FAMILY
Trauma Eggshell Parenting? Chill, Kita Re-parenting Sendiri Yuk!
Yatin Suleha
Minggu 31 Mei 2026 / 11:03
- Eggshell parenting itu ibarat bikin anak selalu "siaga satu".
- Karena suasana hati orang tua yang moody dan sulit ditebak. Anak jadi terbiasa berjalan di atas cangkang telur—harus super hati-hati.
- Anak-anak dari pola asuh eggshell parenting bisa merasa cemas hanya karena mendengar suara langkah kaki orang tua.
Jakarta: Eggshell parenting itu ibarat bikin anak selalu "siaga satu". Karena suasana hati orang tua yang moody dan sulit ditebak. Anak jadi terbiasa berjalan di atas cangkang telur—harus super hati-hati biar gak memicu bom waktu.
Sedihnya, siklus ini sering kali terjadi otomatis tanpa disadari, cuma karena orang tua tersebut menduplikasi trauma masa kecil mereka sendiri.
Mengasuh anak memang bisa memunculkan berbagai emosi, bahkan terkadang membuka kembali pengalaman lama yang belum sepenuhnya selesai.
Jika dulu tidak mendapatkan contoh bagaimana mengelola emosi dengan sehat, atau tidak diajarkan cara menghadapi stres, ada kemungkinan pola tersebut terbawa hingga menjadi orang tua. Inilah yang bisa memicu, munculnya perilaku “eggshell parenting” dalam keseharian.
Menyadari adanya pola ini dalam diri sendiri, sebenarnya sudah menjadi langkah awal yang sangat penting. Dengan mengenali tanda-tandanya, ada kesempatan untuk mulai memperbaiki cara berinteraksi dengan anak, agar tidak mengulang pola yang sama.
Dalam beberapa kondisi, dukungan tambahan seperti bantuan dari terapis atau pelatih parenting, juga bisa sangat membantu, terutama untuk mengatasi luka atau pengalaman masa lalu yang masih berpengaruh.
.jpg)
(Bahaya utama dari eggshell parenting berakar pada ketidakpastian emosi orang tua yang merusak rasa aman anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Pernah terlalu protektif atau tumbuh di lingkungan yang toxic secara emosional? Tenang, itu bukan harga mati kok. Kita gak harus terjebak di lingkaran setan yang sama selamanya.
Selalu ada kesempatan buat berbenah dan jadi orang tua yang lebih baik. Kuncinya satu: fokus rawat diri sendiri dulu, baru rawat anak. Karena bagaimanapun, kesehatan mental orang tua dan anak itu selalu sejalan.
Dilansir dari BabyCenter, perubahan bisa dimulai dari hal kecil, seperti lebih sadar terhadap emosi sendiri atau mencoba merespons anak, dengan cara yang lebih tenang.
Namun, jika dirasa perlu, mencari bantuan dari pihak profesional juga merupakan langkah yang wajar dan positif. Keinginan untuk menjadi orang tua, yang lebih baik sudah menjadi langkah besar menuju perubahan.
Proses ini memang tidak selalu mudah dan bisa membutuhkan waktu, tetapi dengan keterbukaan untuk refleksi diri dan kemauan untuk belajar, suasana dalam keluarga bisa menjadi lebih sehat dan nyaman.
Pada akhirnya, perubahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga membawa dampak positif bagi anak-anak dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Sedihnya, siklus ini sering kali terjadi otomatis tanpa disadari, cuma karena orang tua tersebut menduplikasi trauma masa kecil mereka sendiri.
Mengasuh anak memang bisa memunculkan berbagai emosi, bahkan terkadang membuka kembali pengalaman lama yang belum sepenuhnya selesai.
Jika dulu tidak mendapatkan contoh bagaimana mengelola emosi dengan sehat, atau tidak diajarkan cara menghadapi stres, ada kemungkinan pola tersebut terbawa hingga menjadi orang tua. Inilah yang bisa memicu, munculnya perilaku “eggshell parenting” dalam keseharian.
Menyadari adanya pola ini dalam diri sendiri, sebenarnya sudah menjadi langkah awal yang sangat penting. Dengan mengenali tanda-tandanya, ada kesempatan untuk mulai memperbaiki cara berinteraksi dengan anak, agar tidak mengulang pola yang sama.
Dalam beberapa kondisi, dukungan tambahan seperti bantuan dari terapis atau pelatih parenting, juga bisa sangat membantu, terutama untuk mengatasi luka atau pengalaman masa lalu yang masih berpengaruh.
Tidak pernah terlambat untuk mencoba pendekatan baru
.jpg)
(Bahaya utama dari eggshell parenting berakar pada ketidakpastian emosi orang tua yang merusak rasa aman anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Pernah terlalu protektif atau tumbuh di lingkungan yang toxic secara emosional? Tenang, itu bukan harga mati kok. Kita gak harus terjebak di lingkaran setan yang sama selamanya.
Selalu ada kesempatan buat berbenah dan jadi orang tua yang lebih baik. Kuncinya satu: fokus rawat diri sendiri dulu, baru rawat anak. Karena bagaimanapun, kesehatan mental orang tua dan anak itu selalu sejalan.
Dilansir dari BabyCenter, perubahan bisa dimulai dari hal kecil, seperti lebih sadar terhadap emosi sendiri atau mencoba merespons anak, dengan cara yang lebih tenang.
Namun, jika dirasa perlu, mencari bantuan dari pihak profesional juga merupakan langkah yang wajar dan positif. Keinginan untuk menjadi orang tua, yang lebih baik sudah menjadi langkah besar menuju perubahan.
Proses ini memang tidak selalu mudah dan bisa membutuhkan waktu, tetapi dengan keterbukaan untuk refleksi diri dan kemauan untuk belajar, suasana dalam keluarga bisa menjadi lebih sehat dan nyaman.
Pada akhirnya, perubahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang tua, tetapi juga membawa dampak positif bagi anak-anak dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)