FAMILY
Fenomena ‘The Great Stuff Transfer’ yang Bikin Generasi Sekarang Dilema
Yatin Suleha
Senin 13 April 2026 / 08:05
- Dalam beberapa tahun ke depan, dunia akan menghadapi fenomena unik yang jarang dibicarakan.
- Bukan sekadar perpindahan kekayaan, tetapi juga perpindahan barang dalam jumlah besar, dari generasi tua ke generasi berikutnya.
- Lalu, barang bekas peninggalan orang tua yang sudah sudah lama harus digimanain sih?
Jakarta: Dalam beberapa tahun ke depan, dunia akan menghadapi fenomena unik yang jarang dibicarakan, karena bukan sekadar perpindahan kekayaan, tetapi juga perpindahan barang dalam jumlah besar, dari generasi tua ke generasi berikutnya.
Dilansir dari Better Homes and Gardens, para ahli memperkirakan bahwa kekayaan sekitar USD90 triliun akan diwariskan, dari Generasi Silent dan Generasi Baby Boomer kepada ahli waris dalam waktu dekat.
Namun, bentuk warisan ini bukan uang tunai, melainkan barang-barang fisik. Isinya sangat beragam, mulai dari benda kenangan yang punya nilai emosional, perabot rumah, hingga berbagai koleksi pribadi.
Fenomena ini dikenal sebagai The Great Stuff Transfer, istilah yang diperkenalkan oleh pakar organisasi, Dr. Regina Lark.
Perpindahan barang dalam jumlah besar ini bukan hanya soal logistik, tetapi juga melibatkan perasaan yang kompleks.
Generasi yang lebih tua berharap barang-barang mereka tetap dihargai, sementara generasi penerus ingin menghormati hal tersebut, tanpa merasa terbebani oleh banyaknya barang yang harus disimpan.
Dengan komunikasi yang terbuka dan perencanaan yang matang, proses ini sebenarnya bisa dijalani dengan lebih ringan. Dr. Regina Lark menjelaskan, bahwa kunci utamanya adalah saling memahami dan mengatur ekspektasi sejak awal.
.jpg)
(Jika bernilai historis simpan barang sebagai kenangan, namun jika menghalangi ruang, bisa dihibahkan atau dijual. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Penting untuk menyadari bahwa yang berpindah bukan hanya kekayaan, tetapi juga volume barang. Seperti yang disampaikan Lark, “Kita mentransfer volume.”
Barang-barang ini adalah benda nyata yang membutuhkan ruang penyimpanan, dan sering kali disertai makna emosional yang dalam, meskipun tidak selalu bernilai secara finansial.
Bagi banyak orang lanjut usia, benda seperti patung Hummel, kartu baseball, piringan hitam, atau perlengkapan pernikahan bukan sekadar barang biasa. Semua itu merepresentasikan perjalanan hidup, kenangan, dan identitas pribadi.
Namun, bagi generasi penerus, menerima barang-barang tersebut bisa terasa seperti tanggung jawab yang berat.
Ada perasaan wajib menghargai, seolah harus menyukai sesuatu hanya karena orang tua menyukainya. Padahal, perbedaan cara pandang antar generasi adalah hal yang wajar.
Perubahan zaman juga memengaruhi cara memandang barang. Banyak produk rumah tangga kini diproduksi massal dan mudah dibeli kapan saja.
Tradisi menjamu tamu pun sudah berubah, karena tidak lagi identik dengan perlengkapan mewah seperti kristal atau taplak meja khusus.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat banyak barang lama menjadi kurang relevan. Gaya hidup generasi muda saat ini juga berbeda.
Banyak yang tinggal di ruang yang lebih kecil, sering berpindah tempat, dan lebih mengutamakan fleksibilitas. Fokusnya bukan lagi pada menumpuk barang, melainkan pada hal-hal yang memiliki makna personal.
Perubahan nilai inilah yang membuat The Great Stuff Transfer menjadi fenomena yang kompleks.
Bukan sekadar soal menerima warisan, tetapi juga tentang menyeimbangkan antara menghargai masa lalu dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Dilansir dari Better Homes and Gardens, para ahli memperkirakan bahwa kekayaan sekitar USD90 triliun akan diwariskan, dari Generasi Silent dan Generasi Baby Boomer kepada ahli waris dalam waktu dekat.
Namun, bentuk warisan ini bukan uang tunai, melainkan barang-barang fisik. Isinya sangat beragam, mulai dari benda kenangan yang punya nilai emosional, perabot rumah, hingga berbagai koleksi pribadi.
Fenomena ini dikenal sebagai The Great Stuff Transfer, istilah yang diperkenalkan oleh pakar organisasi, Dr. Regina Lark.
Perpindahan barang dalam jumlah besar ini bukan hanya soal logistik, tetapi juga melibatkan perasaan yang kompleks.
Generasi yang lebih tua berharap barang-barang mereka tetap dihargai, sementara generasi penerus ingin menghormati hal tersebut, tanpa merasa terbebani oleh banyaknya barang yang harus disimpan.
Dengan komunikasi yang terbuka dan perencanaan yang matang, proses ini sebenarnya bisa dijalani dengan lebih ringan. Dr. Regina Lark menjelaskan, bahwa kunci utamanya adalah saling memahami dan mengatur ekspektasi sejak awal.
Beban emosional
.jpg)
(Jika bernilai historis simpan barang sebagai kenangan, namun jika menghalangi ruang, bisa dihibahkan atau dijual. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Penting untuk menyadari bahwa yang berpindah bukan hanya kekayaan, tetapi juga volume barang. Seperti yang disampaikan Lark, “Kita mentransfer volume.”
Barang-barang ini adalah benda nyata yang membutuhkan ruang penyimpanan, dan sering kali disertai makna emosional yang dalam, meskipun tidak selalu bernilai secara finansial.
Bagi banyak orang lanjut usia, benda seperti patung Hummel, kartu baseball, piringan hitam, atau perlengkapan pernikahan bukan sekadar barang biasa. Semua itu merepresentasikan perjalanan hidup, kenangan, dan identitas pribadi.
Namun, bagi generasi penerus, menerima barang-barang tersebut bisa terasa seperti tanggung jawab yang berat.
Ada perasaan wajib menghargai, seolah harus menyukai sesuatu hanya karena orang tua menyukainya. Padahal, perbedaan cara pandang antar generasi adalah hal yang wajar.
Perubahan zaman juga memengaruhi cara memandang barang. Banyak produk rumah tangga kini diproduksi massal dan mudah dibeli kapan saja.
Tradisi menjamu tamu pun sudah berubah, karena tidak lagi identik dengan perlengkapan mewah seperti kristal atau taplak meja khusus.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat banyak barang lama menjadi kurang relevan. Gaya hidup generasi muda saat ini juga berbeda.
Banyak yang tinggal di ruang yang lebih kecil, sering berpindah tempat, dan lebih mengutamakan fleksibilitas. Fokusnya bukan lagi pada menumpuk barang, melainkan pada hal-hal yang memiliki makna personal.
Perubahan nilai inilah yang membuat The Great Stuff Transfer menjadi fenomena yang kompleks.
Bukan sekadar soal menerima warisan, tetapi juga tentang menyeimbangkan antara menghargai masa lalu dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)