Sementara, sebuah penelitian tahun 2009 menyebutkan bahwa gangguan cerna ringan yang biasanya dialami oleh anak antara lain regurgitasi atau gumoh (71,5 persen), kembung (36 persen) dan konstipasi (15persen).
"Sementara untuk orangtua yang mendatangi dokter karena anak mengalami gangguan karena regurgitasi sebanyak 80 persen, kolik 70 persen, dan konstipasi 22 persen," tambah Dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) dalam acara bincang Nutricia: 7 Kehebatan Perut, Kamis (23/3/2017).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia menjelaskan, bahwa gangguan cerna tersebut nantinya akan berdampak pada si kecil dan orangtua. Anak akan kesulitan untuk mendapatkan nutrisi, baik lewat ASI untuk bayi atau makanan karena rasa tak nyaman.
Sementara, orangtua juga akan terpengaruh secara emosional dimana stres, depresi, dan cemas karena harus mengurusi anak saat sakit dan khawatir dengan keadaan buah hati.
Namun, orangtua tidak perlu terlalu cemas jika anak mengalami gangguam pencernaan karena ini adalah hal yang wajar dalam fase pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama di masa periode emas 1.000 hari.
"Tetap tenang dan jangan melakukan hal yang berbahaya," saran dr. Hegar.

(Baca juga: Bahayakah Bayi Sering Gumoh?)
Ia menyarankan, agar bagi bayi yang masih menyusui, pemberian ASI tetap diberikan meskipun anak mengalami gangguan perut karena itu adalah sumber nutrisi utama bagi bayi karena belum bisa mendapatkannya dari luar.
Beberapa jenis makanan bernutrisi juga biaa digunakan untuk mengurangi gejala gangguan pencernaan, seperti penggunaan susu formula yang dikentalkan untuk mengurangi regurgitasi dan kandungan rendah laktosa untuk mengurangi kejadian kembung.
Pemberian serat yang cukup juga tak kalah penting untuk mengurangi kemungkinan terjadi konstipasi, terutama saat pemberian makanan peralihan ke makanan keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
