Ilustrasi Mi Instan (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi Mi Instan (Foto: Shutterstock)

Risiko Mengonsumsi Mi Instan Berlebihan

Rona mi instan
Sunnaholomi Halakrispen • 22 Juni 2019 17:03
Mengonsumsi mi instan dalam jumlah berlebihan ternyata memiliki risiko tersendiri. Salah satu risikonya yaitu, Anda meningkatkan risiko pertubahan metabolisme yang terkait dengan penyakit jantung dan stroke.
 

Jakarta:
Cepat diolah, murah, dan disajikan saat panas, begitu nikmat. Makanan kerap disantap anak kuliah dan orang dewasa muda. Banyak yang menyebutkan mi instan tidak baik untuk kesehatan dan menyebabkan usus buntu.
 
Salah satu penelitian menemukan, mengonsumsi mi instan dengan jumlah berlebih dapat meningkatkan risiko perubahan metabolisme yang terkait dengan penyakit jantung dan stroke.

Dalam studi tersebut, para wanita di Korea Selatan yang mengonsumsi lebih banyak mi kering yang sudah dikeringkan lebih mungkin mengalami sindrom metabolik. Terlepas dari apa pun yang mereka makan, atau berapa banyak yang mereka olah. Orang dengan sindrom metabolik mungkin memiliki tekanan darah tinggi atau kadar gula darah tinggi, dan menghadapi peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Meskipun mi instan adalah makanan yang enak, mungkin ada peningkatan risiko untuk sindrom metabolik yang diberikan natrium tinggi [makanan], lemak jenuh tak sehat dan beban glikemik," kata Hyun Shin, seorang kandidat doktoral di Sekolah Kesehatan Masyarakat di Harvard seperti dilansir dari livescience.
 
Shin dan rekan-rekannya di Baylor University dan Harvard menganalisis kesehatan dan diet hampir 11.000 orang dewasa di Korea Selatan antara usia 19 hingga 64 tahun. Negara ini dikenal sebagai konsumen mi instan terbesar di dunia.
Risiko Mengonsumsi Mi Instan Berlebihan
Ilustrasi Mi Instan. Pexels.
 
Para peserta melaporkan apa yang mereka makan. Peneliti mengkategorikan diet masing-masing peserta berpusat pada makanan sehat tradisional atau cepat saji, serta berapa kali dalam seminggu mereka makan mi instan.
 
Wanita yang makan mi instan dua kali seminggu atau lebih memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom metabolik dari pada mereka yang makan lebih sedikit, atau tidak sama sekali. Terlepas dari apakah gaya diet mereka termasuk dalam kategori tradisional atau makanan cepat saji.
 
Para peneliti menemukan hubungan itu bahkan di antara wanita muda yang lebih ramping dan dilaporkan melakukan lebih banyak aktivitas fisik. Adapun laki-laki, Shin dan rekan-rekannya menyatakan perbedaan biologis antara jenis kelamin, seperti efek hormon seks dan metabolisme, mungkin menjelaskan kurangnya hubungan yang jelas terhadap laki-laki antara makan mi instan dan mengembangkan sindrom metabolik. Studi ini dilakukan di Korea Selatan, daerah yang dikenal memiliki kelompok konsumsi ramen terbesar di dunia, di mana orang mengonsumsi 3,4 miliar paket mie instan pada tahun 2010.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif