(Foto: via Health)
(Foto: via Health)

Mengapa Pikiran Mudah Terdistraksi?

Rona studi kesehatan
Sri Yanti Nainggolan • 26 Agustus 2018 13:21
Jakarta: Apakah Anda sering memikirkan hal lain ketika seharusnya fokus pada satu hal? Ternyata, itu adalah hal yang wajar, menurut sebuah penelitian.
 
"Setelah dua penelitian dengan melibatkan monyet (kera) dan manusia dalam pengaturan yang sama, para peneliti menemukan perhatian kita tidak semulus yang kita yakini, bertindak kurang seperti lampu sorot.
 
Otak manusia bukan tak fokus begitu saja tetapi melakukan pemeriksaan di sekitar untuk memastikan apakah perlu fokus ke hal lain," ujar peneliti Ian Fiebelkorn, ahli saraf kognitif di Princeton University.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jenis 'perhatian yang berdenyut' ini dapat dianggap sebagai keuntungan evolusioner, kemungkinan besar akan membantu kita tetap waspada dari ancaman potensial bahkan jika fokus utama kita adalah pada hal yang sama sekali berbeda.
 
"Ini seperti Anda menginginkan apel merah mengilap di pohon, Anda ingin tahu apakah sesuatu yang lebih besar atau ada hal lain yang juga mengincar apel itu," kata Fiebelkorn.
 
"Ya, kamu fokus pada apel. Tapi tidak begitu fokus, kamu tidak melihat bahaya datang."
 
Menurut Gizmodo, kedua studi tersebut melibatkan manusia dan monyet yang berfokus pada layar. Para peneliti memantau aktivitas otak mereka dengan bantuan elektroda dan juga menggunakan kamera untuk melacak gerakan mata mereka.
 
Para partisipan diminta untuk menarik tuas atau melepaskan mouse komputer jika melihat kilatan di layar. Saat memeriksa otak mereka, para peneliti menemukan bahwa monyet dan manusia mengalami penurunan yang sama dalam aktivitas neuron, empat kali per detik.
 
Artinya, otak dirancang untuk memeriksa sekeliling empat kali per detik, dimana manusia memiliki kesempatan untuk mengalihkan perhatian kita sekali setiap 250 milidetik. Sifat tersebut mungkin tidak terbatas pada otak manusia dan kera saja, tetapi berpotensi spesies lain.
 
Para peneliti berpendapat, dua keadaan tersebut, fokus dan distraksi, dapat membantu mencari cara untuk mengatasi attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
 
"Ketika Anda berbicara tentang jenis ADHD yang terfokus pada hiper atau jenis yang dapat mengalihkan perhatian, Anda dapat dengan mudah menggambar paralel dengan dua pemikiran yang bergantian," kata peneliti lain Sabine Kastner, yang juga ahli saraf kognitif di Princeton.
 
"Bisa jadi otak yang dipengaruhi oleh ADHD tidak dapat menyeimbangkan antara dua ruang atensi dan bukannya terkunci dalam satu atau yang lain."
 
 
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif