Mendengarkan musik cenderung membuat seseorang senang, atau dikenal dengan valensi positif, dan meningkatkan gairah.
Menurut studi yang dipublikasikan secara daring dalam PLOS ONE tersebut, aktivitas tersebut lebih membantu partisipan mencari solusi kreatif dibandingkan mendengarkan keheningan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Kami juga menguji beberapa cuplikan musik lain seperti musik sedih, cemas, dan tenang. Namun, efek tersebut tak terlihat. Jenis musik tampaknya juga penting, tak hanya musiknya," ujar peneliti Sam Ferguson.
Meskipun belum jelas mengapa menimbulkan kreativitas, para peneliti menemukan bahwa musik bahagia dapat membantu meningkatkan fleksibilitas dalam berpikir. Tak hanya memunculkan ide baru, musik tersebut juga membantu pendengar mempertimbangkan gagasan yang tak terpikirkan saat melakukan tugas dalam suasana hening.
Studi tersebut meminta 155 partisipan melengkapi kuesioner sebelum dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka diminta melakukan beberapa tugas kognitif seperti mendengarkan beberapa jenis musik (valensi positif / negatif dan gairah tinggi / rendah), atau keheningan total.
Hasilnya, kombinasi dari valensi positif dan gairah tinggi, yang dikenal sebagai "musik bahagia", sangat optimal untuk meningkatkan kreativitas para partisipan.
Keempat bagian yang digunakan, masing-masing mewakili kondisi yang berbeda, adalah Carnival of the Animals:XIII The Swan (Camille Saint-Saen) untuk kategori tenang, 4 Seasons (Vivaldi) untuk kategori bahagia, Adagio for String Op. 11 (Samuel Barber) untuk kategori sedih; dan The Planets: Mars, Bringer of War (Gustav Holst) untuk kategori cemas.
Penelitian tersebut terinspirasi dari 'efek Mozart; kepercayaan dimana mendengarkan musik klasik lebih meningkatkan kreativitas dibandingkan tak mendengarkan musik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(ELG)
