Pasangan dapat melewatkan waktu berdua selama 15 menit sehari tanpa gangguan gawai. (Foto: Asad Photo Malvis/Pexels)
Pasangan dapat melewatkan waktu berdua selama 15 menit sehari tanpa gangguan gawai. (Foto: Asad Photo Malvis/Pexels)

Penyebab Matinya Gairah dalam Hubungan dan Cara Mengatasinya

Rona seks gaya
Anda Nurlaila • 29 Oktober 2019 18:05
Jakarta: Semua pasangan pernah merasakan tidak seimbang antara gairah mereka dengan pasangan, atau bisa juga sebaliknya. Ada saat kita merasa sangat bergairah, justru pasangan tidak menginginkan seks sama sekali.  
 
Jika sesekali salah satu pasangan merasakan "gairah seks yang mati" merupakan sesuatu yang sangat normal. Tapi pada sebagian pasangan, hal ini sangat nyata dan berlangsung terus menerus.
 
"Hubungan kamar yang mati secara klinis didefinisikan sebagai pasangan yang berhubungan seks kurang dari enam kali dalam setahun," terapis seks di New York City Holly Richmond mengatakan kepada Health.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski sangat umum terjadi, matinya seks bisa subjektif dan tergantung pandangan masing-masing pasangan mengenai tidak berhubungan seksual. Sebagian pasangan menganggap diri mereka dalam fase ini jika hubungan seks hanya terjadi sekali seminggu. Sementara yang lainnya menyebut tidak ada hubungan seks dalam dua bulan.
 
Subreddit r/DeadBedroom dengan lebih dari 165.000 anggota mengumpulkan pasangan tanpa kehidupan seks. Dari hasil pengumpulan unggahan diketahui ada masalah hubungan yang mendasari fenomena ini. Yakni pasangan lebih jarang melakukan aktivitas seksual daripada yang diinginkan oleh satu atau kedua pasangan.
 
Mengapa begitu banyak pasangan memiliki hubungan seksual yang dingin? Richmond menjelaskan penyebabnya beragam. Salah satu yang paling umum adalah perkembangan alami dari hubungan jangka panjang. Semakin lama hubungan, fase bulan madu dan berhubungan seks sepanjang waktu mereda.
 
"Pasangan banyak mengakui mengalami hubungan seks yang luar biasa dan sering di awal hubungan, tapi seiring semakin lama hubungan mereka tidak melakukan apa pun," kata Richmond.
 
Hal tersebut kata Richmond adalah sesuatu yang normal. Namun pasangan harus berupaya agar menjaga percikan gairah tetap menyala.
 
"Ciptakan otonomi, ruang, dan hal baru dalam hubungan Anda untuk memperbaikinya. Tapi pasangan sering tidak bekerja cukup keras untuk menjaga hasrat tetap hidup. Akibatnya salah satu pasangan merasa ditolak selama beberapa bulan atau tahun. Akibatnya pasangan berhenti berinisiatif dan terjebak dalam siklus kebiasaan," tutur Richmond.
 
Faktor penyebab lain yang memengaruhi keintiman adalah stres terkait pekerjaan, obat penurun libido, penyakit kronis, dan cedera. Semakin bertambah usia merupakan alasan utama pudarnya hasrat seksual di antara pasangan.
 
“Memiliki bayi baru lahir melelahkan bagi kedua orang tua, terutama wanita yang sulit menyeimbangkan kehidupan pribadi dan merawat bayi," katanya. 
 
Untuk itu, setelah kelahiran anak, pasangan perlu ruang khusus untuk mempertahankan gairah tanpa kehadiran bayi. Ada beberapa cara yang dapat Anda dan pasangan lakukan untuk mengatasinya.
 
"Tumbuhkan erotisme, dan itu tidak berarti seks. Erotisme bisa menjadi kekuatan, energi dan koneksi dalam hubungan," kata Richmond.
 
Dia menyarankan pasangan untuk melewatkan waktu berdua selama 15 menit sehari tanpa gangguan gawai. Tidak perlu berhubungan seks, tapi memulai kembali hubungan dengan terlibat mendapatkan percakapan bermakna dan saling menghargai.
 
"Buka jalur komunikasi lagi. Bertanya satu sama lain bagaimana perasaan mereka tentang kehidupan seks mereka saat ini, daripada saling menuduh adalah cara terbaik memulainya," tutup Richmond.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif