FITNESS & HEALTH

Enggak Semua Luka Berdarah: Ini Dampak Psikologis Pelecehan yang Sering Dianggap 'Biasa Saja'

Yatin Suleha
Kamis 16 April 2026 / 13:08
Ringkasnya gini..
  • Belakangan ini, kasus pelecehan seksual semakin sering muncul dan menjadi perhatian publik.
  • Sayangnya, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berhenti pada kejadian itu saja.
  • Banyak penyintas yang harus menghadapi trauma berkepanjangan, perubahan emosi, hingga gangguan mental.
Jakarta: Belakangan ini, kasus pelecehan seksual semakin sering muncul dan menjadi perhatian publik. Berbagai berita dan cerita dari para penyintas, membuka mata bahwa kejadian ini bisa terjadi di mana saja dan pada siapa saja. 

Sayangnya, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berhenti pada kejadian itu saja, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam. 

Banyak penyintas yang harus menghadapi trauma berkepanjangan, perubahan emosi, hingga gangguan mental yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Dampak ini sering kali tidak terlihat secara langsung, sehingga kerap disalahpahami atau bahkan diabaikan. Padahal, memahami kondisi psikologis penyintas sangat penting, agar mereka bisa mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat. 
 
Dilansir dari Halodoc, berikut adalah delapan dampak psikologis, yang umum dialami oleh penyintas pelecehan seksual.
 

1. Melukai diri sendiri (Self-harm)


Sebagian penyintas mengalami tekanan emosional yang sangat berat, hingga kesulitan mengekspresikan perasaan. Kondisi ini bisa membuat seseorang melukai diri sendiri, sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit yang tidak tersampaikan.
 

2. Disosiasi



(Dalam psikologi atau kesehatan mental, disosiasi menjadi bagian dari respons trauma. Ini merupakan cara alam bawah sadar melindungi diri dari ingatan traumatis (pelecehan, bencana, kecelakaan). Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)

Disosiasi merupakan mekanisme pertahanan diri, yang membuat seseorang seolah “memisahkan” diri dari pengalaman traumatis. Hal ini terjadi, karena otak mencoba melindungi diri dari ingatan yang menyakitkan. 

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa memengaruhi kepribadian dan cara seseorang memandang diri sendiri.
 

3. Serangan panik


Penyintas sering mengalami rasa takut dan cemas, yang muncul tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas. Serangan panik ini bisa terjadi bahkan saat kondisi sebenarnya aman, dan biasanya berkaitan dengan trauma masa lalu.
 

4. Gangguan makan


Trauma akibat kekerasan seksual, dapat memengaruhi hubungan dengan makanan. Beberapa orang mengalami perubahan pola makan secara drastis, baik menjadi berlebihan atau justru sangat membatasi, yang akhirnya berdampak pada kesehatan fisik.
 

5. Gangguan tidur


Kesulitan tidur menjadi salah satu dampak yang cukup sering terjadi. Penyintas bisa mengalami insomnia, mimpi buruk, atau pola tidur yang tidak teratur, seperti tidur terlalu lama atau justru sangat sedikit.
 

6. Munculnya pikiran untuk bunuh diri


Dalam kondisi tertentu, tekanan mental yang berat dapat memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Namun, penting untuk diingat bahwa perasaan ini bisa ditangani dengan bantuan yang tepat, dan dukungan dari orang sekitar sangat dibutuhkan.
 

7. Perubahan emosi dan perilaku


Perasaan tidak aman, mudah marah, rasa malu, bersalah, hingga menarik diri dari lingkungan sosial sering kali muncul. Perubahan ini bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain dan aktivitas sehari-hari.
   

8. Penyalahgunaan zat


Sebagian penyintas mencoba “melarikan diri” dari rasa sakit, dengan menggunakan alkohol atau obat-obatan terlarang. Hal ini justru dapat memperburuk kondisi mental dan fisik, jika tidak ditangani.

Dampak psikologis dari pelecehan seksual tidak boleh dianggap sepele. Dukungan dari lingkungan sekitar serta bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater sangat penting, agar proses pemulihan bisa berjalan dengan lebih baik dan tidak berlarut-larut.


Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH