Paparan sinar UVC dianggap dapat menyebabkan reaksi alergi bahkan gangguan penglihatan selama beberapa waktu. (Ilustrasi/Pexels)
Paparan sinar UVC dianggap dapat menyebabkan reaksi alergi bahkan gangguan penglihatan selama beberapa waktu. (Ilustrasi/Pexels)

Sinar UVC Dianggap Dapat Menyebabkan Alergi Bahkan Gangguan Penglihatan

Rona covid-19 disinfektan
Raka Lestari • 25 Juli 2020 14:41
Jakarta: Beberapa waktu lalu, di media sosial Instagram beredar informasi mengenai bahaya dari sinar UVC. Biasanya sinar UVC sendiri digunakan sebagai disinfektan ruangan. Seperti di rumah sakit atau ruangan kelas.
 
Namun, pada informasi tersebut, paparan sinar UVC dianggap dapat menyebabkan reaksi alergi bahkan gangguan penglihatan selama beberapa waktu. 
 
Dilansir dari International Ultraviolet Associaton (IUVA), sinar UVC telah digunakan secara luas selama lebih dari 40 tahun dalam mendisinfeksi air minum, air limbah, udara, produk farmasi, dan permukaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti halnya sistem desinfeksi, perangkat UVC harus digunakan dengan benar agar aman. Pada umumnya, alat disinfeksi menghasilkan jumlah sinar UVC yang bervariasi dalam panjang gelombang 200nm-280nm.
 
Menurut IUVA, sinar UVC jauh lebih kuat dari sinar matahari normal dan dapat menyebabkan reaksi seperti terbakar sinar matahari yang parah pada kulit Anda. Jika terkena mata, bisa tertuju pada kornea mata. Efek pada kornea disebut photokeratitis atau efek seperti sunburn pada mata. 
 
“Konsumen harus menyadari bahwa sinar Ultraviolet-C (UV-C) merupakan jenis energi cahaya khusus yang sangat berbeda dari LED dan bentuk cahaya lainnya. Paparan langsung terhadap radiasi Ultraviolet-C (UV-C) harus dihindari. Kami ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan masyarakat bahwa pencahayaan Ultraviolet-C (UV-C) disertai dengan peringatan keselamatan penting yang harus diikuti,” ujar Lea Indra, Head of Integrated Communication Signify Indonesia. 
 
Ia juga menegaskan bahwa produk UV-C tidak boleh dinyalakan ketika ada orang atau hewan di dalam ruangan. “Produk UV-C harus dioperasikan di ruangan tertutup untuk meminimalisir resiko paparan. Tindakan keselamatan ini membantu pengguna menghindari paparan langsung terhadap mata dan kulit dari produk tanpa lapisan pelindung,” ujar Lea. 
 
“Kami menyarankan pelanggan untuk senantiasa berhati-hati dan mengikuti instruksi keselamatan spesifik pada masing-masing produk,” tambah Lea.
 
“Lampu UV-C yang berdiri sendiri (tanpa rumah lampu atau tanpa luminer) tidak boleh dijual di pasar konsumen dan market place. Untuk kanal konsumen, lampu lampu ini diintegrasikan ke dalam fikstur yang dilengkapi dengan perangkat keselamatan seperti sensor kehadiran, alarm dan pengatur waktu,” tutupnya.
 

 
(YDH)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif