Tentu saja tak ada yang menginginkannya. Namun jika hal itu terjadi, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat mengatakan bahwa hal yang perlu dilakukan adalah “bersikap tenang” di tengah kepanikan perasaan kita.
"Duduk tarik napas yang dalam, kemudian baru berpikir tentang langkah apa yang harus dilakukan. Hal ini penting untuk dilakukan, karena napas yang teratur akan membantu kejernihan berpikir, dan ketepatan dalam berperilaku," jelas psikolog yang ramah ini.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dan jika ada nama salah satu keluarga kita di manifes korban menurut Efnie harus dapat mengendalikan diri dimulai dari pengendalian napas tadi.

(Petugas melakukan pendataan terhadap keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang berada di ruang kedatangan Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung, Senin, 29 Oktober 2018. ANTARA FOTO/Roni Bayu/aww)
(Baca juga: Lion Air Mengakui JT610 Sempat Bermasalah)
"Setelah sedikit mengendalikan napas untuk stress release, menghubungi pihak keluarga yang bisa mendampingi kita (emotion focus coping), langkah selanjutnya yang penting adalah menghubungi pihak penerbangan untuk memastikan kebenaran data dan informasi dan selalu “update” informasi terkini," simpul Efnie.
Jadi jika disimpulkan menghadapi situasi demikian, maka ada dua langkah yang bisa dilakukan untuk menanggulangi stres yang kita hadapi menurut Efnie:
1. Emotion focus: Menenangkan kondisi emosi negatif kita dengan mengendalikan napas, mencari kerabat dan pihak lain seperti sabahat dan kolega yang bisa mendukung kita.
2. Problem focus coping: mencari strategi solusi dengan sejumlah langkah yang tepat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
