Fetishism adalah fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menggunakan objek tidak hidup sebagai metode untuk membuat seseorang terangsang secara seksual. (Ilustrasi/Pexels)
Fetishism adalah fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menggunakan objek tidak hidup sebagai metode untuk membuat seseorang terangsang secara seksual. (Ilustrasi/Pexels)

Fetisisme, Gangguan Jiwa?

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 01 Agustus 2020 16:05
Jakarta: Sejumlah laman Nasional hingga media sosial masih membahas fetisisme atau fetishism. Berdasarkan pengertian di laman KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fetisisme sendiri merupakan bangkitnya gairah seksual seseorang melalui suatu benda. 
 
Isu fetisisme berawal dari unggahan Twitter dengan akun @m_fikris soal fetish kain jarik (kain panjang) yang dibungkus pada tubuh seseorang dengan bagian mata dan mulut diikat lakban, kecuali bagian hidung. Pemilik akun tersebut bercerita bahwa yang ia alami merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual melalui foto dan video yang berkedok riset.
 
Maraknya informasi fetish saat ini membuat banyak masyarakat bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari fetish itu sendiri. Menurut dr. Alvina, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Primaya Hospital Bekasi Barat, fetish adalah objek yang tidak hidup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan, fetishism adalah fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menggunakan objek tidak hidup sebagai metode untuk membuat seseorang terangsang secara seksual. 
 
“Seseorang dengan Fetishism akan berfantasi seksual atau melakukan perilaku seksual misalnya masturbasi dengan menggunakan benda yang tidak hidup sebagai objek untuk menimbulkan rangsangan seksual," ujar dr. Alvina.
 
Kemudian, apakah seseorang dengan fetishism termasuk dalam kategori mengalami gangguan jiwa? dr. Alvina mengatakan bahwa fetishism sendiri belum tentu bisa langsung disebut sebagai gangguan jiwa, karena tergantung kondisi masing-masing.
 
"Untuk memenuhi kriteria gangguan jiwa, seseorang dengan fetishism harus mengalami distres yang bermakna dan gangguan fungsi, seperti merasa terganggu atau menderita dengan kondisinya. Saat menjadi gangguan, diagnosisnya menjadi gangguan fetihistik," paparnya.
 
Untuk memenuhi kriteria diagnosis gangguan fetihistik, seseorang harus memiliki fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang intens, dan berulang, yang melibatkan objek tidak hidup atau bagian dari tubuh manusia non-genital. Fantasi, dorongan, atau perilaku ini berlangsung sekurangnya enam bulan dan menyebabkan distres atau gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan personal.
 
"Saat fetishism sudah menimbulkan distres dan gangguan fungsi, tentu gangguan fetihistik bisa menimbulkan dampak buruk bagi seseorang dengan fetishism, misalnya orang tersebut menjadi menarik diri dari lingkungan sosialnya karena gangguan fungsi sosial atau tidak bisa bekerja karena gangguan fetihistik-nya," pungkas dr. Alvina.
 

 

(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif