Autisme adalah gangguan perkembangan yang muncul dalam tiga tahun pertama kehidupan dan mempengaruhi perkembangan normal otak, keterampilan sosial, serta komunikasi.
Penelitian ini masih dalam jangka pendek dan kecil, yang meneliti 44 remaja laki-laki dan laki-laki muda autisme berusia 13 hingga 27 tahun. Para ahli menekankan tidak ada yang mengatakan brokoli atau ekstrak kecambah brokoli adalah peluru ajaib untuk autisme.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Ini hanyalah salah satu penelitian, dan penelitian awal," kata pemimpin peneliti, Dr Kanwaljit Singh, dari Massachusetts General Hospital for Children.
Penting untuk dicatat bahwa tidak semua orang merespon terhadap pengobatan ini. Sekitar sepertiga dari responden yang diobati dengan senyawa kecambah brokoli ini tidak memiliki respon positif, kata Kanwaljit. Senyawa itu disebut sulforaphane, secara alami ditemukan dalam brokoli atau sayuran lainnya. Bahan kimia ini telah banyak dipelajari untuk manfaat potensial terhadap kanker.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), Senin (13/10/2014), ini memilih untuk menguji sulforaphane sebagai terapi autisme. Lantas mengapa memilih tunas kecambah brokoli? Menurut Kanwaljit, salah satu alasannya terkait dengan fenomena 'efek demam' yang terlihat pada anak dengan autisme, di mana masalah seperti perilaku berulang memudar ketika anak-anak itu demam.
Para peserta penelitian secara acak ditugaskan mengambil kapsul sulforaphane atau kapsul plasebo identik tampak setiap hari selama 18 pekan. Berdasarkan laporan orang tua mereka, banyak anak laki-laki yang mengonsumsi kapsul sulforaphane mulai menunjukkan perbaikan dalam iritabilitas, perilaku repetitif, hiperaktif, dan komunikasi pada pekan keempat.
Berdasarkan penilaian peneliti, 46 persen dari kelompok sulforaphane menunjukkan peningkatan interaksi sosial hingga pekan ke 18. Sementara 42 persen lainnya bernasib lebih baik dengan komunikasi verbal, dan 54 persen menahan berbagai perilaku 'menyimpang.'
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TTD)
