FAMILY
Cara Seru Kenalin Puasa ke Anak Sesuai Usia, Moms Wajib Tahu!
A. Firdaus
Kamis 29 Januari 2026 / 12:13
- Anak mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh
- Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan mengendalikan diri.
- Reward dapat menjadi strategi perkembangan.
Jakarta: Memasuki bulan Ramadan, banyak orang tua mulai menantikan momen ketika anak belajar berpuasa. Namun, proses mengenalkan puasa sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan usia, agar anak merasa nyaman dan tidak terbebani.
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi, menekankan bahwa puasa bukan sekadar soal menahan lapar, tetapi bagian dari proses perkembangan anak.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska dilansir Antara.
Menurut Mariska, pemahaman anak tentang puasa akan berbeda di setiap fase usia. Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret. Puasa sebaiknya dikenalkan sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh.
Anak dapat diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi, serta memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Nilai spiritual juga diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa belajar puasa adalah perbuatan baik yang disukai Allah.
Memasuki usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab-akibat. Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.
“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.
Pada tahap ini, anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh, seperti membantu mengatur pola makan. Sementara itu, pada usia sekolah akhir hingga remaja awal, sekitar sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak sudah mampu berpikir lebih reflektif.
Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, tanggung jawab pribadi, dan kesadaran diri. Anak bisa diajak melihat puasa sebagai latihan lengkap untuk menjaga emosi, pikiran, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Mariska menyarankan orang tua untuk mendampingi anak dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Misalnya, mengajak anak menonton film atau video edukatif tentang Ramadan, lalu mendiskusikannya melalui pertanyaan sederhana.
Anak juga bisa diajak mengikuti kegiatan keagamaan ramah anak, seperti dongeng Islami atau kajian singkat di masjid, dengan pendampingan orang tua agar pesan yang diterima tidak terasa berat.
Selain itu, orang tua dapat membantu anak mengalihkan fokus dari rasa lapar melalui aktivitas bermakna, seperti salat bersama, berbagi dengan sesama, atau melakukan kegiatan kreatif.
Sistem hadiah atau reward masih sering digunakan orang tua untuk memotivasi anak belajar puasa. Menurut Mariska, reward dapat menjadi strategi perkembangan, terutama pada usia dini.
Untuk anak prasekolah, hadiah konkret seperti stiker atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga masih relevan, karena anak belum mampu memahami tujuan puasa secara abstrak.
Pada usia sekolah awal, reward masih bisa digunakan, tetapi mulai dikurangi agar tidak bersifat transaksional. Apresiasi lebih diberikan pada perilaku positif, seperti bersabar atau mau berbagi.
Memasuki usia remaja, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan. Penguatan lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri.
“Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” jelas Mariska.
Orang tua juga disarankan menerapkan proses fading, yakni mengurangi reward secara bertahap agar anak beralih dari motivasi hadiah menuju motivasi intrinsik.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi pengalaman yang hangat dan mendidik. Anak tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga memahami nilai spiritual, regulasi emosi, serta kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi, menekankan bahwa puasa bukan sekadar soal menahan lapar, tetapi bagian dari proses perkembangan anak.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska dilansir Antara.
Puasa Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Menurut Mariska, pemahaman anak tentang puasa akan berbeda di setiap fase usia. Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret. Puasa sebaiknya dikenalkan sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh.
Anak dapat diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi, serta memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Nilai spiritual juga diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa belajar puasa adalah perbuatan baik yang disukai Allah.
Memasuki usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab-akibat. Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.
“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.
Pada tahap ini, anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh, seperti membantu mengatur pola makan. Sementara itu, pada usia sekolah akhir hingga remaja awal, sekitar sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak sudah mampu berpikir lebih reflektif.
Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, tanggung jawab pribadi, dan kesadaran diri. Anak bisa diajak melihat puasa sebagai latihan lengkap untuk menjaga emosi, pikiran, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Cara Orang Tua Mendampingi Anak Berpuasa
Mariska menyarankan orang tua untuk mendampingi anak dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Misalnya, mengajak anak menonton film atau video edukatif tentang Ramadan, lalu mendiskusikannya melalui pertanyaan sederhana.
Anak juga bisa diajak mengikuti kegiatan keagamaan ramah anak, seperti dongeng Islami atau kajian singkat di masjid, dengan pendampingan orang tua agar pesan yang diterima tidak terasa berat.
Selain itu, orang tua dapat membantu anak mengalihkan fokus dari rasa lapar melalui aktivitas bermakna, seperti salat bersama, berbagi dengan sesama, atau melakukan kegiatan kreatif.
Reward untuk Anak, Boleh Tapi Bertahap
Sistem hadiah atau reward masih sering digunakan orang tua untuk memotivasi anak belajar puasa. Menurut Mariska, reward dapat menjadi strategi perkembangan, terutama pada usia dini.
Untuk anak prasekolah, hadiah konkret seperti stiker atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga masih relevan, karena anak belum mampu memahami tujuan puasa secara abstrak.
Pada usia sekolah awal, reward masih bisa digunakan, tetapi mulai dikurangi agar tidak bersifat transaksional. Apresiasi lebih diberikan pada perilaku positif, seperti bersabar atau mau berbagi.
Memasuki usia remaja, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan. Penguatan lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri.
“Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” jelas Mariska.
Orang tua juga disarankan menerapkan proses fading, yakni mengurangi reward secara bertahap agar anak beralih dari motivasi hadiah menuju motivasi intrinsik.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi pengalaman yang hangat dan mendidik. Anak tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga memahami nilai spiritual, regulasi emosi, serta kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)