Namun akhir-akhir ini banyak remaja Amerika Serikat yang justru malah mengonsumsinya dan menamakannya sebagai "Tide pod challenge".
Tidak ada yang mengetahui bagaimana tantangan ini dimulai, namun banyak orang mengatakan bahwa tantangan ini sangat membahayakan. U.S. Consumer Product Safety Commission menerbitkan larangan bahwa kemasan deterjen yang menarik bagi anak-anak muda namun memiliki konsentrasi deterjen beracun yang sangat tinggi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang buruk.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Anak-anak yang pernah menelan deterjen dari kemasan tersebut membutuhkan perawatan medis dan rawat inap karena kehilangan kesadaran, muntah berlebihan, kantuk, pembengkakan tenggorokan, dan sulit bernafas.
Menurut American Association of Poison Control Centers berkat adanya tantangan ini laporan kejadian mengenai keracunan pun meningkat. Menurut data AAPCC, sebanyak 53 orang diamankan ketika melakukan tantangan ini. Dan di tahun 2018 ini, sudah terjadi sekitar 39 kasus remaja berusia 13-19 tahun yang melakukan tantangan ini.

(Belum lama ini ada sebuah challenge baru di Amerika yang cukup bebahaya, "Tide pods challenge" namanya. Tide pods adalah kantung kecil berisi deterjen yang dimasukkan ke dalam mesin cuci untuk membersihkan pakaian. Foto: Courtesy of Mashable.com)
(Baca juga: Efek Pass-out Challenge, dari Merasa Fly Hingga Kematian)
"Aku pikir salah satu masalah di sini adalah bahwa orang tidak menyadari konsekuensi dari tren gila ini dan benar-benar perlu memahami bahaya dari melakukan hal ini," kata Jennifer Wider, M.D, pakar kesehatan wanita.
"Ada konsekuensi kesehatan yang nyata dari mengonsumsi Tide pods challenge ini." Cairan yang berada di dalam Tide pods itu beracun, kata Wider dan bisa membakar mulut atau menyebabkan muntah, masalah pernapasan, kehilangan kesadaran, atau bahkan kematian.
Mengapa tetap dilakukan?
Ada sebuah pemahanan bahwa challenge harus ditaklukan. Menurut psikolog anak, remaja, serta keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi, dari Universitas Maranatha, Bandung mengatakan bahwa ada budaya kolektif dan aktualisasi diri yang menyebabkan seseorang melakukan sebuah challenge.
"Ada budaya kolektivistik dengan demikian maka orang-orang mudah mengikuti kegiatan, aktivitas, ataupun tren. Demam challenge di dunia sosial merupakan salah satu bentuk konformitas," jelas Efnie.
"Individu tertantang untuk melakukannya," tambah ibu satu anak ini. "Kegiatannya akan dilihat oleh banyak orang dan bahkan tidak jarang mengundang komentar. Maka perhatian yang diperoleh dari orang-orang tadi dipersepsi oleh individu tersebut bahwa ia sudah aktualisasi diri," jelas Efnie. Namun perlu diingat tindakan tersebut tidak untuk ditiru karena challenge tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
