Orang-orang yang menunggu kereta sering kali menjadi cemas karena merasa tidak ada cara jelas dan adil memasuki gerbong. (Foto: Pexels.com)
Orang-orang yang menunggu kereta sering kali menjadi cemas karena merasa tidak ada cara jelas dan adil memasuki gerbong. (Foto: Pexels.com)

Alasan Psikologis Menunggu Lebih Terasa Lebih Lama

Rona psikologi
Anda Nurlaila • 18 Juni 2019 17:02
David Maister dalam "The Psychology of Waiting Lines" menggambarkan beberapa kondisi yang bisa terasa lebih lama. Seperti semakin banyak orang yang menemani saat menunggu, semakin jarang mereka memerhatikan waktu tunggu. Bahkan dalam beberapa situasi, mengantre menjadi bagian dari pengalaman. Seperti saat antre demi mendapat tanda tangan penulis buku. Atau saat melakukan sesuatu yang mengalihkan perhatian, waktu terasa berlalu lebih cepat, seperti kaca yang disediakan oleh hotel tepat di dekat lift, agar Anda bisa melihat penampilan Anda, sekaligus mengalihkan perhatian.
 

 
Jakarta: Menunggu giliran saat akan bertransaksi di depan kasir atau saat memperoleh layanan medis salah satu hal yang paling membosankan. Antrean yang bergerak lambat menjadi tantangan sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


David Maister dalam "The Psychology of Waiting Lines" menuliskan menunggu antrean terasa lebih lama lebih lama karena beberapa hal, seperti dimuat dalam psychcentral:

1. Waktu luang atau yang diisi dengan aktivitas

Saat melakukan sesuatu yang mengalihkan perhatian, waktu terasa berlalu lebih cepat. Itu sebabnya beberapa hotel meletakkan cermin di dekat lift, agar mereka yang terburu-buru dapat memperbaiki penampilan.

2. Penyedia layanan ingin bersiap-siap

Inilah sebabnya pramusaji memberi daftar menu saat Anda baru masuk ke restoran. Hal yang sama juga dilakukan penyedia jasa dokter gigi yang memeriksa pasien selama beberapa menit sebelum melakukan hal-hal yang dibutuhkan.
 
Alasan Psikologis Menunggu Lebih Terasa Lebih Lama
(Orang-orang yang menunggu kereta sering kali menjadi cemas karena merasa tidak ada cara jelas dan adil memasuki gerbong. Foto: Pexels.com)

3. Kecemasan membuat menunggu terasa lebih lama

Jika berada di antrean kasir di supermarket atau toko obat, penantian akan terasa lebih lama jika merasa cemas tidak dapat melakukan rencana selanjutnya tepat waktu.

4. Penantian yang tidak pasti

Mereka yang diberitahu waktu menunggu selama 30 menit saat di dokter cenderung lebih tenang daripada mereka yang hanya diberitahu, "Dokter akan segera memeriksa Anda." Fenomena yang menarik adalah orang yang datang 30 menit lebih awal lebih sabar menunggu daripada mereka yang tiba 30 menit setelah waktu yang dijanjikan.

5. Waktu tunggu yang tidak dapat dijelaskan

Sebagian besar orang lebih sabar saat memesan makanan pesan-antar di tengah cuaca hujan deras daripada saat cuaca cerah.

6. Menunggu di kondisi merasa tidak adil lebih lama

Orang-orang yang menunggu kereta sering kali menjadi cemas karena merasa tidak ada cara jelas dan adil memasuki gerbong. Aturan "FIFO"  atau mereka yang antre pertama mendapat giliran pertama adalah yang paling baik. Tapi kadang-kadang ada orang-orang dengan kondisi tertentu membutuhkan perhatian mendesak atau orang-orang yang lebih diutamakan, sehingga sering kali mendapat pelayanan lebih dulu.

7. Semakin bernilai layanan, semakin lama pelanggan harus menunggu

Menanti untuk berkonsultasi dengan dokter membutuhkan waktu menunggu lebih lama daripada saat berbicara pada petugas pemasaran. Seseorang yang sedang antre untuk membeli ponsel baru tentu akan mengantre lebih lama daripada saat membeli sikat gigi.

8. Menunggu sendirian dan kelompok

Semakin banyak orang yang menemani saat menunggu, semakin jarang mereka memerhatikan waktu tunggu. Bahkan dalam beberapa situasi, mengantre menjadi bagian dari pengalaman. Seperti saat antre demi mendapat tanda tangan penulis buku favorit.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif