Obat stimulan bisa berisiko psikotik. (foto:naturalblaze.com)
Obat stimulan bisa berisiko psikotik. (foto:naturalblaze.com)

Efek Samping Obat-obatan ADHD untuk Anak Hiperaktif

Rona kesehatan anak
Sri Yanti Nainggolan • 31 Desember 2015 18:15
medcom.id, Jakarta: Sebuah penelitian menunjukkan bahwa obat stimulan yang biasa digunakan oleh penderita attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dapat meningkatkan risiko efek samping psikotik terhadap pasien muda yang memiliki orang tua dengan riwayat penyakit mental yang serius. ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak atau dikenal dengan hiperaktif.
 
Studi ini melibatkan 141 anak-anak dan orang muda berusia 6 hingga 21 tahun. Hampir dua-pertiga dari obat stimulan yang mereka konsumsi memiliki efek samping psikotik yang bisa menyebabkan halusinasi, delusi, mendengar suara-suara, dan atau gangguan persepsi.
 
"Obat-obatan ini bisa sangat membantu (memicu), termasuk pada anak-anak dengan riwayat keluarga penyakit mental," kata pemimpin penulis studi Dr Rudolf Uher. Dia adalah seorang profesor dan kepala peneliti di Kanada di departemen psikiatri Universitas Dalhousie di Halifax, Nova Scotia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bukan berarti kita harus berhenti menggunakan obat stimulan," tambahnya. 
 
Ia menekankan bahwa dokter sudah lama tahu bahwa obat stimulan memang dapat menyebabkan halusinasi dan gejala psikotik lainnya. "Yang mengejutkan adalah kuantitas. Tak ada yang menduga efek samping ini bisa menjadi begitu umum," tandasnya.
 
ADHD mempengaruhi antara 5 sampai 10 persen anak-anak usia sekolah di Amerika Serikat. Stimulan dianggap sebagai pengobatan lini pertama untuk kondisi tersebut, kata para penulis studi.
 
Dalam penelitian ini, orang tua dan anak-anak menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Semua anak memiliki paling tidak satu orang tua dengan riwayat penyakit depresi, gangguan bipolar, atau skizofrenia. Hampir seperempat dari anak-anak didiagnosis dengan ADHD, menurut laporan tersebut.
 
Sekitar 17 persen dari anak-anak tersebut diberikan obat stimulan seperti Ritalin (methylphenidate), Vyvanse (lisdexamfetamine), atau Dexedrine (dextroamphetamine). Obat-obat ini dikenal untuk membatasi hiperaktif, kurangnya perhatian, impulsif dan terkait dengan ADHD.
 
Anak-anak juga diwawancarai terkait efek obat untuk menceritakan 'perasaan lucu' yang diduga sebagai gejala psikotik. Hasil menunjukkan bahwa gejala psikotik lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya.
 
Temuan tersebut menunjukkan bahwa risiko efek samping psikotik seharusnya tidak lagi dianggap langka di kalangan anak-anak tersebut. Para peneliti menyarankan dokter untuk hati-hati memantau anak-anak dan remaja mengambil obat stimulan.
 
Erin Schoenfelder, asisten profesor dari University of Washington School of Medicine di Seattle, setuju dengan hal tersebut. Ia menyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut karena penelitian tersebut tiak membedakan tingkat penyakit mental tersebut. "Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa anak-anak dengan penyakit mental akut tidak selalu mengalami resiko lebih tinggi terkena efek samping, karena mereka yang mengalami kesulitan lebih ringan bisa jadi tidak mengonsumsi obat terlalu banyak sebelumnya," tuturnya.
 
"Tampaknya gejala psikotik-stimulan yang terkait terkait dengan pengobatan stimulan terjadi lebih umum, lebih kompleks dan lebih luas pada anak-anak dari orang tua dengan gangguan jiwa dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki penyakit mental aktif," tambah Dr Andrew Adesman, kepala perkembangan dan perilaku pediatri di Cohen Children’s Medical Center in New Hyde Park, N.Y.
 
Dokter anak yang merawat anak-anak yang memiliki satu atau lebih orang tua dengan penyakit mental harus waspada untuk pengembangan gejala psikotik pada anak-anak ini, terutama jika berhubungan dengan obat stimulan. (Health)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(LOV)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif