya," pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(FIR)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif