Menurut peneliti Myers dan rekan penulisnya, Sarah E. Johns, Ph.D., ada hubungan antara jenis kelamin bayi dan komplikasi persalinan. (Foto: Zach Lucero/Unsplash.com)
Menurut peneliti Myers dan rekan penulisnya, Sarah E. Johns, Ph.D., ada hubungan antara jenis kelamin bayi dan komplikasi persalinan. (Foto: Zach Lucero/Unsplash.com)

Kelahiran Bayi Laki-laki Tingkatkan Risiko Depresi Pascamelahirkan?

Rona studi kesehatan
Dhaifurrakhman Abas • 20 November 2018 11:18
Jakarta: Sebuah studi di Inggris menghubungkan peningkatan risiko depresi pascamelahirkan (Postpatrum) pada perempuan yang melahirkan bayi laki-laki.
 
Hasil studi menemukan kemungkinan resiko Postpatrum condong lebih besar 71-79 persen pada kelahiran bayi kelahiran laki-laki ketimbang perempuan.
 
“Proses kelahiran bayi laki-laki juga memiliki resiko komplikasi selama persalinan dan melahirkan sebesar 174 persen. Para peneliti mempelajari sejarah reproduksi 296 perempuan melalui survei,” kata Sarah Myers, Ph.D., mitra penelitian honorer University College London department of Anthropology.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak 296 responden dalam penelitian ini diminta untuk melaporkan sendiri perasaan depresi setelah kelahiran bayi. Para responden juga diminta menjawab pertanyaan tentang persalinan dan pengalaman ketika melahirkan.
 
"Karena data kami memiliki informasi tentang sejarah reproduksi wanita yang lengkap, kami dapat melihat perbedaan antara semua kelahiran seorang ibu. Tidak hanya wanita yang kebetulan melahirkan pada waktu tertentu," ujar Myers.
 
Dalam studi tersebut, Myers dan rekan penulisnya, Sarah E. Johns, Ph.D., mencari beberapa faktor penyebab resiko depresi postpatrum. 
 
Menurutnya ada hubungan antara jenis kelamin bayi dan komplikasi persalinan dengan peningkatan risiko preeklampsia dan diabetes gestasional.
 
(Baca juga: Depresi Pasca Melahirkan Mengintai Para Ibu)
 
Kelahiran Bayi Laki-laki Tingkatkan Risiko Depresi Pascamelahirkan?
(Menurut Myers dan rekan penulisnya, Sarah E. Johns, Ph.D., ada hubungan antara jenis kelamin bayi dan komplikasi persalinan dengan peningkatan risiko preeklampsia dan diabetes gestasional. Foto: Jenna Norman/Unsplash.com)
 
“Keduanya melibatkan sistem kekebalan tubuh," Myers menjelaskan.
 
Meskipun mengasumsikan ada kemungkinan postpatrum lebih tinggi, namun hasil penelitian tersebut belum final. Myers menambahkan, bahwa penelitian mengenai depresi telah menunjukkan faktor tambahan yang mungkin meningkatkan risiko.
 
“Sehingga perlu penelitian lebih lanjut,” ungkapnya.
 
Pada saat yang sama, Kecia Gaither, direktur pelayanan perinatal di NYC Health Hospitals/Lincoln mengatakan penelitian ini menjadi dasar kuat untuk eksplorasi topik penting dalam perawatan perinatal. Meskipun hal ini juga memicu beberapa pertanyaan yang mesti diuji.
 
“Pertama, itu diselesaikan secara retrospektif pada wanita yang lahir sebelum 1966. Perawatan yang berhubungan dengan kehamilan jauh berbeda dari sekarang. Kedua, penelitian ini tidak mengambil informasi tentang komorbiditas medis dan mental subyek.”
 
Meski Begitu, Kecia mengapresiasi penelitian ini. Menurutnya penelitian ini bisa membantu mengungkap metodologi skrining spesifik atau terapi obat untuk mencegah perkembangan depresi postpartum pada perempuan pascamelahirkan.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif