Jumpa pers pembukaan Merah! Merah! Anime Japan!! (Foto: Medcom/Basuki)
Jumpa pers pembukaan Merah! Merah! Anime Japan!! (Foto: Medcom/Basuki)

MMAJ Jakarta 2026, Surga Baru Pencinta Anime dan Budaya Jepang di Indonesia

Basuki Rachmat • 30 Mei 2026 18:41
Ringkasnya gini..
  • MMAJ Jakarta 2026 resmi digelar di Gandaria City, menghadirkan festival budaya Jepang dengan puluhan IP populer dan akses gratis.
  • MMAJ Jakarta 2026 tak hanya untuk penggemar anime, tetapi juga membuka peluang kolaborasi bisnis dan licensing Indonesia-Jepang.
  • Sukses menarik 100 ribu pengunjung di India, MMAJ kini membidik Indonesia sebagai pasar potensial industri kreatif Jepang.
Jakarta: Panggung festival budaya Jepang berskala internasional resmi menyapa Jakarta. Merah! Merah! Anime Japan!! Executive Committee berkolaborasi dengan sejumlah mitra strategis meluncurkan festival Merah! Merah! Anime Japan!! (MMAJ) Jakarta 2026 yang digelar pada 30–31 Mei 2026 di Gandaria City, Jakarta Selatan.
 
​Tak sekadar menjadi ajang hura-hura bagi para pencinta pop kultur Jepang, MMAJ Jakarta 2026 sengaja didesain sebagai platform kolaborasi kreatif dan bisnis yang menjembatani industri kreatif Indonesia dan Jepang melalui intellectual property (IP) resmi, serta pertukaran budaya (cultural exchange).
 
​"MMAJ adalah kombinasi antara kekuatan IP dan dunia entertainment yang dilebur dalam satu panggung. Tujuan utama kami membawa festival ini ke Indonesia adalah untuk membangun platform kokoh yang menghubungkan aspek budaya, entertainment, sekaligus membuka peluang kolaborasi industri yang nyata antara Jepang dan Indonesia," ujar Takayuki Yamanaka, Co-Founder MMAJ Jakarta, saat sesi jumpa pers di Gandaria City, Sabtu, 30 Mei 2026.  

Sukses di India, Kini Bidik Pasar Potensial Indonesia

Sebelum mendarat di Jakarta, konsep festival MMAJ telah lebih dulu mendulang sukses besar di India pada edisi 2024 dan 2025 dengan total raihan mencapai 100 ribu pengunjung.

Indonesia kemudian dipilih sebagai destinasi ekspansi berikutnya karena memiliki basis penggemar budaya Jepang yang masif, ekosistem komunitas kreatif yang dinamis, serta pasar generasi muda yang terus bertumbuh.
 
"Saya sendiri juga sudah tahu antusiasme dari masyarakat Indonesia terhadap IP atau konten Jepang itu sangat tinggi sekali. Dan dua tahun yang lalu saya memulai event ini di India, dan sekarang akhirnya ada kesempatan bisa datang ke Jakarta dan menyelenggarakan acara MelaMela Anime Japan. Itu sebuah kebahagiaan bagi saya juga," tutur Takayuki.
 
Sementara itu, Tomoki Hasegawa selaku perwakilan dari Buzznesia menceritakan awal mula ketertarikannya memboyong festival ini ke tanah air.
 
​"Tujuan utamanya sebenarnya sederhana. Ini bukan sekadar perkara bisnis ekspor-impor. Saya pribadi yang mengunjungi MMAJ di India merasa sangat tereksitasi. Saat itu langsung terpikir bahwa suatu hari saya harus membawa MMAJ ini ke Indonesia," kata Tomoki.
 
Meski berawal dari ketertarikan secara personal, Tomoki menegaskan aspek penguatan bisnis tetap menjadi pilar utama. Berbeda dengan festival pop culture biasa yang mayoritas hanya menyasar skema Business to Customer (B2C), MMAJ Jakarta 2026 melangkah lebih jauh dengan membuka ruang Business to Business (B2B).
 
"Jadi kalau menceritakan tentang MMAJ, itu tidak bisa keluar dari jalur bisnis tentunya. Jadi gimana caranya antusiasme yang sebegitu tinggi di masyarakat Indonesia terhadap Jepang bisa connect ke bisnis dari sisi marketing maupun sisi IP dan sisi entertainment juga. Itu adalah salah satu PR dan juga tujuan yang mau mengadakan ini di Indonesia. Kali ini, tidak hanya B2C (Business to Customer) untuk fans saja, tapi dengan bantuan SMBC dan Jetro, kita mewujudkan B2B (Business to Business) juga di dalam acara event ini," lanjutnya.  

Kolaborasi Lintas Institusi dan Bertabur IP Terkenal

MMAJ Jakarta 2026 mencatatkan diri sebagai salah satu platform official Japanese IP pertama di Indonesia yang didukung penuh oleh institusi lintas negara. Mulai dari Japan Foundation, Japan External Trade Organization (JETRO), Japan National Tourism Organization (JNTO), Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, EKRAF, SMBC, hingga raksasa media lokal CT Corp.
 
​Beragam aktivitas interaktif dihadirkan untuk memanjakan pengunjung, mulai dari movie screening, pertunjukan musik langsung (live performance), cosplay showcase, berbagai lokakarya (workshop), talkshow, hingga area kuliner dan berburu merchandise orisinal.
 
Sejumlah IP populer seperti Chibi Maruko-chan, Phantom Baby, Ponkotsu Quest - The Demon Lord and the Temp Monsters, Kikipuppup, Rooster Fighter, Ultraman, Savior of Divine Blood, Doraemon, Haikyu!!, Mobile Suit Gundam, Sanrio, Pokémon, dan masih banyak IP populer lainnya.
 
Menurut penyelenggara, Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar paling potensial di Asia Tenggara bagi industri Japanese entertainment dan licensing, didukung oleh populasi muda yang besar serta tingginya antusiasme terhadap budaya Jepang. Karena itu, MMAJ diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi kerja sama bisnis, licensing, hingga kolaborasi kreatif lintas negara.
 
"Kami melihat peluang besar untuk mempertemukan pemilik IP Jepang dengan partner, brand, dan komunitas di Indonesia dalam ekosistem yang lebih berkelanjutan," ujar Putri Tanjung dari CT Corp sebagai salah satu penyelenggara.
 
Dukungan serupa juga mengalir dari pihak EKRAF. Mereka menilai MMAJ Jakarta 2026 dapat memicu proses knowledge exchange dan membuka peluang co-creation agar kreator serta studio lokal bisa naik kelas ke pasar global setelah terhubung langsung dengan para pemegang hak paten kekayaan intelektual internasional.
 
Guna menjangkau masyarakat yang lebih luas, mulai dari komunitas anime, pelaku industri, hingga generasi muda urban, pihak penyelenggara mengemas MMAJ Jakarta 2026 dengan konsep gratis tanpa pungutan biaya masuk (free admission).
 
Lewat langkah awal ini, promotor berharap festival MMAJ Jakarta dapat bertransformasi menjadi agenda tahunan yang konsisten, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai hub industri kreatif dan kebudayaan pop terbesar di Asia Tenggara.
 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA