Adanya perubahan suasana hati atau gejala suasana hati lainnya, seperti depresi. (Foto: : Pexels)
Adanya perubahan suasana hati atau gejala suasana hati lainnya, seperti depresi. (Foto: : Pexels)

Apa itu Gangguan Psikosis?

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 25 Oktober 2019 15:33
Jakarta: Gangguan psikosis merupakan sekelompok penyakit serius yang memengaruhi pikiran. Termasuk gangguan mental yang ditandai dengan diskoneksi dari kenyataan. Akibatnya, akan berisiko pada fokus diri dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
 
Risikonya, yakni menyulitkan Anda untuk berpikir jernih, membuat penilaian yang baik, merespons secara emosional. Selain itu juga menyulitkan ketika berkomunikasi secara efektif, memahami kenyataan, dan berperilaku dengan tepat.
 
Ketika gejalanya semakin parah, orang dengan gangguan psikosis mengalami kesulitan untuk tetap berhubungan dengan kenyataan. Seringkali tidak dapat menangani kehidupan sehari-hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gangguan psikosis terdiri dari beberapa jenis, yakni skizofrenia, schizoafektif, dan skizofreniformis. Kemudian, ada gangguan psikosis singkat, gangguan delusi, psikotik bersama, dan lainnya. Berikut penjelasan sejumlah jenis gangguannya:

1. Gangguan skizofrenia

Orang dengan penyakit ini mengalami perubahan perilaku dan gejala lain. Di antaranya, delusi dan halusinasi, yang bertahan lebih dari enam bulan. Ini biasanya memengaruhi hubungan mereka di tempat kerja atau sekolah.

2. Gangguan schizoafektif

Orang memiliki gejala skizofrenia dan gangguan mood, seperti depresi atau gangguan bipolar.

3. Gangguan skizofreniformis

Ini termasuk gejala skizofrenia. Tetapi gejalanya berlangsung lebih singkat, yaitu antara satu dan enam bulan.

4. Gangguan psikosis singkat

Orang dengan penyakit ini memiliki periode perilaku psikotik yang mendadak dan pendek. Seringkali sebagai respons terhadap peristiwa yang sangat menegangkan, seperti kematian dalam keluarga. Pemulihan seringkali cepat, biasanya kurang dari sebulan.

5. Gangguan delusi

Gejala kuncinya adalah memiliki khayalan yang melibatkan situasi kehidupan nyata yang mungkin benar tetapi tidak. Di antaranya, diikuti, direncanakan, atau memiliki penyakit. Khayalan itu berlangsung setidaknya selama satu bulan.

6. Gangguan psikotik bersama

Penyakit ini terjadi ketika satu orang dalam suatu hubungan memiliki khayalan. Sementara orang lain dalam hubungan tersebut mengadopsinya juga.

7. Gangguan psikotik yang diinduksi zat

Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan atau penarikan obat-obatan, seperti halusinogen dan crack kokain, yang menyebabkan halusinasi, delusi, atau ucapan bingung.

8. Gangguan psikotik karena kondisi medis lain

Halusinasi, delusi, atau gejala lain dapat terjadi karena penyakit lain yang memengaruhi fungsi otak. Seperti cedera kepala atau tumor otak.

9. Paraphrenia

Kondisi ini memiliki gejala yang mirip dengan skizofrenia. Ini dimulai pada usia lanjut, ketika orang sudah lanjut usia.
 
Gejala yang biasa dihadapi penderita gangguan ini ialah halusinasi, delusi, dan bentuk pemikiran yang tidak teratur. Halusinasi berarti melihat, mendengar, atau merasakan hal-hal yang tidak ada.
 
Misalnya, seseorang mungkin melihat hal-hal yang tidak ada di sana, mendengar suara-suara, mencium bau, memiliki rasa menggelitik di mulut mereka, atau merasakan sensasi di kulit mereka, meskipun tidak ada yang menyentuh tubuh mereka.
 
Delusi adalah keyakinan salah yang tidak hilang, bahkan setelah mereka terbukti salah. Sebagai contoh, seseorang yang yakin makanannya diracuni, bahkan jika seseorang telah menunjukkan kepada mereka bahwa makanannya baik-baik saja, mereka memiliki khayalan sendiri.
 
Gejala lain yang mungkin dari penyakit psikosis, yang mencakup pidato yang tidak teratur atau tidak koheren, pemikiran bingung. Begitu juga adanya perilaku aneh yang mungkin berbahaya bagi orang lain dan dirinya sendiri.
 
Kemudian, gerakan lambat atau tidak biasa, kehilangan minat pada kebersihan diri, hilangnya minat dalam beraktivitas, masalah hubungan pertemanan di sekolah atau di tempat kerja. Sikap yang dingin tapi terpisah dengan ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi.
 
Adanya perubahan suasana hati atau gejala suasana hati lainnya, seperti depresi. Gejala selanjutnya, orang tidak selalu memiliki gejala yang sama dan mereka dapat berubah seiring waktu pada orang yang sama.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif