"Pertama, ada motorik, baik motorik halus dan kasar. Kedua, sensorik, lalu kognitif. Berikutnya lagi ada sosial, bagaimana cara bersosialisasi," ujar Dr. Jo kepada Medcom.id.
Keempat hal tersebut menuntun orang tua untuk melatih seluruh indera terangsang untuk selanjutnya terstimulasi. Banyak cara yang bisa dilakukan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Stimulasi pun bisa dilakukan kapan saja, bahkan setelah lahir beberapa hari. Tapi, caranya berbeda, tergantung setiap umur anak. Anda harus bisa memahami kapan waktunya untuk setiap tahapan.
(Baca juga: Pentingnya Baby Massage)

(Stimulasi motorik halus dan kasar, sensorik, lalu kognitif sangat perlu bagi si kecil. Tahapan ini tak boleh terlewati. Foto: Gift Habeshaw/Unsplash.com)
Melatih stimulasi tanpa mainan
Untuk menstimulasi bayi, Anda dapat melakukannya tanpa mainan. Kuncinya, upayakan bagaimana bayi harus mampu mengangkat kepalanya, tengkurap, telentang, duduk, berdiri, merambat, hingga berjalan.
Perlu diingat, tahapan tersebut tidak boleh dilompati. Sementara itu, dari empat jenis stimulasi, motorik merupakan upaya menggerakkan bayi secara langsung untuk aktif.
"Seperti tengkurap, mendudukan bayi juga bisa tarik tangannya perlahan. Kalau sensorik atau sentuhan, bisa dengan mengajak bicara atau tersenyum," paparnya.
Anda juga bisa membiasakan memanggil nama bayi. Pada usia enam bulan ke atas bisa ditunjukkan warna dan suara sebagai objek melatih respons bayi.
Kalau kognitif, Anda melatih gerakannya. Bisa dengan mengajak bayi mencari atau bunyikan barang.
"Kalau bayi sudah bisa makan, Anda bisa juga mengajarkannya nama-nama buah atau benda di sekitar makanannya. Kemudian, buatlah bunyi-bunyian misalnya dari piring dan sendok," tutur Dr. Jo.
Terakhir, sosial. Jangan pernah takut memperkenalkan bayi Anda dan membiarkannya berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan, ketika bayi digendong oleh orang lain bisa menjadi cara dia belajar bersosialisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
