Agoraphobia adalah ketakutan yang berlebihan ketika berada di luar rumah sendirian. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Agoraphobia adalah ketakutan yang berlebihan ketika berada di luar rumah sendirian. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Mengenal Agoraphobia dan Pemicunya

Rona covid-19 pandemik virus korona agoraphobia
Raka Lestari • 14 Mei 2020 19:17
Jakarta: Agoraphobia adalah ketakutan yang berlebihan ketika berada di luar rumah sendirian. Bagi seseorang yang mengalami agoraphonia, tempat-tempat yang bisa memicu kecemasan mereka tersebut di antaranya adalah transportasi umum, taman terbuka, ruang tertutup seperti supermarket, atau berada di keramaian.
 
"Jika kehidupan sehari-hari Anda dipengaruhi oleh keengganan atau ketakutan meninggalkan rumah atau tempat yang aman, ini merupakan gejala utama dari agoraphobia,” kata Ahmet Mehmet, seorang psikoterapis di bidang gangguan kecemasan.
 
Untuk bisa didiagnosis mengalami agoraphobia, seseorang harus mengalami rasa takut tersebut setidaknya enam bulan berturut-turut, dan itu harus dipicu setidaknya dari beberapa pemicu berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yaitu menggunakan transportasi umum, berada di tempat terbuka, tempat tertutup, mengantre atau di keramaian, dan berada di luar rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Kevin Gournay, seorang psikolog dan profesor terdaftar di Institute of Psychiatry di Kings College di London, seseorang yang mengalami agoraphobia diprogram secara biologis untuk memproduksi adrenalin lebih mudah daripada orang normal.
 
Dilansir dari Insider, menurut studi yang dilakukan pada tahun 2012 menemukan bahwa lokasi serangan panik pertama pada pasien berkaitan dengan pengembangan agoraphobia di kemudian hari. 
 
Dalam studi tersebut, mereka yang mengalami serangan panik pertama saat mengendarai mobil atau menggunakan transportasi umum lebih mungkin untuk mengembangkan agoraphobia sekitar 56-61 persen.
 
Pengalaman yang menakutkan dan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan juga dapat menyebabkan seseorang mengembangkan gejala agoraphobia. Menurut Mehmet, sangat mungkin seseorang yang mengembangkan gejala agoraphobia disebabkan karena pandemi covid-19.
 
"Mereka yang cenderung memiliki tingkat kecemasan dan kepanikan yang tinggi lebih cenderung memiliki reaksi agoraphobia yang lebih ekstrem,” kata Mehmet. 
 
Jika Anda mengalami serangan panik di supermarket yang ramai selama pandemi covid-19 dan merasa takut untuk pergi ke supermarket bahkan sampai pandemi ini berakhir kemungkinan itu merupakan reaksi agoraphobia. Menurut Mehmet, cara terbaik untuk mengobati agoraphobia adalah kombinasi perubahan gaya hidup, terapi berbicara, dan beberapa obat.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif