Karena covid-19 bukan aib, bantu Nakes dalam memberantas covid-19.  (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Karena covid-19 bukan aib, bantu Nakes dalam memberantas covid-19. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Terkena Covid-19 Bukan Aib dan Jangan Kabur

Rona Virus Korona virus corona covid-19 jangan takut corona dr. Yusuf SpOG
Yatin Suleha • 07 April 2020 16:35
Jakarta: Tentunya pemandangan saat ini - pandemi virus korona atau covid-19 tak ada yang pernah membayangkannya. Bekerja dan berkegiatan menjadi berubah. Sektor informal dan harian terpukul. Sebagian pekerja melakukannya dengan bekerja di rumah. Berkegiatan di luar menjadi dibatasi. 
 
Dan perjuangan melawan virus yang tak terlihat dengan mata telanjang ini juga menjadi 'pertempuran hebat' pejuang medis yang berada di garis terdepan. Setiap hari tanpa henti dokter dan perawat serta semua yang membantu pengobatan covid-19 berada di ambang 'menang atau kalah'.
 
Dalam media sosial Instagram dr. Yusuf, SpOG yaitu @dokteryusuf.spog, ia menyebutkan bahwa terkena virus korona atau covid-19 bukan aib. Seharusnya ini menjadi realita yang perlu diatasi bersama-sama. Individu, masyarakat, paramedis, dan pemerintah bergotong royong menangani hal ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam sebuah media massa, Rhesa H seorang Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (Unibraw) yang pernah terkena covid-19 mengatakan bahwa korona bukan aib, melainkan wabah yang bisa menyerang siapa saja.
 
"Covid-19 bukan penyakit aib, namun sebuah wabah yang semua orang bisa kena," kata Rhesa melalui keterangan resmi yang disiarkan Unibraw, Kamis 2 Maret 2020 lalu.
 
Dalam wawancara bersama Medcom.id, Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung memaparkan bahwa cara mengatasi agar masyarakat tak menganggap terkena korona aib adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.
 
"Yang namanya wabah penyakit siapa saja bisa kena, apakah tua, muda, kaya atau miskin, ras atau suku, dan religi apapun bisa kena," ungkap psikolog yang ramah ini. 
 
Ia mengatakan perlunya informasi ini masuk ke dalam memori masyarakat umum dan menganggap ini bukan aib.
 
Tentunya ini perlu dukungan baik dari keluarga, kerabat-kerabat dekat, sahabat, masyarakat luas, dan bukan melempar stigma negatif kepada orang yang terkena covid-19.
 
Terkena Covid-19 Bukan Aib dan Jangan Kabur
(Dokter Yusuf, salah satu tenaga kesehatan yang membantu covid-19 mengimbau agar pasien atau PDP Covid-19 tak melarikan diri. Bantu Nakes dalam memberantas covid-19. Foto: Dok. Instagram dr. Yusuf, SpOG/@dokteryusuf.spog)

'Buron' covid-19?

Dr. Yusuf dalam laman media sosialnya juga mengimbau agar pasien atau PDP covid-19 agar tidak melarikan diri alias kabur setelah didiagnosa terkena covid-19. Sekali lagi karena ini, pertama bukan aib dan kedua menjadi 'buron covid-19' dapat membayakan banyak orang. 
 
Ia mengatakan, "Di mana tanggung jawabmu wahai pasien terhadap keluargamu, tetanggamu dan masyarakatmu? Berapa banyak Orang Dalam Pemantauan/ODP akibat ulahmu saat pelarianmu?"
 
"Sahabat-sahabatku penderita covid 19, bila Anda melakukan itu, tentu Anda akan sangat-sangat MEMBAHAYAKAN NYAWA orang lain. Apakah harus menunggu wabah ini menginfeksi seluruh Indonesia? Mohon kalian jujur dengan aktivitas dan keadaan kalian sebelum sakit, agar kami NAKES yang menangani bisa mengantisiapasi," seru dr. Yusuf.
 
Lebih jauh secara eksklusif dalam wawancara dengan Medcom.id, dr. Yusuf mengatakan banyak yang kabur ketika sudah mengetahui terkena covid-19. Ini tentu saja berbahaya tentu bagi dirinya sendiri karena tak terobati dan melarikan diri kemudian membayakan nyawa orang lain.
 
Selanjutnya menurut dr. Yusuf dengan kabur mereka menjadi superspreader yang bisa menyebarkan ke banyak orang lain, pekerja sektor informal seperti tukang bakso, tukang ojol (ojek online), tukang gorengan, dan lainnya.
 
Dokter yang ramah ini juga mengimbau agar masyarakat membantu para tenaga kesehatan. "Bantu kami para NAKES dari risiko maut yang mengintai saat bertugas, bantu tukang ojol dari ketakutan dan risiko membawa penumpang yang tidak jujur, bantu tukang gorengan menghadapi pembeli yang tidak jujur akan kesehatannya." 
 
Dalam penutup dr. Yusuf mengatakan bahwa, "Kejujuran adalah hal mutlak dalam menghentikan wabah ini."
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif